Meningkatkan Kapasitas SDM Kesehatan Lintas Sektor untuk Mengantisipasi Zoonosis
Foto: FLOUFFY di Unsplash.
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dengan makhluk hidup lainnya. Hubungan ini telah memberikan banyak keuntungan bagi manusia, tetapi juga ada risiko yang mesti dihadapi, salah satunya zoonosis. Namun sejak dulu, mengendalikan dan mengantisipasi zoonosis bukanlah perkara mudah. Oleh karena itu, perlu ada mekanisme penanganan yang kuat dan terkoordinir, yang disertai dengan penguatan kapasitas seluruh pemangku kepentingan.
Terkait hal ini, Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan FAO dan USAID, menggelar pelatihan investigasi terkoordinasi kejadian zoonosis dengan Joint Outbreak Investigation (JOIN) tool di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang menyasar tenaga kesehatan lintas-sektor.
Zoonosis dan Tantangan dalam Mengatasinya
Di dunia yang semakin modern, dengan pembangunan yang seringkali melibatkan eksploitasi sumber daya alam secara masif, kontak antara manusia dengan hewan semakin meningkat, menyebabkan risiko penyebaran zoonosis semakin besar. Saat ini, sekitar 60% penyakit menular baru yang dilaporkan secara global merupakan zoonosis. Lebih dari 30 patogen baru pada manusia telah terdeteksi dalam tiga dekade terakhir, dan 75% di antaranya berasal dari hewan. Pertumbuhan populasi, penurunan keanekaragaman hayati, pesatnya laju urbanisasi, dan derasnya arus perjalanan internasional juga turut meningkatkan risiko penyebaran zoonosis lintas-batas.
Pada tahun 2021, sejumlah kementerian mengidentifikasi enam zoonosis prioritas untuk dimitigasi secara kolaboratif di tingkat nasional. Enam zoonosis tersebut adalah zoonosis yang disebabkan virus influenza, zoonosis yang disebabkan virus Corona, rabies, antraks, tuberkulosis, dan leptospirosis.
Upaya antisipasi dan pengendalian zoonosis di Indonesia seringkali melibatkan berbagai tantangan, salah satunya terkait keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam melakukan deteksi, pemantauan, dan respons terhadap zoonosis. Situasi ini diperparah dengan lemahnya koordinasi antar-sektor serta terbatasnya infrastruktur kesehatan yang memadai di banyak daerah.
Pelatihan dengan JOIN Tool
Digelar pada 8-12 Juli 2024, pelatihan investigasi terkoordinasi kejadian zoonosis ini menyasar tenaga kesehatan lintas-sektor, yakni kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan/satwa liar. JOIN merupakan alat berbasis Excel yang mempromosikan pendekatan One Health dengan menghubungkan data epidemiologi dan laboratorium yang berasal dari sektor kesehatan hewan, masyarakat, dan lingkungan.
“JOIN menghubungkan data investigasi wabah lintas kementerian dan lembaga serta investigasi wabah di lapangan. Integrasi ini memungkinkan pengembangan rekomendasi untuk intervensi lebih lanjut mengenai wabah penyakit, dan memfasilitasi advokasi bagi pemerintah daerah dan pusat,” kata Nuryani Zainuddin, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan.
Dalam pelatihan ini, para tenaga kesehatan yang menjadi peserta memperoleh pelajaran dari penerapan panduan rinci mengenai investigasi terkoordinasi berbagai kejadian zoonosis dan mendapat pengalaman langsung menggunakan JOIN melalui latihan di lapangan.
Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, menekankan pentingnya investigasi dan respons wabah yang efektif untuk melindungi kesehatan masyarakat dan mencegah wabah di masa depan bagi Indonesia.
“JOIN memungkinkan kami mengoordinasikan pengumpulan dan analisis data untuk mengoptimalkan pengelolaan zoonosis terpadu. Kami berharap seluruh peserta pelatihan dari berbagai sektor dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka guna memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempersiapkan diri menghadapi wabah di masa depan dan menjaga kesehatan masyarakat,” kata Aryal.
Memperkuat Strategi untuk Mengantisipasi Zoonosis
Mengantisipasi zoonosis pada akhirnya memerlukan langkah-langkah strategis dan terkoordinasi dengan pendekatan lintas-sektor dan lintas-disiplin yang komprehensif. Dalam hal ini, seluruh pemangku kepentingan terkait mesti bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran dan wawasan masyarakat mengenai zoonosis, termasuk tentang penyebab, gejala, dan cara pencegahannya. Meningkatkan kesejahteraan hewan, termasuk dengan mengakhiri kekerasan terhadap hewan, merupakan salah satu langkah penting. Di samping itu, perlu juga penguatan sistem deteksi dini untuk mengidentifikasi kasus zoonosis secara cepat dan akurat, serta peningkatan pengawasan kesehatan hewan domestik dan satwa liar yang berpotensi menjadi reservoir zoonosis.
Terakhir, langkah-langkah tersebut perlu didukung dengan memperkuat kerja sama internasional; meningkatkan koordinasi antara-sektor kesehatan, pertanian, lingkungan, dan kehutanan; meningkatkan pendekatan One Health; meningkatkan infrastruktur kesehatan termasuk fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu menangani kasus zoonosis; serta memperkuat keamanan pangan di setiap daerah.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit