Pemprov Sulsel Luncurkan Aplikasi Inzting untuk Perbaiki Penanganan Stunting
Foto: Christoffer Zackrisson di Unsplash.
Stunting merupakan persoalan serius di Indonesia. Di semua provinsi, angka stunting masih cukup memprihatinkan, termasuk di Sulawesi Selatan (Sulsel). Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan pada 2022, prevalensi stunting di Sulsel mencapai 27,2%, menempatkan Sulsel di peringkat ke-10 dalam daftar provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Untuk meningkatkan upaya penanganan stunting, Pemprov Sulsel meluncurkan aplikasi Inzting yang akan menyediakan data terpadu satu pintu yang dapat digunakan oleh semua instansi.
Stunting di Sulawesi Selatan
WHO mendefinisikan stunting sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Di Indonesia, jumlah balita yang mengalami stunting mencapai 21,6% atau sekitar 4,6 juta jiwa pada 2022. Meski telah mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut masih jauh dari target penurunan sebesar 14% pada tahun 2024, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Di Sulawesi Selatan, kasus balita stunting tersebar di 21 kabupaten dan 3 kota. Pada 2022, terdapat 14 kabupaten dengan prevalensi stunting di atas rata-rata angka provinsi (27,2%). Kabupaten Jeneponto (39,8%), Kabupaten Tana Toraja (35,4%), Kabupaten Pangkajene (34,2%), dan Kabupaten Toraja Utara (34,1%) merupakan empat daerah dengan penyumbang angka stunting tertinggi.
Selain minimnya akses dan ketersediaan bahan makanan bergizi dan air bersih serta buruknya sanitasi dan kesehatan lingkungan, tingginya angka stunting di Sulsel tidak terlepas dari buruknya sistem pendataan yang ada selama ini, di mana ada beberapa sumber data yang saling tumpang tindih dan masing-masing instansi kerap menggunakan data yang berbeda.
Penanganan Stunting di Sulawesi Selatan
Pemprov Sulsel telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan penanganan stunting, terutama sejak diterbitkannya Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 19 Tahun 2022. Beberapa di antaranya adalah
- Meluncurkan buku pedoman berjudul “Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) dalam Percepatan Penurunan Stunting” bekerja sama dengan UNICEF Indonesia, Tanoto Foundation, dan Yayasan Jenewa Madani Indonesia.
- Mengadakan Program Rumah Gizi dan Ambulans yang dikhususkan bagi ibu dan bayi, dengan memberikan intervensi langsung kepada ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK).
- Membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan menggerakan tim pendamping penanganan stunting di seluruh kabupaten dan kota.
- Bekerja sama dengan perguruan tinggi, TNI, dan Polri dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Terbaru, pada 3 Oktober 2023, Pemprov Sulsel meluncurkan aplikasi Inzting, yaitu aplikasi satu data untuk mengakses seluruh komponen pengentasan stunting di Provinsi Sulsel. Inzting, akronim dari Ikhtiar Menzerokan Stunting, merupakan inovasi dari Pemerintah Kabupaten Takalar yang diadopsi oleh Pemprov Sulsel untuk diberlakukan di semua kabupaten/kota di Sulsel. Aplikasi ini memuat data mulai dari hulu ke hilir berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), termasuk data penduduk remaja perempuan, perempuan menikah, perempuan melahirkan, dan bayi di bawah lima tahun secara real time.
“Penduduk Sulawesi Selatan ini tersebar. Ada yang tinggal di pulau-pulau, ada di gunung, ada di lembah-lembah. Maka itu harus ada satu data yang dapat digunakan oleh seluruh instansi. Supaya uang yang terbatas bisa digunakan secara efektif, agar penanganan stunting bisa tepat sasaran, merata, dan datanya tidak terduplikasi,” kata Penjabat Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin.
Perlu Upaya Masif
Penanganan stunting adalah hal mendasar dalam agenda pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas untuk mendukung tercapainya Visi Indonesia Emas 2045. Melihat kondisi yang ada sejauh ini, perlu ada upaya strategis, koheren, dan masif untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Kerjasama antar-pemangku kepentingan lintas-sektor baik pemerintah maupun swasta akan sangat berarti dalam mendukung langkah ini. Inovasi dalam strategi pengentasan dan dukungan pembiayaan juga merupakan hal yang krusial.
“Stunting memiliki efek jangka panjang pada kualitas kesehatan generasi penerus Indonesia. Jika kita mengharapkan generasi emas Indonesia pada 2045, pencegahan stunting harus lebih masif dilakukan,” ujar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan