BRIN dan Australia Luncurkan Skema Pendanaan Riset Bersama
Foto: Debby Hudson di Unsplash.
Riset atau penelitian memainkan peran penting dalam banyak aspek kehidupan. Banyak temuan atau pengetahuan yang kita nikmati hari ini merupakan buah dari riset, yang tidak jarang melibatkan proses yang panjang, rumit, dan membutuhkan biaya yang besar. Untuk meningkatkan peluang pendanaan bagi pengembangan riset di suatu negara, kerja sama internasional dapat menjadi salah satu langkah yang berarti. Terkait hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan pemerintah Australia meluncurkan skema pendanaan riset bersama untuk riset terkait keanekaragaman hayati laut yang berkelanjutan.
Minimnya Pendanaan Riset di Indonesia
Ada banyak tantangan dalam pengembangan riset di Indonesia, termasuk terbatasnya sumber daya peneliti, kurangnya infrastruktur pendukung riset, dan birokrasi yang rumit. Namun, di antara semua tantangan yang ada, masalah pendanaan masih menjadi salah satu tantangan utama. Riset dan pengembangan masih belum dipandang sebagai prioritas, termasuk oleh pemerintah.
Dari tahun ke tahun, rasio anggaran riset nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih minim, yakni berkisar antara 0,1 hingga 0,3 persen. Alokasi anggaran riset Indonesia ini bahkan jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia (1,3%) dan Singapura (2,1%). Pada tahun 2023, anggaran riset nasional yang dikelola oleh BRIN bahkan hanya Rp2,2 triliun atau 0,01% terhadap PDB, dan tercatat sebagai anggaran terendah sepanjang sejarah pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Lebih lanjut, dalam hal pengalokasian dana riset, di Indonesia terdapat kecenderungan keberpihakan terhadap riset terapan atau hilirisasi dan mengesampingkan riset dasar. Padahal, riset dasar dalam banyak bidang ilmu juga penting bagi keperluan jangka panjang. Kurangnya pendanaan untuk riset dapat berdampak pada terbatasnya hasil riset di Indonesia, yang pada gilirannya akan menghambat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.
Skema Pendanaan Riset Bersama
Skema pendanaan riset bersama antara BRIN dan pemerintah Australia bernama Joint Call BRIN-KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia) dengan pendanaan dari LPDP dan Pemerintah Australia-DFAT. Kerjasama pendanaan ini membuka kesempatan bagi Indonesia dan Australia untuk berkolaborasi dalam riset-riset di bidang keanekaragaman hayati laut, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan, pangan, dan energi.
Selain meningkatkan alokasi pendanaan riset dan inovasi, kerja sama ini juga bertujuan untuk memperkuat hubungan strategis antara Indonesia dan Australia, serta untuk meningkatkan kolaborasi dan interaksi antara periset Indonesia dengan mitra di berbagai belahan dunia.
“Ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi merupakan komoditas universal dan memerlukan interaksi lintas negara untuk memastikan peningkatan kapasitas dan kompetensi secara global. Program kemitraan ini diharapkan dapat menghasilkan solusi pembangunan berbasis pengetahuan yang berkontribusi pada kebijakan dan teknologi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam acara peluncuran.
Skema pendanaan riset bersama ini berlangsung selama lima tahun atau hingga 2029. Pendanaan ini terbuka untuk para periset di berbagai organisasi di Indonesia dan Australia termasuk perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta. Setiap proyek riset dapat memperoleh dukungan pendanaan maksimal Rp1 miliar dengan durasi pengerjaan selama dua tahun.
Pada saat yang sama, BRIN juga meluncurkan skema pendanaan untuk Pusat Kolaborasi Riset (PKR) yang akan mendanai riset-riset terkait kebutuhan industri. Berbeda dengan Joint Call BRIN-KONEKSI, pendanaan untuk PKR menyasar para periset dari berbagai disiplin ilmu, termasuk periset yang sedang menempuh studi.
Perlu Ekosistem Riset yang Lebih Baik
Pada akhirnya, Indonesia perlu menciptakan ekosistem riset yang lebih baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Komitmen yang kuat dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan alokasi dana riset merupakan satu langkah yang berarti. Namun, penting juga untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi para peneliti, termasuk infrastruktur riset yang memadai, pemangkasan birokrasi yang rumit, dan keadilan dalam pemberian hibah riset kepada semua peneliti–termasuk bagi para peneliti muda. Terakhir, langkah-langkah ini perlu didukung oleh regulasi yang kuat, kemitraan strategis baik di dalam maupun di luar negeri, kolaborasi antar-organisasi, dukungan pendanaan dari pihak swasta, serta pengembangan kapasitas bagi para peneliti melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan riset saat ini dan masa depan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut