Mencegah Terorisme di Kawasan Wisata melalui Pendekatan Kebudayaan
Foto oleh Alain Bonnardeaux di Unsplash.
Senin dini hari, 21 Januari 1985, bom meledak di Candi Borobudur. Tercatat, ada sembilan ledakan bom yang terdengar antara pukul 01.30 hingga 03.40 WIB saat itu. Ledakan bom itu menyebabkan sembilan stupa dan dua patung Buddha di sisi timur candi rusak. Dua orang ditangkap, diadili, dan telah menjalani hukuman, namun otak pelaku pengeboman tersebut masih menjadi misteri.
Meski telah lama berlalu, bayang-bayang peristiwa tersebut masih membekas sampai hari ini. Karenanya, sangat penting untuk mencegah peristiwa tersebut terulang, di manapun, tidak hanya di Candi Borobudur.
Baru-baru ini, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meluncurkan WARUNG NKRI di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Magelang dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC), inisiatif ini bertujuan untuk mencegah intoleransi dan terorisme di kawasan wisata candi melalui pendekatan kebudayaan, sekaligus untuk menciptakan pariwisata berkelanjutan yang aman dan nyaman.
WARUNG NKRI
WARUNG NKRI merupakan akronim dari Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Program ini telah diluncurkan oleh BNPT sejak 2021. Saat ini, WARUNG NKRI telah ada di sejumlah objek vital strategis dan fasilitas publik di beberapa daerah.
Dalam mendirikan WARUNG NKRI, BNPT bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dan kelompok masyarakat. Selain di kawasan objek wisata, WARUNG NKRI juga dibangun di kampus, lingkungan kementerian, stasiun kereta api, dan di sekolah-sekolah. Wadah ini menggiatkan dialog-dialog kebangsaan yang mengusung nilai-nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong. Pesan kebangsaan dari WARUNG NKRI diharapkan dapat menjalar ke seluruh lapisan masyarakat sehingga benih-benih intoleransi dan fundamentalisme dapat dibendung.
“Kita lawan terorisme dengan pertahanan semesta dalam menghadapi ideologi terorisme, salah satunya melalui WARUNG NKRI ini. Perang melawan virus radikalisme dan terorisme bukanlah dengan menggunakan alutsista, namun dengan penguatan rasa cinta tanah air warga bangsa untuk meminimalisir potensi ancaman terorisme,” kata Kepala BNPT Boy Rafli Amar.
Pendekatan Kebudayaan
Dengan penandatanganan MoU dengan PT TWC, BNPT meresmikan WARUNG NKRI di Balkondes Borobudur. Kerja sama ini merupakan bentuk komitmen dan sinergisitas BNPT, Pemkab Magelang, dan PT TWC dalam melawan penyebaran intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Melalui WARUNG NKRI, BNPT mengusung upaya untuk mencegah terorisme melalui pendekatan kebudayaan.
“Candi borobudur adalah objek vital nasional yang perlu dijaga, terutama dari kelompok-kelompok yang ingin memecah-belah bangsa. Kami sangat memperhatikan pengembangan kepariwisataan nasional yang aman dari hal-hal tersebut,” ujar Direktur Utama PT TWC Edy Setijono.
Perihal pendekatan kebudayaan untuk mencegah terorisme, budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan bahwa meskipun bukan solusi tunggal, pendekatan kebudayaan dapat dimaksimalkan untuk menyadarkan orang-orang akan paham radikalisme. Al-Zastrouw menawarkan beberapa konsep strategi kebudayaan yang dapat dijalankan untuk mencegah terorisme dan intoleransi sebagai berikut:
- Menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang mati melalui kebudayaan untuk melembutkan hati dan meningkatkan kepekaan batin agar tumbuh kesadaran menjaga nilai kemanusiaan.
- Menekankan agar manusia mempertahankan kebudayaan, termasuk dalam beragama, karena kebudayaan yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain (hewan, tumbuhan, dll).
- Menumbuhkan gerakan penyadaran dengan cara merajut hati melalui kebudayaan.
- Menghindari pendekatan hukum dan keamanan yang berpotensi membuat pelaku teror merasa bangga saat ditangkap atau terbunuh.
“Hati pelaku teror ini harus disentuh agar bisa tergugah, untuk bisa berubah, dan strategi kebudayaan ini menurut saya bisa saja berhasil. Saya yakin gerakan radikalisme, bila diberikan pengertian tentang kebudayaan, akan sedikit demi sedikit melunak,” katanya, dalam diskusi publik bertajuk “Strategi Kebudayaan Menghadapi Terorisme”.
Bagaimanapun, menghapus intoleransi, eksklusivitas, dan terorisme adalah selaras dengan upaya untuk menciptakan perdamaian, stabilitas, menghilangkan kekerasan dalam bentuk apapun, dan pemenuhan hak asasi manusia menuju pembangunan berkelanjutan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan