Menakar Keberlanjutan Kota Kediri dalam UI GreenCityMetric 2024
12 Agustus 2024
Foto: Adrian Hartanto di Unsplash.
Ruang hidup yang sehat dan aman adalah prasyarat penting untuk menunjang kesehatan dan kesejahteraan manusia. Dalam hal ini, setiap wilayah di semua tingkatan mesti menciptakan tata kelola yang sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Di Indonesia, ada banyak kota dan kabupaten yang mulai berupaya untuk mewujudkan ruang hidup yang lebih baik dalam aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kota Kediri, misalnya, telah dinilai sebagai kota paling berkelanjutan di Indonesia versi UI GreenCityMetric Ranking 2024. Lantas, apa yang membuat Kota Kediri meraih predikat ini?
UI GreenCityMetric Ranking 2024
UI GreenCityMetric merupakan pemeringkatan bagi kabupaten/kota di Indonesia di bidang keberlanjutan yang dilakukan oleh UI GreenMetric Universitas Indonesia. Diluncurkan pertama kali pada tahun 2022, pemeringkatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kabupaten/kota terhadap keberlanjutan serta mendorong seluruh masyarakat agar mendukung segala bentuk upaya peningkatan daerahnya menjadi lebih hijau dan berkelanjutan. Penilaian aspek keberlanjutan didasarkan pada enam indikator, yakni Energi dan Perubahan Iklim, Tata Kelola Sampah dan Limbah, Penataan Ruang dan Infrastruktur, Akses dan Mobilitas, Tata Kelola Air, dan Tata Kelola/Governance.
Tahun 2024 merupakan tahun ketiga pelaksanaan UI GreenCityMetric Ranking. Penilaian dilakukan terhadap 44 kota dan 20 kabupaten dari 23 provinsi, dengan 12 kabupaten/kota tambahan yang baru bergabung dalam pemeringkatan. Berdasarkan hasil penilaian, sepuluh kota/kabupaten yang dianggap paling berkelanjutan di Indonesia pada UI GreenCityMetric Ranking 2024 adalah Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Blitar, Kota Semarang, Kabupaten Wonogiri, Kota Pariaman, Kota Banjarbaru, Kota Salatiga, Kota Medan, dan Kota Jambi.
“Kota Paling Berkelanjutan”
Dinilai sebagai “kota paling berkelanjutan” versi UI Green City Metric dalam dua tahun berturut-turut (2023 dan 2024), sejauh mana sebenarnya keberlanjutan Kota Kediri?
Salah satu langkah paling signifikan yang dilakukan Kota Kediri adalah menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di setiap kelurahan (17 kelurahan) di tiga kecamatan. Selain itu, daerah berjuluk “kota tahu” ini juga telah mengesahkan regulasi terkait penggunaan plastik sekali pakai pada tahun 2023 melalui peraturan wali kota. Peraturan tersebut melarang pemakaian plastik sekali pakai dalam acara dan kegiatan sehari-hari, termasuk di pasar, toko, swalayan, hotel, pusat kuliner, apotek, dan tempat-tempat wisata.
Kota Kediri juga mengembangkan pertanian perkotaan untuk mendukung ketahanan pangan, menggalakkan pembersihan sampah setiap minggu dalam acara Car Free Day, mengoptimalisasi peran bank sampah di semua sektor, mengintensifkan pembersihan sungai, mendorong setiap warga menanam minimal satu pohon, dan menerapkan kebijakan zero run off pada saluran jalan. Untuk memastikan semua kebijakan dan program berjalan lancar, masyarakat secara aktif dilibatkan dalam pembangunan melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas).
Keberlanjutan Tak Hanya tentang Lingkungan
Data Global Green Economy Index 2023 menunjukkan bahwa kota/kabupaten yang berkomitmen pada keberlanjutan memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi. Namun, penting untuk diketahui bahwa mewujudkan kota/kabupaten yang berkelanjutan tidak berarti hanya berfokus pada aspek-aspek lingkungan. Kota dan kabupaten di Indonesia juga perlu meningkatkan keberlanjutan mereka dengan membenahi hal-hal yang secara langsung berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi, seperti memberantas korupsi, menghapus kemiskinan dan ketimpangan, menyediakan akses ke layanan dasar berkualitas untuk semua, dan melahirkan kebijakan publik yang adil. Hal-hal semacam ini juga perlu menjadi indikator penilaian agar apa yang disebut “berkelanjutan” tidak hanya sebatas soal lingkungan.
Pada akhirnya, di tengah tantangan pemanasan global yang semakin meningkat dan berbagai krisis lainnya, setiap wilayah di semua tingkatan di Indonesia harus bersama-sama melakukan upaya-upaya yang lebih kuat dalam mewujudkan ruang hidup yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan seorang pun di belakang.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit