Meningkatnya Dampak Perubahan Iklim terhadap Anak-Anak dan Strategi yang Diperlukan
Foto: Nicholas Loh di Unsplash.
Sudah sering kita mendengar dan mengatakan “anak-anak adalah masa depan”. Namun, perubahan iklim dan berbagai dampak yang ditimbulkannya telah mengancam kehidupan anak-anak di seluruh dunia, dan hal ini berarti masa depan sedang dalam bahaya. Laporan bertajuk “Analisis Lanskap Iklim untuk Anak-Anak Indonesia” (Climate Landscape Analysis for Children/CLAC) yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan Badan PBB untuk Anak-anak (UNICEF) mengungkap adanya kesenjangan signifikan antara kebijakan, peraturan, dan rencana sosial dengan tindakan iklim yang berfokus pada anak-anak.
Dampak Perubahan Iklim terhadap Anak-anak
Indeks Risiko Iklim Anak-anak (CCRI) yang dirilis UNICEF menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 163 negara dalam hal kerentanan anak-anak terhadap perubahan iklim; yang berarti bahwa Indonesia termasuk negara dengan risiko tinggi. Hal ini menunjukkan kerentanan tinggi anak-anak Indonesia terhadap tekanan lingkungan dan peristiwa cuaca ekstrem sebagai dampak dari perubahan iklim. Dampak yang terjadi dapat berupa kekeringan dan banjir, kenaikan suhu, dan kenaikan permukaan laut.
Selain itu, sebagian besar anak di Indonesia terpapar polusi udara, dan diperkirakan 28 juta anak terpapar banjir pesisir dan 15 juta anak terpapar gelombang panas.
Laporan UNICEF bertajuk “Krisis Iklim Adalah Krisis Hak-hak Anak” mengungkap bahwa anak-anak di Indonesia mengalami keterpaparan tinggi terhadap penyakit tular vektor (seperti demam berdarah dengue dan malaria), polusi udara dalam kadar tinggi, dan banjir rob. Selain itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa jutaan anak mengalami keterpaparan tingkat tinggi terhadap gelombang panas, kelangkaan air, badai siklon, pencemaran timbal, dan banjir sungai.
Dampak tersebut dapat menciptakan efek domino yang berkepanjangan, yang akan mengancam tumbuh kembang, perlindungan, dan kelangsungan hidup anak. Krisis iklim juga merampas hak-hak dasar anak seperti pendidikan, layanan kesehatan, akses ke air bersih, makanan bergizi dan aman, dan banyak hal lainnya, yang akan mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan mereka.
Kesenjangan Antara Kebijakan dan Tindakan
Sebagai kelompok rentan, bersama perempuan, orang dengan disabilitas, lansia, dan masyarakat adat, anak-anak menanggung dampak perubahan iklim yang jauh lebih berat. Sayangnya, laporan Climate Landscape Analysis for Children (CLAC) menemukan bahwa banyak kebijakan, undang-undang, peraturan, dan rencana sektor sosial di Indonesia yang mengabaikan dampak perubahan iklim dan tidak mencakup tindakan yang berfokus pada anak. Oleh karena itu, laporan tersebut menekankan urgensi untuk meningkatkan kebijakan dan program iklim yang berfokus pada anak-anak.
“Hak setiap anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat semakin terancam oleh dampak parah perubahan iklim di seluruh dunia dan di Indonesia,” kata Maniza Zaman, Perwakilan UNICEF Indonesia. “Sangat penting untuk mendidik anak-anak tentang perubahan iklim, melibatkan mereka dalam menciptakan solusi, dan menempatkan mereka di pusat semua aksi iklim.”
Rekomendasi Strategi
Sejumlah program dan kebijakan telah dijalankan oleh pemerintah untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Organisasi dan masyarakat akar rumput juga telah banyak melakukan aksi iklim dengan kapasitas dan skala masing-masing. Namun, mengingat kurangnya tindakan yang berorientasi pada anak-anak, berbagai upaya mesti ditingkatkan demi melindungi anak-anak dari dampak perubahan iklim yang diperkirakan akan semakin memburuk pada tahun-tahun mendatang. UNICEF menyerukan pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan terkait lainnya untuk menjadikan layanan penting bagi anak lebih tahan terhadap —dan dapat beradaptasi dengan— perubahan iklim; serta meningkatkan upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di berbagai sektor.
Sementara itu, laporan CLAC merekomendasikan enam strategi dalam kebijakan dan program terkait iklim untuk memenuhi kebutuhan anak-anak:
- Mengintegrasikan hak-hak anak dalam kebijakan, program, dan keputusan pendanaan terkait iklim
- Meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan masyarakat termasuk anak-anak untuk mengatasi dampak iklim dalam kebijakan dan program yang terkait dengan isu-isu iklim, lingkungan, dan energi serta sektor sosial.
- Menghasilkan pengetahuan dan bukti tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.
- Meningkatkan ketahanan layanan dan fasilitas sosial untuk menahan gangguan iklim dan terus melayani anak-anak dan keluarga.
- Memastikan anak-anak dan kaum muda mendapatkan pendidikan tentang perubahan iklim dan menciptakan kesempatan bagi mereka untuk terlibat dalam aksi iklim dan lingkungan.
- Meningkatkan pengumpulan data iklim dan sistem peringatan dini.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional