Konferensi SeaBRnet ke-15 Wakatobi: Kolaborasi untuk Perkuat Pengelolaan Cagar Biosfer
Foto: Benjamin L. Jones di Unsplash.
Kawasan konservasi merupakan bagian penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem alam. Di Indonesia, sebagian kawasan konservasi telah diakui dan ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO. Namun, di tengah tekanan perubahan iklim dan berbagai krisis lainnya, memperkuat pengelolaan dan ketahanan sosial-ekonomi cagar biosfer menjadi suatu hal yang krusial. Hal inilah yang dibahas dalam Konferensi Internasional Jaringan Cagar Biosfer Asia Tenggara (Southeast Asian Biosphere Reserves Network/SeaBRnet) ke-15 di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Kawasan Konservasi dan Cagar Biosfer di Indonesia
Pada tahun 2023, kawasan konservasi Indonesia berjumlah 564 unit, yang terdiri dari 213 cagar alam, 128 taman wisata alam, 85 suaka margasatwa, 55 taman nasional, 44 taman hutan raya, 28 kawasan suaka alam/kawasan pelestarian alam, dan 10 taman buru. Sementara itu, UNESCO telah menetapkan 20 cagar biosfer di Indonesia sejak tahun 1977, dengan luas total mencapai 30,58 juta hektare. Tiga cagar biosfer terbaru yang ditetapkan pada tahun 2020 adalah Bunaken Tangkoko Minahasa, Karimunjawa Jepara Muria, dan Merapi Merbabu Menoreh.
Cagar biosfer merupakan wilayah atau kawasan konservasi yang terdiri dari daratan, perairan, dan pantai yang bertujuan untuk mencapai keselarasan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati dan ketahanan sosial dan ekonomi yang diharapkan dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dalam pengelolaannya, cagar biosfer secara umum dibagi menjadi tiga zona, yakni Zona Inti yang merupakan kawasan konservasi, Zona Penyangga yang berfungsi sebagai pelindung zona inti, dan Zona Transisi dimana kegiatan-kegiatan pengelolaan sumber daya alam secara lestari dan model pembangunan berkelanjutan diperbolehkan melalui kerjasama dan kesepakatan dengan berbagai pemangku kepentingan.
Konferensi SeaBRnet ke-15 Wakatobi
Upaya konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan cagar biosfer menghadapi tantangan yang kompleks, termasuk deforestasi dan degradasi lahan, pencemaran sungai, dan kerusakan laut akibat berbagai aktivitas manusia. Perubahan iklim dan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan juga turut menjadi kendala dalam pengelolaan cagar biosfer.
Terkait hal ini, Konferensi SeaBRnet ke-15 di Wakatobi yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 2024 berfokus pada penyelarasan upaya-upaya konservasi dengan pembangunan sosial dan ekonomi dengan mengintegrasikan teknologi dan pengetahuan tradisional untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan cagar biosfer secara berkelanjutan di Asia Tenggara. Dihadiri oleh para perwakilan dari beberapa negara ASEAN serta Jepang, Australia, dan Timor Leste, pertemuan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan, informasi terbaru, dan dialog strategis mengenai pengelolaan cagar biosfer dan Program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO di Asia Tenggara.
Mengusung tema “Optimalisasi Kolaborasi Multipihak untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ketahanan Sosial Ekonomi di Cagar Biosfer”, pertemuan ini menekankan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati serta memperkuat kolaborasi dan jaringan regional antara cagar biosfer, peneliti, pengambil kebijakan, dan organisasi masyarakat lokal, dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. Dalam hal ini, riset dan inovasi sangat penting dalam memperkuat logistik pengelolaan dan keberlanjutan cagar biosfer di Indonesia.
“Dengan meningkatnya ancaman kerusakan Bumi dan penurunan keanekaragaman hayati akibat perubahan iklim, deforestasi, dan berbagai aktivitas manusia lainnya, dibutuhkan kerja sama pembangunan lintas negara dalam upaya konservasi. Kolaborasi ini harus melintasi batas-batas geografis, karena tantangan lingkungan tidak mengenal batas-batas negara. Kita hidup di dalam dunia yang saling terhubung, di mana perubahan yang terjadi di suatu wilayah dapat memiliki dampak yang signifikan di wilayah lain,” kata Laode Fasikin, Staf Ahli Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, yang hadir dalam konferensi tersebut.
Hasil diskusi selama konferensi akan dijadikan bahan rekomendasi yang disusun menjadi laporan implementasi Rencana Aksi Lima Pengelolaan Cagar Biosfer (Lima Action Plan for Biosphere Reserves) 2016–2025, yang akan dibawa dalam Kongres Cagar Biosfer Dunia (WCBR) ke-5 di Hangzhou, China, pada tahun 2025.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menambahkan, “Dengan mengoptimalkan kolaborasi multipihak, kita dapat meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan ketahanan sosial-ekonomi sekitar cagar biosfer. Juga memastikan keberlanjutan dan efektivitas pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.”
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan