Meningkatkan Kesejahteraan Petani Tebu melalui Pendanaan Digital
Foto oleh Bishnu Sarangi di Pixabay.
Gula merupakan salah satu komoditas yang penting dalam sistem rantai pangan. Kebutuhan akan gula berdampingan dengan kebutuhan bahan-bahan pokok lainnya. Dalam konteks ekonomi nasional, gula merupakan salah satu bahan pangan pokok strategis untuk memenuhi kebutuhan kalori bagi masyarakat maupun industri makanan dan minuman.
Di Indonesia, defisit gula sudah berlangsung sejak tahun 1967, padahal Indonesia memiliki lahan tebu yang cukup luas. Sebagai solusi cepat, setiap tahun Indonesia mengimpor gula. Pada 2021, impor gula Indonesia mencapai 5,45 juta ton. Hal ini terjadi salah satunya karena keterbatasan ketersediaan pupuk dan alat pertanian untuk menunjang produktivitas tebu dan meningkatkan rendemen gula. Selain itu, faktor modal juga menjadi masalah serius yang dihadapi para petani tebu.
Masalah itu menjadi perhatian Panenin, yang berkomitmen untuk membantu petani tebu meningkatkan produksi pertanian dan mendukung komitmen pemerintah mencapai swasembada gula pada 2024. Bekerja sama dengan sub-holding BUMN PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Panenin bertujuan untuk mendukung petani dalam penyediaan pupuk dan peralatan pertanian melalui pendanaan digital.
Masalah Produktivitas Gula di Indonesia
Berbagai kebijakan untuk meningkatkan produktivitas gula nasional telah dijalankan oleh pemerintah Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Namun, Asosiasi Gula Indonesia mencatat bahwa kebijakan yang selama ini dibuat justru memunculkan masalah karena tidak sinkron dengan kondisi dan kebutuhan industri gula di lapangan. Beberapa faktor yang menjadi penyebab antara lain:
- Perubahan pola kredit dari KKPE (Kredit Ketahanan Pangan dan Energi) menjadi KUR (Kredit Usaha Rakyat). Ini membuat fungsi avalis pabrik gula (PG) terhadap kredit petani dihapus dan kekuatan PG untuk mengikat petani menjadi hilang.
- Pembangunan pabrik-pabrik gula baru di Jawa menyebabkan keterbatasan lahan dan timbulnya persaingan antar-PG dalam memperoleh bahan baku tebu.
- Kebijakan impor gula menyebabkan harga di tingkat petani semakin tertekan.
- Berkembangnya sistem pembelian tebu putus dari petani oleh PG, menyebabkan dikotomi antara PG kuat dan PG lemah.
Lin Che Wei, CEO lembaga riset Independent Research Advisory Indonesia (IRAI), menyebut bahwa faktor yang memicu rendahnya produksi gula Indonesia antara lain kualitas bibit yang rendah, praktik pertanian yang masih menerapkan sistem tradisional, serta operasional dan manajemen transportasi yang terbatas. “Ini bisa diatasi dengan mengadopsi digitalisasi sebagai solusinya,” katanya.
Jamin Ketersediaan Pupuk
Kerja sama antara Panenin dan PT SGN ditandai dengan penandatanganan MoU pada 26 Oktober 2022. Melalui teknologi digital, startup ini berkomitmen membantu meningkatkan hasil panen Indonesia dan menyejahterakan para petani. Tidak hanya pendanaan, Panenin juga akan memberikan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas panen tebu hingga 20 persen.
Sebagai pilot project dengan PT SGN, Panenin menjamin ketersediaan pupuk bagi petani di Pabrik Gula Semboro, Jawa Timur. “Kami punya gudang pusat sendiri di Jember yang bisa menjamin tidak ada kelangkaan pupuk hingga akhir masa tanam. Kita juga sudah kerjasama dengan partner besar lainnya untuk bisa bergabung dengan program pupuk Panenin ini,” kata CEO Panenin, Ailsa Dhelcythalia Callista.
Direktur Utama PT SGN Aris Toharisman meyakini bahwa aplikasi yang disiapkan Panenin akan mampu menjawab tantangan yang dihadapi oleh para petani yang membutuhkan modal serta pabrik gula yang membutuhkan bahan baku tebu yang berkualitas. “Ke depan, kami berharap pilot project di Pabrik Gula Semboro ini dapat dikembangkan di pabrik gula yang lain,” kata Aris.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest