Perubahan Iklim Perparah Masalah Malnutrisi di Indonesia
Foto: Ifansasti/UNICEF.
Nutrisi yang baik dan seimbang merupakan elemen fundamental dan krusial dalam kehidupan setiap orang, khususnya anak-anak. Namun, pada kenyataannya, malnutrisi masih menjadi masalah yang melekat di tengah masyarakat Indonesia, dan keadaannya semakin mengkhawatirkan di tengah perubahan iklim. Laporan UNICEF mengurai bagaimana perubahan iklim telah memperparah masalah malnutrisi di Indonesia dan memetakan area intervensi prioritas untuk mengatasi masalah ini.
Malnutrisi di Indonesia
Malnutrisi merujuk pada kondisi kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan asupan energi dan/atau nutrisi seseorang. Menurut WHO, kondisi malnutrisi terdiri dari 3 kelompok besar yang juga menjadi beban utama di Indonesia, yakni:
- Gizi buruk, yang meliputi wasting (berat badan rendah menurut tinggi badan), stunting (terlalu pendek menurut umur) dan underweight (berat badan rendah menurut umur).
- Kelebihan berat badan (overweight), obesitas dan penyakit tidak menular yang berhubungan dengan pola makan (seperti penyakit jantung, stroke, diabetes dan beberapa jenis kanker).
- Malnutrisi terkait mikronutrien, yang meliputi defisiensi mikronutrien (kekurangan vitamin dan mineral penting) atau kelebihan mikronutrien.
Di Indonesia, 1 dari 5 anak balita (lebih dari 4,5 juta) mengalami stunting, yang menghambat anak mencapai potensi fisik dan kognitifnya. Sekitar 4,5 juta anak Indonesia mengalami wasting, dengan lebih dari 460.000 di antaranya mengalami wasting parah. Selain itu, hampir satu juta balita, 1 dari 5 anak usia sekolah (5-12 tahun), dan 1 dari 7 remaja usia 13-18 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Pola makan dan praktik pemberian makan yang kurang memadai serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan merupakan faktor kunci yang menyebabkan permasalahan ini. Kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, infrastruktur yang tidak layak, frekuensi bencana alam yang tinggi, dan faktor lain terkait lingkungan hidup dan iklim turut memperparah keadaan.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Penanganan Malnutrisi
Laporan UNICEF memaparkan bahwa terdapat banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa perubahan iklim menghambat kemajuan dalam mengurangi malnutrisi pada anak. Perubahan iklim dan guncangan yang disebabkan oleh iklim secara langsung membahayakan kuantitas, keragaman, dan kualitas makanan yang tersedia bagi anak-anak dan keluarga mereka. Selain itu, perubahan iklim juga berdampak negatif terhadap praktik pemberian makan dan pengasuhan anak, serta merusak lingkungan sehat yang penting bagi kecukupan gizi.
Dalam hal ketersediaan pangan, misalnya, peningkatan suhu yang berkaitan dengan perubahan iklim dapat meningkatkan kebutuhan air pada tanaman, mempercepat pematangan buah dan biji, menurunkan kualitas panen, serta mengganggu fungsi dan kesuburan tanah. Guncangan yang dipicu oleh iklim, seperti gelombang panas yang ekstrem atau banjir, dapat menghambat produktivitas tenaga kerja pertanian, memengaruhi panen dan produksi, dan mengganggu rantai pasok makanan, dan pada gilirannya menyebabkan kenaikan harga pangan dan memengaruhi kemampuan keluarga dalam mengakses pangan. Perubahan iklim juga meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan wabah hama, dengan dampak yang sangat buruk pada sistem tanaman pangan dan tanaman komersial.
Selain dampak langsung tersebut, perubahan iklim secara tidak langsung juga mengganggu faktor-faktor pendukung gizi, merusak mata pencaharian dan pendapatan keluarga dan masyarakat, serta mempertajam kesenjangan sosial-ekonomi. Secara keseluruhan, temuan-temuan yang ada menunjukkan bahwa perubahan iklim berdampak buruk terhadap mata pencaharian di Indonesia melalui berbagai jalur. Masyarakat yang bergantung pada pertanian dan perikanan sangat rentan terhadap pengaruh iklim dan kejadian ekstrem, yang mengakibatkan penurunan produktivitas pertanian dan peningkatan risiko gagal panen, serta berdampak negatif terhadap stok ikan dan praktik penangkapan ikan.
Perubahan iklim yang semakin parah dan tantangan malnutrisi yang terus berlanjut di Indonesia meningkatkan ancaman terhadap kesejahteraan anak-anak dan melemahkan hak dasar mereka untuk mendapatkan nutrisi yang cukup dan makanan sehat. Kondisi ini menimbulkan tantangan yang serius mengingat setiap daerah menghadapi dampak perubahan iklim yang berbeda-beda karena karakteristik geografis, kondisi sosial-ekonomi, dan kapasitas untuk mengatasi dan memitigasi dampak. Untuk itu, laporan tersebut juga menyediakan peta area intervensi prioritas untuk mengembangkan dan memvisualisasikan indeks risiko sederhana yang dapat membantu mengidentifikasi area- area tersebut.
Rekomendasi
Laporan tersebut diakhiri dengan sejumlah rekomendasi untuk memprioritaskan intervensi berikut sebagai langkah untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap pemenuhan nutrisi di Indonesia:
- Merespons: Memastikan cakupan dan kualitas layanan esensial untuk pencegahan segala bentuk malnutrisi dan penanganan wasting pada anak, sebelum, selama, dan setelah keadaan darurat iklim.
- Beradaptasi: Mengembangkan kebijakan, rencana, dan strategi, serta menerapkan gizi yang adaptif terhadap perubahan iklim.
- Mitigasi: Mendesain ulang lingkungan pangan untuk mendukung perilaku pola makan yang sehat dan ramah iklim dengan menciptakan pola makan sehat yang berkelanjutan tersedia secara luas pada masyarakat, sekolah, dan tempat lain di mana anak-anak bertemu, belajar, dan bermain.
- Transformasi: Meningkatkan kesadaran akan isu perubahan iklim, gizi, dan kemiskinan pangan, serta membangun kapasitas pemuda untuk menjadi advokat untuk sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan adil yang dapat mendukung pola makan yang bermanfaat bagi kesehatan manusia dan planet Bumi.
- Mengukur: Memprioritaskan pengumpulan, analisis, dan penyebaran data gizi anak yang berkualitas untuk menilai akses anak terhadap pola makan, layanan, dan praktik-praktik yang dapat mencegah segala bentuk malnutrisi. Selain itu, menilai sejauh mana pembiayaan untuk gizi anak responsif terhadap dampak perubahan iklim dan bagaimana pembiayaan iklim berkontribusi dalam mengatasi malnutrisi pada anak.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan