Mengarusutamakan Perpustakaan Hijau dan Berkelanjutan di Indonesia
Foto: Freepik.
Kesadaran akan pentingnya praktik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan kini semakin populer dan merambah ke semakin banyak bidang, termasuk di perpustakaan. Kini, telah muncul sebuah konsep yang disebut sebagai green library atau perpustakaan hijau, dan sejumlah pihak mulai berupaya menerapkannya. Namun, konsep ini belum banyak diterapkan di Indonesia, termasuk oleh institusi-institusi perguruan tinggi, terutama karena kurangnya pengetahuan, wawasan, dan pengalaman terkait keberlanjutan dan bagaimana penerapannya dalam pengelolaan perpustakaan. Terkait hal ini, Konferensi Perpustakaan Hijau Indonesia (KPHI) 2024 berupaya menjembatani kesenjangan tersebut untuk mendorong pengarusutamaan perpustakaan hijau dan berkelanjutan di Indonesia.
Mengenal Perpustakaan Hijau
Menurut Federasi Internasional Asosiasi dan Lembaga Perpustakaan (IFLA), perpustakaan hijau adalah perpustakaan yang menaruh perhatian terhadap isu kelestarian lingkungan, ekonomi, dan sosial. Perpustakaan hijau tidak mengenal ukuran—perpustakaan kecil pun dapat dikatakan hijau—sepanjang memiliki agenda dan konsep keberlanjutan yang jelas, yang mencakup:
- Bangunan dan peralatan yang ramah lingkungan. Sebuah perpustakaan dapat dikatakan “hijau” apabila secara aktif mengurangi emisi atau jejak karbon dari bangunan dan peralatan.
- Prinsip-prinsip kantor ramah lingkungan. Rutinitas dan proses operasional perpustakaan berlangsung dengan ramah lingkungan.
- Perekonomian berkelanjutan. Membatasi konsumsi dan mendorong praktik ekonomi sirkular dan berbagi serta dapat diakses oleh masyarakat.
- Layanan yang berkelanjutan. Menyediakan informasi yang relevan dan terkini, ruang bersama, perangkat, pendidikan lingkungan, dan sistem pengoperasian yang efisien yang mudah diakses oleh pengguna.
- Keberlanjutan sosial. Menaruh perhatian pada pendidikan yang baik, literasi, keterlibatan masyarakat, keragaman lintas budaya, inklusi sosial, dan partisipasi secara keseluruhan. Singkatnya, perpustakaan secara aktif mengurangi kesenjangan.
- Pengelolaan lingkungan. Perpustakaan berupaya mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Kebijakan lingkungan perpustakaan, implementasi, dan hasil kerjanya disampaikan kepada khalayak.
- Komitmen terhadap tujuan dan program lingkungan hidup secara umum, yang merujuk pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, Perjanjian Paris, serta sertifikat dan program lingkungan hidup terkait.
Kurangnya Penerapan
Perpustakaan turut berkontribusi dalam menyebabkan pemanasan global melalui emisi yang dihasilkan. Sebuah studi pada tahun 2019 menemukan bahwa total jejak karbon perpustakaan umum setara dengan 32.000 ton CO2. Jejak karbon rata-rata setiap perpustakaan berkisar antara 30-420 ton CO2e, tergantung pada ukuran perpustakaan.
Kini, perpustakaan hijau dan berkelanjutan semakin penting di tengah isu krisis lingkungan akibat perubahan iklim. Namun, tidak hanya tentang masalah lingkungan, konsep ini juga dapat membantu meningkatkan inklusivitas dengan memastikan bahwa semua orang memperoleh kesempatan dan akses yang sama terhadap sumber-sumber pengetahuan dan informasi.
Sayangnya, sebuah penelitian mengungkap bahwa penerapan perpustakaan hijau di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian yang dilakukan di 10 perpustakaan di Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) itu juga menunjukkan bahwa konsep perpustakaan hijau dan berkelanjutan masih belum familiar di kalangan para pustakawan. Di banyak tempat, masih banyak perpustakaan yang belum berkelanjutan baik dari segi sistem operasi, penggunaan energi dan peralatan, hingga layanan dan fasilitas yang kurang ramah terhadap kelompok-kelompok rentan seperti anak-anak dan orang dengan disabilitas.
KPHI 2024
KPHI 2024 diselenggarakan di Surakarta oleh Perpustakaan Nasional RI, bekerja sama dengan Laboratorium Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (KAUNSOED) Wilayah Solo Raya, dan Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan Indonesia (PERSEPSI) Komda Solo Raya. Berlangsung pada 29 Oktober-1 November 2024 dengan tema “Peran Perpustakaan Hijau dalam Upaya Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs)”, KPHI 2024 menjadi ajang untuk bertukar pemikiran, wawasan, dan pengalaman terkait penerapan konsep perpustakaan ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus menjadi momentum deklarasi berdirinya organisasi Asosiasi Penggerak Perpustakaan dan Literasi (APPel) Hijau Indonesia.
Pada akhir acara, konferensi tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk mendukung pengarusutamaan perpustakaan hijau di Indonesia, salah satunya adalah mendorong keterlibatan relawan dan komunitas dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan perpustakaan hijau di lingkup yang lebih kecil. Rekomendasi lainnya adalah pemberian penghargaan untuk perpustakaan yang telah menerapkan konsep green library dengan indikator yang telah ditetapkan.
Selain itu, sangat penting untuk memperluas pengetahuan dan wawasan tentang keberlanjutan, termasuk dengan meningkatkan kapasitas pengelola perpustakaan dan pihak-pihak terkait lainnya. Kolaborasi multi-pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas akar rumput, praktisi, akademisi, dan dunia usaha, sangat penting untuk mendukung tercapainya tujuan ini.
Bacaan Berkualitas, Inklusif, dan Aksesibel
Perpustakaan dapat menjadi sarana yang efektif dan strategis dalam upaya penyebarluasan ilmu pengetahuan. Bagi sebagian orang, perpustakaan bahkan dapat menjadi sumber pengetahuan alternatif ketika biaya pendidikan formal dan harga buku-buku berkualitas semakin tak terjangkau. Oleh karena itu, upaya pengembangan dan pengarusutamaan konsep perpustakaan hijau mesti dibarengi dengan penyediaan bahan bacaan yang berkualitas secara masif, inklusif, dan aksesibel bagi semua orang, terutama—namun tidak terbatas—untuk orang-orang dengan disabilitas yang membutuhkan metode atau alat bantu khusus dalam mengakses informasi dan pengetahuan. Pemanfaatan teknologi secara efektif dan tepat guna dapat sangat membantu dalam hal ini. Pada akhirnya, konsep “ramah lingkungan” dan “berkelanjutan” harus diterapkan dengan langkah yang sungguh-sungguh, yang tidak jatuh pada klaim-klaim palsu atau sekadar “mengikuti tren” belaka.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan