Meningkatnya Kecemasan Masyarakat Indonesia terhadap Perubahan Iklim
23 Juli 2024
Foto: Gery Wibowo di Unsplash.
Perubahan iklim adalah kenyataan dan dampaknya telah terlihat di banyak tempat, termasuk di Indonesia. Seiring meningkatnya kejadian bencana yang berkaitan dengan iklim, kecemasan masyarakat Indonesia terhadap dampak krisis iklim pun meningkat. Hal ini terungkap dalam survei opini publik yang diluncurkan UNDP, bekerja sama dengan University of Oxford dan GeoPoll. Survei tersebut mengulik pendapat masyarakat di 77 negara, termasuk Indonesia, terkait perubahan iklim dan dampaknya.
Yang Dirasakan Masyarakat Indonesia
Survei bertajuk “Peoples’ Climate Vote 2024” terdiri dari 15 pertanyaan terkait perubahan iklim yang diajukan kepada 75.000 orang dalam 87 bahasa di 77 negara, termasuk Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang untuk memahami pengalaman masyarakat terkait dampak perubahan iklim dan respons yang diinginkan dari pemerintah. Negara-negara yang disurvei mewakili 87 persen dari populasi global.
Berdasarkan hasil survei tersebut, 60% masyarakat Indonesia menyatakan lebih khawatir terhadap perubahan iklim dibanding sebelumnya. Hal tersebut senada dengan temuan 38% masyarakat Indonesia yang memikirkan tentang perubahan iklim setiap harinya, sementara 56% masyarakat merasakan dampak perubahan iklim yang lebih parah dibanding yang mereka alami selama ini.
Perlu Aksi Iklim yang Lebih Kuat
Perubahan iklim telah menimbulkan dampak serius pada banyak aspek kehidupan, termasuk mata pencaharian, pendidikan, kesehatan, dan banyak lagi. Di berbagai tempat, perubahan iklim telah meningkatkan risiko dan peristiwa bencana seperti kekeringan, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, penyebaran penyakit, dan lainnya. Hasil survei tersebut menyatakan bahwa 33% masyarakat Indonesia merasakan pengaruh signifikan perubahan iklim terhadap keputusan-keputusan dalam hidup mereka, termasuk dalam menentukan tempat tinggal, tempat bekerja, dan apa yang harus dibeli.
Saat ini, dunia terus bergerak, populasi terus bertambah, dan pembangunan dan bisnis terus berlanjut dan berekspansi. Meskipun terdapat upaya dan praktik baik dari berbagai sektor dalam mewujudkan keberlanjutan, tetap saja terdapat kekhawatiran mengenai krisis iklim yang semakin parah di masa depan. Oleh karena itu, sebagaimana halnya masyarakat di berbagai negara, 86% masyarakat Indonesia menginginkan agar pemerintah memperkuat komitmen dan meningkatkan upaya dalam mengatasi perubahan iklim. Demikian juga, 82% masyarakat menginginkan perlindungan negara dari peristiwa cuaca ekstrem dan bencana terkait iklim lainnya.
Untuk menopang aksi iklim yang lebih kuat dan berkelanjutan, diperlukan komitmen dan tindakan mendasar seperti menyediakan pendidikan iklim, yang ditopang dengan pendanaan iklim yang memadai. Sebanyak 54% masyarakat yang disurvei menginginkan agar sekolah-sekolah di Indonesia memberikan pengajaran tentang perubahan iklim yang lebih baik dan merata. Mempelajari penyebab dan dampak perubahan iklim dapat membantu masyarakat mempersiapkan masa depan. Untuk itu, negara harus mengatasi kesenjangan akses terhadap pendidikan iklim di setiap wilayah.
Kerja Sama Internasional
Pada akhirnya, perubahan iklim merupakan masalah global yang seringkali menimbulkan dampak yang tidak proporsional di banyak negara. Dampaknya dapat menjadi lebih parah karena berkelindan dengan berbagai krisis lain yang melanda dunia saat ini seperti konflik dan perang, krisis pangan, krisis air bersih, hingga krisis kemanusiaan. Untuk itu, diperlukan kerja sama internasional yang kuat dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di segala sektor. Dalam hal ini, negara-negara yang lebih berkontribusi dalam menyebabkan perubahan iklim mesti melakukan tindakan yang lebih besar, termasuk dengan membantu negara-negara miskin dan rentan yang paling terdampak. “Dua tahun ke depan adalah salah satu peluang terbaik yang kita miliki sebagai komunitas internasional untuk menjaga kenaikan suhu Bumi di bawah 1,5°C. Kami siap mendukung para pembuat kebijakan untuk meningkatkan penyusunan rencana aksi iklim melalui inisiatif Climate Promise UNDP,” ujar Cassie Flynn, Direktur Global Perubahan Iklim UNDP.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit