Mengenal Taksonomi Hijau dan Potensinya untuk Selamatkan Bumi
Foto: Diana Polekhina di Unsplash.
Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim adalah tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini. Tantangan ini membuat negara-negara di dunia menetapkan berbagai target, termasuk penurunan emisi hingga netralitas karbon. Untuk mencapai target-target tersebut, berbagai upaya telah dilakukan. Di Indonesia, ada taksonomi hijau yang dinilai penting untuk mendukung penyelamatan Bumi.
Klasifikasi Kegiatan Ekonomi
Secara sederhana, taksonomi hijau adalah klasifikasi aktivitas ekonomi yang mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kebutuhan akan standarisasi definisi dan kriteria hijau; monitoring berkala dalam implementasi penyaluran kredit, pembiayaan, dan investasi ke sektor hijau; serta penyempurnaan pelaporan oleh industri jasa keuangan merupakan urgensi yang melatari penyusunannya. Taksonomi hijau mengklasifikasikan kegiatan/sektor ekonomi ke dalam tiga kategori:
- Hijau (tidak menimbulkan bahaya signifikan, menerapkan pengamanan minimum, memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan sejalan dengan tujuan lingkungan).
- Kuning (tidak menimbulkan bahaya signifikan).
- Merah (menimbulkan bahaya dan kerusakan yang signifikan).
Diluncurkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan melibatkan delapan kementerian, taksonomi hijau mengkaji 2.733 klasifikasi sektor dan subsektor ekonomi. Tidak hanya berfokus pada sektor/kegiatan ekonomi yang dikategorikan hijau, dokumen ini disusun secara struktural berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang juga mencakup sektor/kegiatan usaha yang belum terklasifikasi ke dalam kategori hijau. Taksonomi Hijau didasari oleh empat prinsip, yaitu:
- Prinsip Investasi Bertanggung Jawab: pendekatan yang mempertimbangkan faktor ekonomi, sosial, lingkungan hidup, dan tata kelola dalam aktivitas ekonomi.
- Prinsip Strategi dan Praktik Bisnis Berkelanjutan: kewajiban untuk menetapkan dan menerapkan strategi dan praktik bisnis berkelanjutan pada setiap pengambilan keputusan.
- Prinsip Pengelolaan Risiko Sosial dan Lingkungan Hidup: mencakup prinsip kehati-hatian dalam mengukur risiko sosial dan lingkungan hidup melalui proses identifikasi, pengukuran, mitigasi, pengawasan, dan pemantauan.
- Prinsip Tata Kelola: berkaitan dengan penerapan penegakan tata kelola Sektor Jasa Keuangan (SJK) melalui manajemen dan operasi bisnis yang mencakup antara lain: transparansi, akuntabel, bertanggung jawab, independen, profesional, setara dan wajar.
Pengguna dan Tujuan Taksonomi Hijau
Taksonomi hijau ditargetkan namun tidak terbatas pada pelaku Sektor Jasa Keuangan (perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank), investor nasional & internasional, pemerintah, otoritas di bidang jasa keuangan dan moneter, dan lembaga internasional atau organisasi kerja sama regional & internasional. Beberapa tujuannya adalah:
- Mengembangkan standar definisi dan kriteria-kriteria hijau dari kegiatan sektor ekonomi yang mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia dengan menerapkan pendekatan berbasis ilmiah.
- Mendorong inovasi dan investasi dalam kegiatan ekonomi yang memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas lingkungan hidup (ekonomi hijau) dengan menerapkan pendekatan berbasis ilmiah.
- Mendorong pertumbuhan sektor keuangan dalam pendanaan dan pembiayaan kegiatan ekonomi hijau.
- Sebagai acuan bagi SJK, investor, pelaku bisnis (nasional dan internasional) untuk mengungkapkan informasi terkait pembiayaan, pendanaan, atau investasi untuk kegiatan ekonomi hijau.
Selain itu, taksonomi hijau juga menetapkan enam tujuan lingkungan, yakni mitigasi perubahan iklim, adaptasi perubahan iklim, penggunaan dan perlindungan sumber daya air dan laut secara berkelanjutan, transisi ke ekonomi sirkular, pencegahan dan pengendalian polusi, dan perlindungan & pemulihan keanekaragaman hayati dan ekosistem.
“Pengembangan Taksonomi Hijau Indonesia diharapkan dapat memberikan gambaran atas klasifikasi suatu sektor/subsektor yang telah dikategorikan hijau dengan mengadopsi prinsip berbasis ilmiah. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya praktik greenwashing,” kata Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Perlu Penyesuaian
Taksonomi Hijau dinilai penting sebagai rujukan dalam upaya mewujudkan investasi hijau dan target pembangunan berkelanjutan (SDGs) lainnya, terutama bagi sektor jasa keuangan dan para pemangku kepentingan terkait. Taksonomi hijau, antara lain, dapat memperluas perdagangan karbon (carbon offset) yang disebut-sebut sebagai peluang ekonomi baru bagi Indonesia. Namun, edisi pertama yang diluncurkan OJK pada Januari 2022 memiliki sejumlah catatan, antara lain mengkategorikan sektor/kegiatan industri ekstraktif (misal: pertambangan) ke dalam kategori kuning.
Catatan lainnya adalah implementasinya masih bersifat sukarela, belum menjadi kewajiban, sehingga tidak mendorong para pelaku ekonomi untuk bertransisi ke ekonomi hijau. Selain itu, penentuan kredibilitas suatu proyek hijau hanya dilakukan oleh ahli lingkungan dan belum ada kriteria teknis yang diwajibkan untuk memastikan sebuah proyek benar-benar hijau.
Untuk itu, catatan-catatan tersebut perlu menjadi bahan pertimbangan untuk penyesuaian di masa mendatang. Standar dan kebijakan menyangkut kriteria hijau perlu terus ditingkatkan dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada intinya, seluruh pemangku kepentingan dalam mata rantai kegiatan ekonomi mesti berkolaborasi dan bersungguh-sungguh dalam mendukung upaya penyelamatan Bumi.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut