Hilirisasi Kelapa dan Potensi Dampak Buruk yang Mesti Diantisipasi
Foto: Nipanan Lifestyle di Unsplash.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pertanian dan perkebunan dengan berbagai komoditas yang menjanjikan, salah satunya kelapa. Di banyak daerah, kelapa telah menjadi produk perkebunan andalan yang berkontribusi terhadap perekonomian lokal. Mengingat besarnya potensi ekonomi yang dapat digali dari kelapa, pemerintah meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045 yang bertujuan mendorong hilirisasi industri berbasis sumber daya pertanian. Namun, ada potensi dampak buruk yang mesti diantisipasi dari ambisi ini.
Kelapa di Indonesia
Kelapa adalah tumbuhan yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Dari akar, buah, hingga pelepahnya, semuanya dapat dimanfaatkan. Buahnya saja dapat menghasilkan sabut dan batok yang dapat diolah dan digunakan untuk berbagai keperluan, di samping air dan dagingnya yang dapat dikonsumsi secara langsung.
Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia bersama Filipina dan India. Pada tahun 2022, Indonesia bahkan berada di puncak dengan produksi kelapa mencapai 17,19 juta metrik ton. Secara umum, kelapa tumbuh di seluruh wilayah Indonesia; namun Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Jawa Timur, merupakan beberapa provinsi penghasil kelapa paling signifikan di Indonesia.
Hilirisasi Kelapa
Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045 disusun berdasarkan berbagai persoalan dalam produksi kelapa dan produk-produk turunannya, salah satunya terkait diversifikasi yang dinilai masih rendah. Industri kelapa di Indonesia belum banyak memanfaatkan riset dan inovasi sehingga produk turunan yang dihasilkan masih terbatas pada produk turunan kedua dan ketiga seperti minyak kelapa dan santan.
Masalah lainnya adalah pola budidaya petani yang secara umum masih dilakukan secara tradisional, seringkali melibatkan penggunaan benih berkualitas rendah, pola tanam yang tidak teratur, dan tanpa dilengkapi dengan tata air mikro, sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas. Selain itu, kurangnya integrasi antara pemangku kepentingan dan rendahnya sumber daya manusia juga menjadi permasalahan yang disorot.
Peta Jalan ini mencakup empat arah kebijakan dengan beberapa isu strategis seperti budidaya, pengolahan, pemasaran, dan ekosistem. Empat arah kebijakan tersebut adalah:
- Peningkatan produktivitas kelapa untuk mendukung hilirisasi kelapa.
- Peningkatan inovasi dan diversifikasi produk turunan kelapa.
- Peningkatan integrasi industri kelapa di dalam negeri dan kontribusi ekspor.
- Penguatan tata kelola perkelapaan dan ekosistem pemampu.
Untuk peningkatan diversifikasi, peta jalan tersebut memberikan analisis mengenai beberapa produk turunan kelapa di masa depan yang berpotensi untuk dikembangkan, seperti cat anti radar, carbon black dari tempurung kelapa, bioavtur, plant based coconut milk (susu kelapa), briket arang kelapa, dan lapisan rompi anti peluru dari serat air kelapa. Peta jalan tersebut juga mengurai kendala yang perlu diatasi dalam hilirisasi produk utama kelapa saat ini seperti nata de coco, activated carbon (karbon aktif), tepung kelapa, sabut kelapa, dan industri kepala secara umum.
Lebih lanjut, peta jalan ini mencakup pula inisiasi pengembangan data rantai pasok kelapa dalam bentuk tabel konversi. Adapun hilirisasi kelapa telah menjadi amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, RPJMN 2025-2029, dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025.
“99 persen luas areal kelapa di Indonesia dilakukan usahanya oleh masyarakat, berstatus perkebunan rakyat. Karena itu, kita berharap hilirisasi kelapa Indonesia ke depan bisa menjadi pengungkit untuk mensejahterakan para petani atau masyarakat pada umumnya yang berkecimpung di perkelapaan,” kata Suharso Monoarfa, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).
Potensi Dampak Buruk dari Industri Kelapa

Selama ini, banyak orang yang menyoroti dampak buruk dari kelapa sawit, namun jarang yang menyelidiki atau mempertanyakan dampak buruk dari kelapa. Sebuah penelitian dari School of Anthropology and Conservation (SAC) University of Kent mengungkap bahwa pohon kelapa mengancam spesies lima kali lebih banyak daripada kelapa sawit.
Penelitian yang ditulis untuk Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) itu mengungkap bahwa setiap juta ton produksi minyak kelapa berdampak pada 20 spesies yang terancam, termasuk tumbuhan dan hewan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya, seperti kelapa sawit (3,8 spesies per juta ton), zaitun (4,1 spesies per juta ton), dan kedelai (1,3 spesies per juta ton).
Menurut penelitian tersebut, alasan utama tingginya jumlah spesies yang terkena dampak adalah karena kelapa sebagian besar tumbuh di pulau-pulau tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati dan banyak spesies unik. Budidaya kelapa diperkirakan berkontribusi terhadap kepunahan sejumlah spesies pulau, termasuk tarsius Sangihe, primata yang hidup di Pulau Sangihe dan kancil Balabac yang hidup di tiga pulau di Filipina.
Lebih lanjut, para peneliti yang terlibat dalam penelitian tersebut menekankan bahwa konsumen tidak memiliki panduan objektif mengenai dampak produksi kelapa terhadap lingkungan. Hal ini pada akhirnya berdampak pada kemampuan konsumen untuk membuat keputusan yang tepat.
“Hasil penelitian kami sungguh mengejutkan. Banyak konsumen di negara barat menganggap produk kelapa menyehatkan dan produksinya relatif tidak berbahaya bagi lingkungan. Ternyata, kita perlu memikirkan kembali dampak dari kelapa,” kata Erik Meijaard, Profesor Konservasi dari University of Kent yang menjadi penulis utama penelitian tersebut.
Ekonomi yang Tidak Mengorbankan Lingkungan
Pada akhirnya, setiap upaya peningkatan ekonomi mesti dilakukan tanpa mengorbankan lingkungan alam dan keanekaragaman hayati. Ambisi untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah kelapa melalui hilirisasi mesti mempertimbangkan berbagai aspek dan potensi dampak buruk yang mungkin ditimbulkan. Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan tidak hanya penting dalam proses produksi, melainkan juga dalam rangka mengantisipasi bahaya yang dapat merugikan lingkungan dan berdampak buruk pada kehidupan sosial masyarakat.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB