Strategi yang Lebih Baik untuk Penanggulangan Demam Berdarah Dengue
Foto: National Institute of Allergy and Infectious Diseases di Unsplash.
Demam berdarah dengue merupakan salah satu penyakit yang merebak hampir sepanjang waktu. Setiap tahun, di banyak tempat, penyakit ini selalu menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat dan tidak sedikit pengidapnya meninggal dunia—terutama anak-anak. Pada awal tahun 2024, 316 orang di Indonesia meninggal dunia akibat penyakit ini. Mengingat risiko dan dampak kesehatan yang terus berulang, diperlukan strategi yang lebih kuat, efektif, dan sesuai dengan kondisi lokal dan perkembangan ilmu pengetahuan untuk menanggulangi penyakit ini.
Sekilas tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan oleh virus dengue yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Penyakit yang sering merebak di musim hujan ini merupakan salah satu momok kesehatan masyarakat, dan tingkat penyebarannya di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. Secara umum, negara-negara beriklim tropis dan subtropis beresiko tinggi terhadap penularan penyakit ini.
Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal pada bagian kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari meskipun terkadang juga menggigit pada malam hari. Nyamuk ini lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk dibanding di luar rumah yang panas. Selain DBD, nyamuk yang tergolong spesies invasif ini juga dapat menjadi vektor demam zika, chikungunya, dan demam kuning.
Gejala utama DBD meliputi demam tinggi, nyeri kepala, menggigil, lemas, nyeri di belakang mata, otot, dan tulang, ruam kulit kemerahan, kesulitan menelan makanan dan minuman, mual, muntah, gusi berdarah, mimisan, timbul bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah, dan kotoran berwarna hitam. Pada fase kritis penyakit ini, suhu tubuh penderita akan menurun dan tubuh terasa dingin—dan penderita mungkin merasa seperti sudah sembuh. Namun, fase ini perlu diwaspadai karena dapat terjadi sindrom syok dengue (DDS) yang dapat menyebabkan kematian, yang ditandai dengan muntah terus-menerus, kaki dan tangan dingin dan lembab, nadi melemah, dan urine sedikit.
Demam Berdarah Dengue di Indonesia
Tahun 2024 menjadi tahun dimana DBD kembali “mengganas” di Indonesia. Kabar menyedihkan tentang penyakit ini datang dari berbagai penjuru. Di Jawa Barat, misalnya, 71 anak meninggal dunia karena penyakit ini dari total 95 kematian di provinsi tersebut. Di Jawa Tengah, 90 orang telah meninggal dunia, membuat sejumlah kabupaten/kota di provinsi tersebut menerapkan status “Darurat DBD”. Sementara itu, di Kendari, Sulawesi Tenggara, 10 orang meninggal dunia dan 43 orang masih dirawat di rumah sakit.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, kasus DBD tahun 2024 meningkat dua kali lipat lebih dibanding tahun sebelumnya. Pada dua bulan pertama saja, kasus DBD mencapai 38.462 dengan total 316 kematian di seluruh Indonesia. Lima daerah dengan kasus kematian tertinggi yaitu Jepara (17 kematian), Bandung (14 kematian), Subang (13 kematian), Kendal (13 kematian), dan Blora (9 kematian). Adapun lima provinsi dengan kasus tertinggi adalah Jawa Barat (10.428 kasus), Jawa Timur (3.638), Jawa Tengah (3.152), Sulawesi Utara (2.763), dan Kalimantan Tengah (2.309).
Kemenkes menyebut bahwa perubahan curah hujan dan fenomena El Niño yang semakin sulit diprediksi akibat pemanasan global turut berkontribusi terhadap peningkatan kasus DBD dalam beberapa tahun terakhir. “Karena ada El Nino pergeseran dari musim kemarau ke musim hujan menjadi memanjang, makanya demam berdarah terjadi peningkatan. Cuaca panas juga menyebabkan siklus hidup nyamuk sejak dalam telur hingga dewasa tumbuh lebih cepat,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Upaya yang Telah Dilakukan
Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Strategi Nasional Penanggulangan DBD 2021-2025 yang memuat enam strategi, yaitu:
- Penguatan manajemen vektor yang efektif, aman, dan berkesinambungan.
- Peningkatan akses dan mutu tata laksana dengue (DBD).
- Penguatan surveilans dengue yang komprehensif serta manajemen Kejadian Luar Biasa (KLB) yang responsif.
- Peningkatan pelibatan masyarakat secara berkesinambungan.
- Penguatan komitmen pemerintah, kebijakan manajemen program, dan kemitraan.
- Pengembangan kajian, invensi, inovasi, dan riset sebagai dasar kebijakan dan manajemen program berbasis bukti.
Selain itu, pemerintah juga telah melakukan upaya pencegahan DBD dengan kampanye 3M Plus serta pemberian vaksin DBD di berbagai daerah. Namun, terlepas dari berbagai kebijakan dan upaya yang telah dilakukan, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan yang serius dan jumlah kasusnya cenderung meningkat setiap tahun. Menurut WHO, sekitar setengah dari populasi dunia kini berisiko terkena demam berdarah dengan perkiraan 100–400 juta infeksi setiap tahunnya, termasuk di Indonesia.
Memperkuat Strategi
Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih kuat, efektif, dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kondisi lokal untuk menanggulangi DBD. Memperkuat sistem pencegahan primer, mengintensifkan program pengendalian vektor, meningkatkan akses layanan kesehatan, meningkatkan penelitian dan pengembangan vaksin, serta memperkuat sistem pemantauan dan pelaporan dapat menjadi langkah-langkah yang krusial dan menentukan.
Kerjasama lintas sektor antara pemerintah, lembaga kesehatan, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat sipil sangat penting dalam menyelenggarakan program-program penanggulangan DBD secara terintegrasi dan efektif. Terakhir namun tidak kalah penting, seluruh kebijakan dan upaya penanggulangan DBD mesti dilakukan dengan mempertimbangkan perspektif GEDSI (Kesetaraan Gender, Keberagaman, dan Inklusi Sosial) agar dampak yang diharapkan dapat lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan, tanpa meninggalkan seorang pun di belakang.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan