Bumi Kian Kritis dan Ajakan untuk Menjaga Bumi Setiap Hari
20 April 2023
Foto: Matt Palmer di Unsplash.
Bumi kita semakin kritis akibat perubahan iklim. Cuaca ekstrem, degradasi lahan, krisis pangan dan air bersih, hingga penurunan keanekaragaman hayati dan ekosistem, adalah segelintir dampak perubahan iklim yang kita rasakan hari ini. Karenanya, Hari Bumi Sedunia mesti menjadi momentum bagi kita semua untuk melipatgandakan upaya untuk mengatasi krisis iklim.
World Resources Institute (WRI) Indonesia, lembaga riset yang fokus pada pembangunan inklusif dan berkelanjutan, mengajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam aksi mitigasi krisis iklim melalui kampanye Hari Bumi Setiap Hari dengan tagar #HariBumiSetiapHari.
Hari Bumi: Pemanasan Global Semakin Buruk
Pada 2018, Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) menyoroti skala tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang diperlukan untuk menjaga pemanasan global tidak melebihi 1,5°C. Lima tahun kemudian, tantangan tersebut bukannya semakin kecil, tetapi menjadi semakin besar karena terus meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) dunia.
Laporan Assesment ke-6 (AR6) yang dirilis IPCC pada akhir Maret 2023 mengungkap bahwa segala upaya yang telah kita lakukan selama lima tahun terakhir masih belum cukup untuk memperbaiki kondisi Bumi. Lebih dari satu abad pembakaran energi fosil dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan menyebabkan pemanasan global 1,1°C di atas tingkat pra-industri. Akibatnya, cuaca ekstrem semakin intens terjadi dan menimbulkan dampak yang semakin berbahaya bagi lingkungan, manusia, dan seluruh makhluk hidup di Bumi.
“Dalam dekade terakhir, kematian akibat banjir, kekeringan, dan badai 15 kali lebih tinggi di daerah yang sangat rentan,” kata Aditi Mukherji, salah satu penulis laporan.
Laporan tersebut juga menyoroti secara tajam kerusakan Bumi yang dampaknya paling dirasakan oleh kelompok rentan. Untuk itu, “Keadilan iklim sangat penting karena mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap perubahan iklim, justru terkena dampak secara tidak proporsional,” tambah Aditi.
Hari Bumi Setiap Hari
Kampanye #HariBumiSetiapHari berlangsung secara daring dan luring mulai 13 April hingga 6 Mei 2023. Kampanye ini diisi dengan rangkaian diskusi, kompetisi, hingga edukasi untuk membangun kesadaran dan mengajak masyarakat agar ikut terlibat dari aksi melawan krisis iklim. Sebagai permulaan, pada 13 April 2023, WRI Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Bersama Melawan Krisis Iklim untuk Bumi yang Layak Huni”.
“Melalui kampanye ini, WRI Indonesia menggarisbawahi pentingnya membawa semangat merawat Bumi dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya pada Hari Bumi saja,” kata Arief Wijaya, Program Director WRI Indonesia.
Dengan kondisi Bumi saat ini, adaptasi perubahan iklim memerlukan percepatan untuk menutup kesenjangan yang ada. Pengurangan emisi GRK secara intensif, cepat, dan berkelanjutan di semua sektor sangat diperlukan untuk mencegah pemanasan global semakin parah. Solusinya sangat bergantung pada kebijakan pembangunan yang responsif iklim yang akan diambil ke depan.
Mengubah kebijakan dan kebiasaan di sektor pangan, listrik, transportasi, industri, bangunan dan tata guna lahan dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Pada saat yang sama, langkah-langkah tersebut juga dapat mempermudah kita untuk menjalani gaya hidup ramah lingkungan, yang pada waktunya akan berdampak pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Agar efektif, langkah yang diambil juga perlu berakar pada nilai, pandangan, serta wawasan dan pengetahuan yang beragam, termasuk pengetahuan ilmiah, pengetahuan masyarakat adat, dan kearifan lokal.
“Transformasi akan lebih mungkin berhasil jika ada kepercayaan, di mana setiap orang bekerja sama untuk memprioritaskan pengurangan risiko, dan di mana keuntungan dan beban dibagi secara adil,” kata Ketua IPCC Hoesung Lee.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit