Pemerintah Luncurkan Rencana Aksi Pengembangan Avtur Ramah Lingkungan
Foto: Alvito danendra di Unsplash.
Industri penerbangan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, mengantarkan orang-orang ke tempat yang jauh dalam waktu yang relatif lebih cepat, dan mendukung perekonomian di dunia. Namun, pada saat yang sama, industri penerbangan telah menimbulkan dampak lingkungan yang tidak bisa diabaikan, terutama terkait emisi karbon yang berkontribusi pada perubahan iklim. Kini, di tengah meningkatnya desakan untuk menciptakan bisnis yang berkelanjutan, industri penerbangan pun mulai berbenah. Terkait hal ini, pemerintah Indonesia telah meluncurkan rencana aksi peta jalan pengembangan avtur ramah lingkungan, sebagai upaya untuk mewujudkan sektor penerbangan yang lebih berkelanjutan.
Rencana aksi ini diluncurkan dalam panel diskusi bertajuk “Global and Regional Collaboration Potential on Sustainable Aviation Fuel (SAF)” dalam perhelatan Bali International Airshow (BIAS) 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Industri Penerbangan dan Dampaknya
Secara global, sektor penerbangan menyumbang sekitar 2 hingga 2,5 persen dari total emisi global. Sekilas, angka tersebut mungkin terkesan kecil, namun gas buang yang dikeluarkan oleh mesin-mesin pesawat terbang, seperti gas karbon dioksida, nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida, dan karbon monoksida, merupakan polutan berbahaya yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Selain itu, emisi dari sektor penerbangan relatif sukar untuk didekarbonisasi karena berbagai tantangan, seperti ketergantungan pada bahan bakar fosil serta infrastruktur yang belum memadai untuk mendukung alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Di Indonesia, meski data yang tersedia di dalam energi belum memberikan rincian spesifik, emisi dari sektor penerbangan diperkirakan cukup signifikan. Pada tahun 2019, sektor penerbangan domestik Indonesia menghasilkan emisi terbesar ketujuh di dunia, yakni lebih dari 8 juta ton CO2. Jumlah emisi tersebut berpotensi terus meningkat pada tahun-tahun mendatang seiring dengan pertumbuhan yang akan terjadi.
Statista mencatat Indonesia merupakan pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia setelah China berdasarkan pembelian pesawat dan nilai perdagangannya. Transportasi udara telah menjadi pilihan banyak orang mengingat wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyatakan bahwa Indonesia diperkirakan akan menjadi pasar transportasi udara terbesar keenam di dunia pada tahun 2034.
Namun, tanpa disertai transformasi menuju industri penerbangan yang ramah lingkungan, sektor ini akan menghasilkan emisi yang jauh lebih besar dibandingkan saat ini dan akan mempercepat kerusakan lingkungan.
Avtur Ramah Lingkungan
Salah satu aspek penting dalam mewujudkan sektor penerbangan yang lebih ramah lingkungan adalah peralihan menuju penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF). Dalam hal ini, penggunaan avtur ramah lingkungan diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80% dibandingkan dengan penggunaan avtur berbahan fosil. Selain itu, penggunaan avtur ramah lingkungan juga dapat menekan emisi GRK sektor penerbangan hingga 65% dari target emisi nol bersih pada tahun 2050.
Roadmap Action Plan atau Rencana Aksi Peta Jalan untuk Sustainable Aviation Fuel (SAF) diluncurkan sebagai bagian dari target pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Aviation pada tahun 2050. Dokumen peta jalan SAF tersebut dikembangkan secara kolaboratif dengan melibatkan para pemangku kepentingan terkait. Peluncuran tersebut ditandai dengan penyaluran SAF oleh Pertamina Patra Niaga kepada maskapai Citilink, serta kesepakatan kerja sama antara Pertamina dengan Airbus.
“SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet,” kata Riva Siahaan, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga.
Dalam diskusi panel terkait pengembangan SAF dalam BIAS 2024, disebutkan beberapa sumber daya potensial untuk dikembangkan menjadi SAF di Indonesia, yakni minyak kelapa, minyak goreng bekas (jelantah), rumput laut, ampas beras, dan biomassa lainnya. Pembangunan ekosistem SAF di Indonesia membuka peluang sekaligus tantangan bagi berbagai sektor, termasuk sektor pertanian dan pangan.
Tantangan
Beberapa tantangan yang muncul di antaranya menyangkut pengembangan infrastruktur produksi SAF, menciptakan rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan, serta keterbatasan sumber daya manusia. Intinya, pengembangan SAF di Indonesia harus dilakukan dengan cara-cara yang berkelanjutan, termasuk dengan tidak mengorbankan apapun dan meninggalkan seorang pun di belakang. Sebagai contoh, pengembangan SAF dari bahan-bahan nabati, seperti produk turunan kelapa sawit, berpotensi memperketat persaingan dengan kebutuhan di sektor lainnya, terutama sektor pangan.
Selain itu, perlu juga kebijakan yang mendukung riset dan pengembangan teknologi SAF. Terakhir, transparansi dalam praktik produksi dan distribusi SAF juga penting untuk membantu memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak, mengurangi dampak buruk, dan menjaga keadilan sosial dalam transisi energi.
“Kolaborasi antara produsen energi dan pemerintah sangat penting untuk menciptakan rantai pasokan SAF yang kuat, serta mengeksplorasi dan mengelola bahan baku SAF,” kata Anand Stanley, Presiden Airbus Asia Pacific yang turut hadir dalam diskusi tersebut.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan