Penelitian: Isu Perubahan Iklim & Transisi Energi Belum Jadi Fokus Utama Partai Politik
Foto: Burkhard Kaufhold di Unsplash.
Perubahan iklim dan transisi energi telah menjadi pembahasan penting berbagai pihak. Namun, di kalangan partai politik (parpol) di Indonesia, dua isu tersebut belum menjadi fokus utama. Padahal, parpol punya peran besar dan strategis dalam menentukan kebijakan negara terkait masalah iklim. Penelitian Yayasan Indonesia Cerah yang diluncurkan pada September 2023 mengungkap bahwa mayoritas partai politik yang berada di dalam parlemen belum menempatkan isu perubahan iklim dan transisi energi sebagai agenda serius dalam kebijakan mereka.
Isu Perubahan Iklim
Dampak perubahan iklim telah semakin nyata. Kekeringan ekstrem, tenggelamnya pesisir dan pulau-pulau kecil, kebakaran lahan dan hutan, kerusakan ekosistem, kelangkaan air bersih dan krisis pangan, hingga wabah penyakit, telah membuat banyak manusia dan semua makhluk hidup di Bumi menderita.
Di tengah kondisi tersebut, kesadaran akan pentingnya kebijakan iklim semakin meningkat, khususnya di kalangan anak muda. Survei yang dilakukan Indikator Politik dan Yayasan Indonesia Cerah menunjukkan bahwa anak muda di Indonesia menganggap perubahan iklim sebagai isu penting dalam kehidupan. Masyarakat secara umum juga semakin kritis dalam memantau janji-janji politik terkait kebijakan yang berhubungan dengan isu perubahan iklim dan transisi energi.
Temuan Kunci
Penelitian bertajuk “Rekam Jejak Partai Politik di Isu Iklim dan Transisi Energi: Analisis atas Temuan Media dan Platform Partai” itu menggunakan strategi sampel terstruktur dengan kriteria partai politik yang lolos ambang batas pada Pemilu 2019 dan 10 media daring nasional dengan pembaca terbanyak. Penarikan data dilakukan dengan memantau pemberitaan di 10 media daring tersebut yang memuat kutipan atau pernyataan para politisi terkait isu transisi energi dan perubahan iklim berdasarkan sejumlah kata kunci seperti perubahan iklim, krisis iklim, bencana iklim, energi terbarukan, pendanaan transisi energi, dan green jobs.
Beberapa temuan kunci yang diperoleh dari penelitian tersebut di antaranya:
- Hanya dua parpol yang memiliki platform khusus untuk membicarakan isu lingkungan, yakni PAN dan PKS.
- Hanya empat parpol yang mengakui pentingnya dekarbonisasi industri dalam aksi iklim, yakni PKS, PKB, Golkar, dan PDIP.
- Perempuan, buruh, kelompok difabel, dan kaum marjinal secara umum belum menjadi elemen yang dipertimbangkan dalam isu perubahan iklim partai politik.
- Belum ada partai politik yang membahas aspek keadilan dalam transisi energi.
- Belum banyak partai politik yang membahas green jobs terkait transisi energi.
- Hampir semua politisi dan partai politik masih gagal dalam menyadari pentingnya elemen tenaga kerja, masyarakat adat, gender, kelompok difabel, dan inklusi sosial, serta masyarakat di tingkat tapak dalam kebijakan iklim dan transisi energi.
“Seringkali kader partai menyampaikan usulan kebijakan mengenai perubahan iklim dan transisi energi, tetapi tidak ada tindak lanjut. Pembahasan juga sering terhenti sehingga tidak ada kebijakan dan program tertulis yang dihasilkan yang dapat menjadi pegangan bagi setiap kader,” kata Wicaksono Gitawan, peneliti Yayasan Indonesia Cerah saat memaparkan hasil penelitiannya di Jakarta, 13 September 2023.
Rekomendasi
Penelitian tersebut memberikan sejumlah rekomendasi bagi partai politik untuk meningkatkan kebijakan terkait iklim dan transisi energi di Indonesia. Beberapa di antaranya:
- Menyusun platform politik terkait perubahan iklim dan transisi energi, serta mempertanggungjawabkan akuntabilitas dan transparansi.
- Memperhatikan aspek keadilan saat membahas isu transisi energi, termasuk mempertimbangkan masalah tenaga kerja dan semua kelompok yang terdampak.
- Melihat interseksionalitas isu perubahan iklim dan transisi energi dengan isu lainnya serta mempertimbangkan aspek kesetaraan gender, kelompok difabel, dan inklusi sosial untuk membedakan kebutuhan dan peran masing-masing kelompok tersebut dalam upaya pengendalian perubahan iklim.
- Mengutamakan temuan penelitian dan masukan dari peneliti terkait pengendalian perubahan iklim agar kebijakan dan langkah yang diambil berbasis ilmiah.
- Menghubungkan isu perubahan iklim dengan konteks kelokalan, termasuk mendesentralisasi solusi.
Hasil penelitian selengkapnya dapat dibaca di sini.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest