Perempuan Inovasi: Kolaborasi untuk Tingkatkan Keterampilan Digital Perempuan
21 Juni 2023
Foto oleh: Markoding.
Keterampilan di bidang teknologi digital merupakan modal penting untuk menghadapi tantangan dalam dunia kerja dan berbagai aspek lain pembangunan berkelanjutan. Namun, kesenjangan digital berbasis gender masih berlangsung hingga hari ini di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Berangkat dari persoalan tersebut, Markoding dalam kolaborasi dengan Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Magnifique Indonesia, mengadakan program Perempuan Inovasi. Program beasiswa ini memberikan pelatihan keterampilan digital gratis bagi remaja perempuan dan perempuan muda sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan terkait gender.
Kesenjangan Digital Berbasis Gender
Laporan UNICEF bertajuk “Menjembatani Kesenjangan Digital Berbasis Gender” mengungkap bahwa sekitar 65 juta remaja perempuan dan perempuan muda berusia antara 15-24 tahun tidak memiliki akses ke internet. Sementara itu, penelitian oleh S&P Global pada tahun 2021 menemukan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu sektor terburuk dalam masalah ketimpangan gender. Penelitian tersebut memperkirakan bahwa hanya ada sekitar sepertiga dari profesional di bidang TIK di seluruh dunia yang merupakan perempuan.
Di Indonesia, kesenjangan digital berbasis gender juga terjadi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Menurut data BPS tahun 2020, hanya ada 29% perempuan berijazah pendidikan tinggi yang bekerja di bidang STEM. Kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar, diskriminasi, stigma, dan stereotip gender, merupakan sederet hambatan yang menyebabkan banyak perempuan meninggalkan karier mereka di bidang STEM.
Meningkatkan Keterampilan Digital Perempuan
Tahun ini merupakan tahun kedua penyelenggaraan Perempuan Inovasi. Program ini terbuka bagi perempuan muda dengan usia minimal 15 tahun hingga lulusan perguruan tinggi dan para profesional. Selain pemahaman mengenai kesetaraan gender, program ini juga memberikan keterampilan teknis berupa web development dan desain UI/UX kepada para peserta. Para peserta juga akan diberikan soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja, seperti kreativitas, keterampilan berpikir kritis, keterampilan berkolaborasi, dan pembelajaran terkait perencanaan bisnis. Peserta dengan nilai terbaik di kelas basic coding atau UI/UX design akan mendapatkan beasiswa digital bootcamp dan kesempatan kerja.
Pada tahun 2022, Perempuan Inovasi telah melatih 4.122 peserta dengan 83,3% perempuan. Didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), program ini juga melatih 777 guru (81,7% perempuan) dari 742 sekolah di 27 provinsi di Indonesia. Setelah melewati program ini, para peserta meluncurkan 537 proyek inovasi digital dalam bentuk website, aplikasi, dan game.
“Tidak hanya akses pendidikan, perempuan juga membutuhkan pelatihan berbasis industri yang membuat mereka siap menghadapi dunia kerja. Program ini berupaya untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi perempuan,” kata Amanda Simanjuntak, Co-Founder Markoding.
Tantangan dan Peluang
Teknologi terus berkembang dari hari ke hari. Di masa depan, diperkirakan akan semakin banyak pekerjaan yang membutuhkan keterampilan digital. Penelitian Bank Dunia dan McKinsey memperkirakan bahwa Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital pada tahun 2030. Karenanya, memastikan perempuan memiliki kemampuan, kesempatan, dan keterlibatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang teknologi dan digital adalah satu langkah berarti dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender dan pekerjaan yang layak untuk semua. Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan serta pedoman transformasi digital perempuan yang bersifat terbuka merupakan faktor pendukung yang berarti.
“Dengan memiliki keterampilan di bidang teknologi, perempuan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga mereka bisa mendapatkan pendapatan yang lebih layak, dan itu akan bermuara pada kehidupan yang berkualitas,” kata Dian Sastrowardoyo.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut