Meningkatkan Inklusi Gender dan Disabilitas dalam Sektor WASH
6 Januari 2025
Jcomp di Freepik.
Air bersih, sanitasi, dan kebersihan (Water, Sanitation, and Hygiene/WASH) merupakan elemen krusial dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan tata kelola yang baik dan inklusif untuk memastikan bahwa akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang layak dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok yang paling terpinggirkan. Lantas, bagaimana kemajuan inklusi gender dan disabilitas (GESI) dalam lanskap layanan dan fasilitas WASH untuk masyarakat di Indonesia saat ini? Sebuah laporan penilaian yang diterbitkan oleh UNICEF dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan gambaran atas pertanyaan itu.
Kemajuan dan Tantangan
Laporan tersebut berangkat dari audit aksesibilitas, kesetaraan, dan keselamatan dari berbagai fasilitas WASH yang ada di sejumlah sekolah, fasilitas kesehatan, tempat umum dan tempat kerja, dan tempat lainnya. Berikut beberapa temuan penting terkait kemajuan dan tantangan yang dipaparkan dalam laporan tersebut:
- Pembentukan Kelompok Kerja WASH di Sekolah (WASH In School/WinS) di tingkat nasional telah meningkatkan perhatian pada aspek GESI. Namun, masih ada tantangan untuk memastikan fasilitas WASH yang peka terhadap GESI di sekolah.
- Hanya ada sedikit kemajuan dalam memastikan akses bagi anak dan guru dengan disabilitas, serta memastikan fasilitas yang sesuai bagi anak perempuan untuk mengelola menstruasi mereka.
- Terdapat beberapa kemajuan dalam aksesibilitas toilet di fasilitas kesehatan, seperti toilet yang memiliki dudukan dan pegangan tangan. Namun, beberapa di antaranya masih belum dirancang dengan tepat.
- Sebagian fasilitas kesehatan telah memiliki toilet terpisah untuk perempuan yang baru saja melahirkan, dan beberapa menyediakan kebutuhan pembalut pasca-melahirkan dan alas tidur nifas. Namun, terkadang pembalut tersebut perlu dibayar.
- Ketersediaan fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun telah meningkat sejak Pandemi COVID-19. Namun, masih terdapat kesenjangan, termasuk dalam hal pertimbangan bagaimana orang dengan inkontinensia (ketidakmampuan menahan air kencing) dan disabilitas lainnya dapat didukung dengan tepat ketika mengunjungi fasilitas kesehatan.
- Beberapa persyaratan terkait GESI telah dimasukkan ke dalam peraturan terkait WASH di tempat umum dan tempat kerja. Namun masih ada kesenjangan persyaratan untuk jenis tempat umum tertentu, seperti pasar dan tempat pengiriman.
- Masih banyak fasilitas WASH di tempat umum yang berkualitas buruk, terutama di pasar dan terminal.
Secara keseluruhan, pemahaman tentang GESI di Indonesia masih kurang, dan WASH lebih sering dianggap berkaitan dengan masalah teknis daripada pertimbangan sosial, termasuk dalam konteks kemanusiaan. Sebagian besar infrastruktur WASH yang tersedia di berbagai tempat atau fasilitas masih belum dapat diakses dan tidak selalu menjawab kebutuhan gender dan disabilitas.
Rekomendasi
Laporan tersebut memberikan sembilan rekomendasi untuk meningkatkan inklusi gender dan disabilitas (GESI) dalam sektor WASH. Berikut di antaranya:
- Memasukkan/memperkuat GESI dalam WASH secara berkesinambungan ke dalam undang-undang, peraturan, strategi, pedoman dan standar WASH.
- Membangun kapasitas di semua tingkatan tentang pentingnya GESI dalam WASH, komitmen terhadap pertimbangan, dan implementasi praktisnya.
- Meningkatkan jumlah orang dengan disabilitas, perempuan, dan pemuda yang terlibat dan membuat keputusan di sektor WASH di semua tingkatan.
- Memperkuat integrasi GESI di semua tahap siklus program, mulai dari perencanaan dan penganggaran hingga implementasi dan pemantauan dan evaluasi.
- Memperkuat kapasitas dan tindakan sektor WASH untuk mempertimbangkan kebutuhan orang-orang dengan berbagai jenis disabilitas dan memastikan bahwa promosi kebersihan menjangkau semua kelompok.
- Meningkatkan kolaborasi lintas sektor untuk menjangkau dan mendukung mereka yang sering diabaikan, seperti anak-anak di panti asuhan, orang-orang yang hidup dengan inkontinensia, orang di penjara, dan orang-orang lain yang sangat terpinggirkan, hidup dalam kemiskinan ekstrem, atau dalam keadaan yang sangat sulit.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB