Pinjaman Hijau sebagai Strategi Pembiayaan Berkelanjutan untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi
Foto: Muhammad Daudy di Unsplash.
Mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah cita-cita bersama. Berbagai pihak, mulai di tingkat akar rumput hingga pemerintah dan bisnis, telah berupaya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan demi manusia dan planet Bumi tanpa meninggalkan seorang pun di belakang (leave no one behind). Namun, jalan masih panjang untuk sampai di garis finis target. Berbagai tantangan muncul di tengah upaya yang telah, sedang, dan akan kita lakukan, salah satunya terkait masalah pembiayaan.
Di tengah tantangan tersebut, model pembiayaan berkelanjutan—termasuk berupa pinjaman hijau—hadir untuk menawarkan solusi. Pinjaman hijau dapat menjadi jalan keluar ketika sebuah inisiatif atau proyek hijau terbentur masalah pendanaan.
Mengenal Pinjaman Hijau
Pinjaman hijau (green loan), atau sering juga disebut pinjaman ramah lingkungan, adalah suatu bentuk pembiayaan yang memungkinkan peminjam menggunakan biaya yang diperoleh untuk mendanai proyek-proyek yang memberikan kontribusi besar terhadap tujuan lingkungan. Menurut Bank Dunia, pinjaman hijau mirip dengan obligasi hijau (green bond) karena pinjaman ini meningkatkan modal untuk proyek-proyek yang memenuhi syarat ramah lingkungan.
Suatu pinjaman dapat dikategorikan sebagai pinjaman hijau jika disusun selaras dengan Prinsip-Prinsip Pinjaman Hijau berdasarkan empat hal berikut:
- Penggunaan hasil: Inisiatif atau proyek hijau yang diusung dan akan dikerjakan harus memberikan manfaat lingkungan yang jelas, yang akan dinilai, diukur, dan dilaporkan oleh peminjam.
- Evaluasi dan seleksi: Peminjam harus menjelaskan cara pengorganisasian proyek atau inisiatif yang akan dilakukan, termasuk bagaimana mengelola risiko lingkungan dan sosial dari proyek yang memenuhi syarat.
- Pengelolaan hasil: Hasil pinjaman hijau dikreditkan ke rekening khusus untuk menjaga transparansi dan meningkatkan integritas produk.
- Pelaporan: Prinsip ini merekomendasikan penggunaan indikator kinerja kualitatif dan, jika memungkinkan, ukuran kinerja kuantitatif (misalnya: kapasitas energi, pembangkitan listrik, pengurangan/penghindaran emisi gas rumah kaca, dan lain sebagainya).
Contoh Pinjaman Hijau di Indonesia
Beberapa bank telah menunjukkan langkah mereka dalam memberikan pinjaman hijau dalam beberapa tahun terakhir. BTPN, misalnya, telah menyalurkan pinjaman hijau senilai total Rp6,9 triliun kepada beberapa perusahaan swasta dan negara pada tahun 2022. Di antaranya Rp1,06 triliun kepada PT Kepland Investama untuk pembiayaan pembangunan gedung International Financial Centre (IFC) yang diklaim ramah lingkungan; dan Rp1,46 triliun kepada PT PLN untuk keperluan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT).
Contoh lainnya, Bank HSBC Indonesia memberikan pinjaman berjangka hijau (green term loan) sebesar 20 juta dolar AS atau setara Rp307 miliar kepada PT Indo-Rama Synthetics Tbk pada September 2023. Pinjaman hijau tersebut bertujuan untuk mendukung upaya Indorama dalam mengurangi konsumsi energi dalam operasi mereka melalui instalasi mesin baru dengan teknologi dan penggunaan energi yang lebih efisien pada perluasan pabrik benang pintal; serta untuk meningkatkan pencapaian prinsip ESG (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) Indorama secara keseluruhan.
Setahun sebelumnya, HSBC juga memberikan pinjaman hijau sebesar Rp27 miliar kepada PT Eco Paper Indonesia yang bermaksud untuk meningkatkan produksi kertas daur ulang dari bahan yang dikumpulkan dari TPA dan jalanan.
“Perjalanan menuju dekarbonisasi membutuhkan kolaborasi lintas-pemangku kepentingan dan kami menyadari dampak terbesar yang dapat kami ciptakan adalah dengan terus membantu nasabah kami mengurangi emisi yang dihasilkan dalam operasional mereka,” kata Riko Tasmaya, Managing Director dan Head of Wholesale Banking HSBC Indonesia.
Meningkatkan Pembiayaan Berkelanjutan
Mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim dan berbagai target SDGs lainnya memerlukan dukungan dan partisipasi dari seluruh pemangku kepentingan di berbagai sektor. Saat ini, seiring dampak perubahan iklim dan polikrisis yang semakin nyata di berbagai tempat, kesadaran akan pentingnya keberlanjutan (sustainability) di dalam praktik bisnis semakin meningkat, termasuk di kalangan konsumen dan pekerja.
Namun, mengingat kesenjangan pembiayaan masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proyek-proyek berkelanjutan, perlu ada kebijakan, kerangka kerja, dan inovasi untuk meningkatkan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia. Kemitraan dan sinergi lintas-sektor baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional perlu untuk terus ditingkatkan.
Di Indonesia, ada program ASSIST (Accelerating Sustainable Development Goals Investment in Indonesia), yang menggunakan berbagai instrumen pembiayaan inovatif dari sumber pemerintah dan non-pemerintah seperti obligasi berkelanjutan pemerintah, obligasi berkelanjutan korporasi, dan sukuk berkelanjutan untuk mengisi kesenjangan pembiayaan SDGs. Program kerja sama badan-badan PBB tersebut dapat menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat membantu meningkatkan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
Pada akhirnya, mendukung kelancaran pertumbuhan ekonomi akan berdampak signifikan dalam membantu Indonesia mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan memitigasi dampak perubahan iklim. “Hambatan finansial, yang ditandai dengan tingginya biaya di muka dan terbatasnya akses permodalan membayangi jalan menuju pembangunan gedung dan infrastruktur berkelanjutan dengan prinsip efisiensi energi. Melalui insentif fiskal dan inovasi instrumen pembiayaan, kita punya kekuatan untuk membuka jalan bagi perubahan yang berkelanjutan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam seminar bertajuk “Energy Efficient Mortgage (EEM) Development throughout ASEAN Countries” di Hotel Mulia Jakarta pada 22 Agustus 2023.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan