Mekanisasi Pertanian Berkelanjutan untuk Tingkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani
Foto: defika hendri di Unsplash.
Mekanisasi pertanian telah membawa perubahan signifikan dalam produktivitas dan efisiensi sektor pertanian di banyak negara. Namun, di Indonesia, mekanisasi pertanian masih terbilang rendah. Di tengah tantangan pertanian modern dan pemenuhan pangan yang semakin kompleks, sangat penting untuk memperkuat strategi mekanisasi pertanian yang berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani tanpa memperparah kerusakan lingkungan.
Mekanisasi Pertanian di Indonesia
Mekanisasi pertanian merujuk pada penerapan mesin dan alat dalam proses produksi pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi. Mekanisasi ini mencakup penggunaan traktor untuk pengolahan tanah, mesin penanam padi, hingga mesin pemanen. Mekanisasi pertanian bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja, meningkatkan produktivitas lahan, mempercepat waktu tanam dan panen, menurunkan ongkos produksi, serta meningkatkan kualitas hasil pertanian karena proses yang lebih konsisten dan tepat waktu.
Namun, di Indonesia, mekanisasi pertanian masih sangat rendah. Dalam buku Revolusi Mekanisasi Pertanian, disebutkan bahwa mekanisasi pertanian di Indonesia masih berada di level pertama berdasarkan IRRI (1996), yakni penggunaan mesin untuk mensubstitusi tenaga (power substitution). Penggunaan mesin pada level ini hanya sekedar mengganti tenaga manusia dan hewan dengan mesin.
Masalah utama dalam mekanisasi pertanian di Indonesia adalah terbatasnya akses petani terhadap mesin-mesin pertanian modern. Banyak petani, terutama di daerah terpencil, tidak mampu membeli atau menyewa alat dan mesin pertanian karena biaya yang tinggi. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengoperasikan dan merawat mesin juga masih rendah. Kendala lain yang tidak kalah serius adalah banyaknya penggunaan alat atau teknologi pertanian khas negara kontinental yang tidak fungsional untuk kondisi geografi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
Lebih lanjut, faktor lain yang menjadi tantangan adalah kurangnya infrastruktur pendukung seperti irigasi dan jalan yang memadai untuk mendukung penggunaan mesin pertanian. Akibat dari berbagai masalah ini, produktivitas pertanian di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah lebih maju dalam mekanisasi pertanian.
Produktivitas pertanian yang rendah di Indonesia dapat dilihat dari hasil panen dan efisiensi penggunaan lahan yang belum optimal. Selain itu, waktu tanam dan panen yang masih bergantung pada kondisi cuaca dan tenaga kerja manual membuat hasil produksi menjadi tidak konsisten, dan hal ini pada akhirnya berdampak pada rendahnya kesejahteraan petani di Indonesia.
Upaya Pemerintah
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi tantangan terkait mekanisasi pertanian adalah dengan program bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) yang disalurkan melalui kelompok-kelompok tani. Program ini bertujuan untuk memudahkan akses petani terhadap mesin-mesin pertanian modern untuk mendukung upaya pencapaian sasaran produksi pertanian dan pendapatan petani. Alsintan yang digunakan para petani di Indonesia di antaranya traktor, combine harvester, pompa irigasi, seeder dan planter, mesin pemipil, dan alat sortir.
Namun, bantuan Alsintan ini masih belum optimal. Masih banyak anggota kelompok tani yang belum merasakan manfaat dari alat tersebut. Kondisi ini bahkan diperparah dengan fakta bahwa anggota kelompok tani tetap harus membayar biaya sewa yang sama seperti sebelum menerima bantuan.
Mekanisasi Pertanian Berkelanjutan
Ke depan, tantangan pemenuhan pangan dan pertanian modern akan semakin kompleks. Tidak hanya perubahan iklim, sektor pertanian juga menghadapi tantangan terkait berkurangnya tenaga kerja dan terbatasnya lahan subur dan air. Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh aktor utama dalam sektor pertanian harus memperkuat strategi untuk meningkatkan mekanisasi pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Buku Revolusi Mekanisasi Pertanian memberikan sejumlah rekomendasi, di antaranya:
- Mendorong perluasan lahan pertanian baru, termasuk memanfaatkan lahan rawa dengan penggunaan teknologi.
- Mengembangkan teknologi pertanian ramah lingkungan untuk mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan.
- Meningkatkan kapasitas SDM dan manajemen dalam Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) yang berada di bawah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Dalam hal ini, perlu pendampingan dari dinas teknis dan penyuluhan pertanian berupa pelatihan teknis dan manajemen, pendampingan, serta dukungan infrastruktur perbengkelan dan ketersediaan suku cadang.
- Memproduksi alat dan mesin pertanian secara mandiri, sehingga tidak bergantung pada impor mesin dari luar negeri. Sebagai contoh, mekanisasi pertanian di Korea Selatan berhasil karena didukung pengembangan industri alat dan mesin pertanian dalam negerinya.
Mekanisasi pertanian yang berkelanjutan merupakan hal krusial dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian secara keseluruhan. Dengan mengadopsi teknologi yang tepat dan ramah lingkungan, seperti penggunaan mesin yang efisien dalam hal penggunaan energi dan pengurangan penggunaan bahan kimia berbahaya, sektor pertanian dapat mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Pada akhirnya, pendekatan ini juga mesti memperhatikan aspek sosial, seperti mempertimbangkan dampaknya terhadap pekerja pertanian dan komunitas lokal. Dengan demikian, mekanisasi pertanian dapat memberikan manfaat jangka panjang yang berkelanjutan bagi pertanian global, tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional