Mewujudkan Transportasi Kereta Api yang Lebih Berkelanjutan
Kereta api. | Foto: PT KAI.
Kereta api telah menjadi salah satu moda transportasi yang penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. Selain membawa banyak orang bepergian, kereta api juga dapat mengangkut barang dalam jumlah besar dalam sekali waktu. Dengan tingkat konsumsi energi yang lebih kecil dan efisien dibanding moda transportasi lain, kereta api dianggap sebagai moda transportasi yang minim emisi dan “paling ramah lingkungan”. Namun, upaya untuk mewujudkan transportasi kereta api yang berkelanjutan mesti ditingkatkan dengan tidak sebatas pada aspek lingkungan.
Keunggulan Kereta Api
Kereta api termasuk salah satu moda transportasi umum yang dapat diandalkan. Dari sisi efisiensi waktu dan biaya, kereta api telah menjadi pilihan para komuter yang bekerja atau beraktivitas di perkotaan maupun orang-orang yang hendak menempuh perjalanan jauh ke luar daerah. Dari segi kapasitas, transportasi bebas kemacetan ini dapat mengangkut banyak barang dengan gerbong yang relatif besar.
Dengan konsumsi bahan bakar 0,002 liter per kilometer/penumpang, emisi karbon dioksida (CO2) dari kereta api menjadi yang paling rendah dibandingkan dengan pesawat terbang, kapal laut, dan bahkan mobil dan sepeda motor pribadi. Dengan keunggulan tersebut, kereta api pun disebut-sebut sebagai salah satu solusi untuk permasalahan perubahan iklim dari sektor transportasi.
Langkah Operator Kereta Api
Terkait hal ini, para operator kereta api di Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk menciptakan ekosistem transportasi yang berkelanjutan. Namun sayangnya, berbagai upaya yang telah dilakukan sejauh ini masih lebih banyak berfokus pada isu lingkungan. PT KAI, misalnya, mulai menggunakan panel surya (PLTS) atap di sejumlah stasiun dan balai yasa dan secara bertahap menerapkan penggunaan biosolar sebagai bahan bakar armada kereta apinya.
Operator lainnya, PT KCI, menerapkan konsep ramah lingkungan di beberapa stasiun, seperti Stasiun Sudirman, Stasiun Jurangmangu, dan Stasiun Klender. Sedangkan PT MRT Jakarta telah membangun pengisi daya tenaga surya di lingkungan Stasiun Dukuh Atas, mengurangi penggunaan listrik konvensional dari PLN dan mengadopsi pemanfaatan listrik tenaga surya, serta membuat Peta Jalan Keberlanjutan 2022-2030 dan menerbitkan Laporan Keberlanjutan sejak 2021.
Tantangan
Ada banyak tantangan dalam perjalanan menuju sektor transportasi yang berkelanjutan, termasuk kereta api. Salah satunya menyangkut pembiayaan, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan sektor ini.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, “Untuk menciptakan transportasi hijau, berkelanjutan, berkeadilan, dan berkeselamatan, butuh cost yang tinggi. Tetapi kalau ini tidak diwujudkan, masalah polusi dan perubahan iklim tidak bisa kita atasi.”
Untuk itu, Budi mendorong seluruh pemangku kepentingan terkait untuk bersinergi dan bekerja sama dalam mengatasi tantangan pembiayaan ini, salah satunya dengan mendorong pembiayaan hijau di sektor perkeretaapian. “Semua pihak mesti memiliki pemikiran yang sama bahwa pembangunan transportasi massal seperti kereta api adalah suatu keharusan karena berperan penting untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, dan kereta api adalah yang paling rendah emisi gas buangnya dibandingkan moda transportasi lain,” katanya.
Kereta Api Berkelanjutan
Dari aspek lingkungan, selain soal emisi yang telah disebutkan, sektor perkeretaapian juga mesti mempertimbangkan berbagai risiko dan dampak lingkungan yang lain, termasuk keselamatan keanekaragaman hayati dan ekosistem dalam pengelolaan lahan dan berbagai kegiatan lainnya.
Namun, keberlanjutan bukan hanya tentang lingkungan. Aspek sosial-ekonomi tidak boleh ditinggalkan dalam mencapai keberlanjutan di sektor perkeretaapian. Menerapkan ekonomi sirkular dan rantai nilai yang berkelanjutan, memastikan pekerjaan yang layak untuk para pekerja, dan mengakui keberagaman masyarakat sangat penting untuk menciptakan transportasi kereta api yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan dapat diakses oleh semua orang.
Kereta api mesti didesain dengan mempertimbangkan faktor keselamatan, keamanan, aksesibilitas, dan kenyamanan semua orang, termasuk perempuan, anak-anak, difabel, dan lansia. Oleh karena itu, Rencana Induk Perkeretaapian Nasional dan berbagai panduan lainnya mesti memuat komitmen dan strategi keberlanjutan yang jelas dan kuat untuk mendukung tercapainya tujuan itu.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat