Indonesian Water Warriors: Mendorong Peran Pemuda dalam Pelestarian Air
Foto: Nathan Dumlao di Unsplash.
Pemuda memiliki potensi besar untuk mengatasi berbagai masalah mendesak dunia. Sebagai pihak yang menanggung dampak perubahan iklim saat ini dan di masa mendatang, peran pemuda menjadi sangat krusial dalam isu-isu terkait lingkungan dan iklim, termasuk mengenai sumber daya air. Terkait hal ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meluncurkan komunitas Indonesian Water Warriors sebagai wadah untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam mengatasi permasalahan menyangkut sumber daya air.
Masalah Air di Indonesia
Air bersih sangat penting untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia seperti air minum, memasak, pertanian, hingga industri. Tidak hanya manusia, keanekaragaman hayati, termasuk hewan-hewan dan tanaman peliharaan, juga sangat membutuhkan air untuk hidup dan berkembang. Air juga sangat krusial untuk kesehatan lingkungan dan kesuburan tanah yang menopang tumbuhan.
Namun, seperti halnya di banyak negara lain di dunia, Indonesia menghadapi ancaman kekurangan air bersih yang berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan. Data Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 9 persen penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap sumber air minum layak. Sementara itu, World Resources Indonesia (WRI) menyebut bahwa Indonesia sedang mengalami ancaman besar kekurangan air bersih pada tahun 2040.
Salah satu faktor utama yang mendorong kelangkaan air bersih dan air minum layak di Indonesia adalah pencemaran sumber-sumber utama air seperti sungai dan danau. Di berbagai daerah di Indonesia, sampah yang hanyut bahkan menumpuk di sungai telah menjadi pemandangan “lazim” yang sering ditemui. Tidak hanya itu, sungai-sungai di Indonesia seringkali menjadi tempat pembuangan limbah pabrik sehingga menyebabkan ikan-ikan dan spesies lainnya ikut terkontaminasi bahan-bahan kimia berbahaya. WWF Indonesia mencatat bahwa 82% dari 550 sungai yang ada di Indonesia dalam keadaan tercemar.
Pertumbuhan penduduk yang cepat, pertanian dan penggunaan lahan yang masif, hingga konflik air dan perubahan iklim, turut memperparah ancaman kelangkaan air yang terjadi.
Indonesian Water Warriors
Komunitas Indonesian Water Warriors diluncurkan dalam acara “Water Warriors Assemble: Indonesian Wave After the 10th World Water Forum” yang dihelat di Jakarta pada 21 September 2024. Komunitas ini dibentuk melalui program Indonesia Wave for cooperation in Water Youth dan Kerajaan Belanda, berkolaborasi dengan Youth Committee World Water Forum, sebagai bagian dari komitmen generasi muda dalam kegiatan Youth World Water Forum ke-10 di Bali pada Mei 2024.
Indonesian Water Warrior bertujuan untuk mendorong keterlibatan pemuda dalam melindungi dan melestarikan sumber daya air nasional, dengan misi untuk memberdayakan pemuda sebagai penggerak pengelolaan air berkelanjutan melalui inisiatif kolaboratif, pendidikan, advokasi, dan penelitian untuk mendorong masa depan yang lebih tangguh dan aman terhadap air.
Komunitas ini akan mengkoordinasikan dan berkolaborasi dengan komunitas-komunitas peduli air dan sungai di Indonesia yang jumlahnya sekitar 1.100, untuk melakukan gerakan pelestarian dan pengelolaan air berkelanjutan yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui balai-balainya. Fokus utama gerakan komunitas ini adalah aspek kebersihan sungai, dimana Kementerian PUPR akan mengucurkan dana sekitar Rp5 miliar per sungai. Sebagai tindak lanjut, akan ada perwakilan Water Warriors di seluruh provinsi dengan unsur organisasi lokal, organisasi masyarakat sipil (OMS), dan pemimpin lokal.
“Saat ini sudah banyak sekali pengamat air. Saya berharap Water Warrior lebih dari itu. Tidak hanya pengamat, tidak hanya pemerhati, ngomong-ngomong saja, tapi Water Warriors kita jadikan semangat sebagai gerakan. Saya yakin, dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan komunitas masyarakat, kita dapat berbuat lebih banyak,” kata Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR. “Saya tidak ingin semangat pembersihan sungai dilakukan hanya sebagai teatrikal dan seremonial saja. Sungai harus benar-benar dibersihkan!”
Perlu Tindakan yang Lebih Besar
Air adalah sumber kehidupan dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu, mengatasi tantangan menyangkut air membutuhkan tindakan besar, masif, dan komprehensif, yang melibatkan seluruh pihak. Upaya ini harus mencakup pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, konservasi ekosistem, serta edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kualitas dan kuantitas air, baik di lembaga pendidikan untuk anak-anak dan di masyarakat yang lebih luas. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal sangat penting untuk menciptakan solusi inovatif dan inklusif yang dapat menjamin akses air bersih untuk semua, untuk masa kini dan generasi mendatang.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan