Pusat Edukasi Hiu Paus di Teluk Saleh untuk Perkuat Upaya Konservasi
10 Februari 2025
Foto: Lachlan Ross di Pexels.
Keseimbangan ekosistem sangat dipengaruhi oleh kondisi keanekaragaman hayati. Namun, banyak spesies di Bumi yang populasinya terus menurun dan terancam punah akibat berbagai aktivitas manusia, termasuk hiu paus atau yang juga dikenal sebagai hiu tutul. Untuk mencegah penurunan populasi lebih lanjut, upaya konservasi secara holistik dibutuhkan, termasuk melalui pendekatan literasi kepada masyarakat luas. Di Teluk Saleh, tepatnya di Desa Labuan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Pusat Edukasi Hiu Paus resmi dibuka pada 3 Februari 2024. Pengetahuan apa saja yang disajikan oleh fasilitas ini?
Hiu Paus dan Ancaman Kepunahan
Hiu Paus (Rhincodon typus) merupakan spesies ikan terbesar di dunia yang dapat ditemui di beberapa perairan yang beriklim hangat, terutama di Samudra Atlantik dan Indo-Pasifik. Perihal status “terbesar”, hiu paus berbeda dengan paus, khususnya paus biru (Balaenoptera musculus) yang dikenal sebagai mamalia terbesar di dunia. Nama “paus” yang melekat pada hiu ini didasarkan pada ukurannya, yang dapat mencapai 18-20 meter dengan bobot 34 ton.
Di laut, hiu paus merupakan salah satu predator puncak yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan dengan memakan plankton dan ikan-ikan kecil. Sayangnya, hiu paus di berbagai tempat menghadapi ancaman kepunahan, termasuk di perairan Teluk Saleh. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat hiu paus di kawasan ini turut berkontribusi terhadap perekonomian lokal, terutama melalui ekowisata, di samping perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Pusat Edukasi Hiu Paus
Kurangnya pengetahuan dan wawasan mengenai hiu paus merupakan salah satu faktor utama yang menimbulkan ancaman kepunahan hiu paus. Ancaman tersebut semakin meningkat mengingat posisi Indonesia yang berada di pertemuan antara Samudera Hindia dan Samudra Pasifik, dimana banyak kapal berlalu lalang, yang membuat hiu paus rawan tertabrak kapal. Selain itu, spesies ini juga menghadapi ancaman penangkapan ilegal atau terjerat alat penangkap ikan.
Ancaman inilah yang mendorong pendirian Pusat Edukasi Hiu Paus Teluk Saleh. Berlokasi di tengah Taman Pantai Panjang Hiu Paus, Pusat edukasi hiu paus ini merupakan buah kolaborasi antara Konservasi Indonesia dengan Pemprov NTB, dengan dukungan dari Kedutaan Besar Prancis. Pusat edukasi hiu paus ini menyediakan informasi mengenai perilaku, habitat, pola migrasi, hingga hasil penelitian ilmiah terbaru mengenai spesies hiu paus di Teluk Saleh. Data dan pengetahuan yang disajikan diharapkan dapat memberikan wawasan berharga bagi pengunjung dan masyarakat yang lebih luas tentang pentingnya hiu paus bagi ekosistem pesisir, laut, dan ekonomi lokal.
“Dengan membaca panduan dan hasil riset terkini tentang hiu paus yang ada di pusat edukasi ini, kami berharap masyarakat mau ambil bagian untuk terlibat dalam menguatkan ekowisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” kata Meizani Irmadhiany, Senior Vice President dan Executive Chair Konservasi Indonesia.
Partisipasi Komunitas Lokal
Bersamaan dengan peresmian Pusat Edukasi Hiu Paus ini, Kedubes Prancis memberikan hibah senilai 500 ribu Euro (sekitar Rp8,4 miliar) untuk membentuk kawasan perlindungan laut berbasis hiu paus di Teluk Saleh. Dana hibah tersebut akan dikelola oleh Konservasi Indonesia, di antaranya digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, sertifikasi pengelolaan kawasan, dan pelatihan pengelolaan kawasan konservasi. Dalam pengelolaan kawasan konservasi, setiap individu hiu paus akan dipasangi penanda satelit di bagian sirip, yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk kebutuhan penelitian. Penanda tersebut dilengkapi dengan teknologi GPS serta sensor suhu dan kedalaman.
Pada akhirnya, upaya konservasi keanekaragaman hayati memerlukan keterlibatan seluruh pihak, termasuk komunitas lokal dan masyarakat adat sebagai pihak yang paling sering bersinggungan dengan kawasan konservasi dan habitat spesies liar. Menggandeng mereka dalam penelitian dan memberdayakan mereka dengan wawasan yang dibutuhkan dapat menciptakan upaya konservasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB