Memperkuat Ketahanan Pangan di Wilayah Pegunungan
9 Desember 2022
Foto oleh Dan Gilmour on Unsplash.
Gunung sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di Bumi. Lebih dari sekadar memasok kebutuhan air bersih, gunung adalah ekosistem di mana sumber pangan dan mata pencaharian masyarakat—terutama yang tinggal di wilayah pegunungan—bergantung padanya. Selain itu, gunung juga merupakan habitat bagi hampir seperempat dari jumlah keanekaragaman hayati terestrial dan menjadi salah satu destinasi bagi banyak orang untuk rekreasi.
Akan tetapi, berbagai manfaat yang diberikan gunung tidak serta merta membuat masyarakat yang tinggal di sekitarnya menjadi sejahtera. Bayang-bayang kelaparan dan kemiskinan masih menghantui masyarakat pegunungan.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), dari sekitar 1,1 miliar manusia yang tinggal di wilayah pegunungan secara global, 329 juta di antaranya (1 dari 3 orang) rentan terhadap kerawanan pangan, terutama di negara-negara berkembang. Kerawanan itu bertambah parah selama 12 tahun sejak 2000, pada saat populasi di wilayah pegunungan meningkat 16%.
Perubahan Iklim dan Erupsi
Perubahan iklim menyebabkan berbagai masalah bagi gunung dan masyarakatnya, antara lain berupa longsoran batu dan lumpur, kerusakan hutan, dan menurunkan produktivitas. Pandemi COVID-19 dan krisis global juga turut memperparah kerentanan masyarakat pegunungan.
Situasi lebih buruk bagi masyarakat di wilayah gunung berapi yang aktif. Erupsi yang terjadi secara berkala mengancam sumber pangan dan keberlangsungan mata pencaharian. Erupsi Gunung Semeru, misalnya, menyebabkan sekitar 884 hektare lahan pertanian rusak, termasuk tanaman pangan hortikultura dan perkebunan. Begitu juga erupsi Gunung Merapi dan gunung-gunung berapi lainnya.
Kondisi tersebut semakin parah karena masyarakat pegunungan umumnya hidup terisolasi. Selain terisolasi secara geografis, masyarakat pegunungan juga sering terpinggirkan secara politik dan sosial. Karenanya, membangun sistem pangan yang berkelanjutan di pegunungan adalah kunci untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ketangguhan masyarakat pegunungan.
Seruan untuk Aksi Nyata
Studi FAO menunjukkan bahwa kondisi kerawanan pangan yang dihadapi oleh masyarakat pegunungan saat ini cukup mengkhawatirkan. Pegunungan membutuhkan perhatian, investasi, kebijakan, dan intervensi perlindungan sosial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi. Studi tersebut menyerukan ajakan untuk melakukan aksi nyata dengan poin-poin yang penting untuk dipertimbangkan:
- Memastikan ekosistem pegunungan terpelihara dan mata pencaharian masyarakat pegunungan ditingkatkan sesuai standar masyarakat dataran rendah.
- Menciptakan suasana kelembagaan dan politik yang memungkinkan masyarakat pegunungan dapat memiliki akses ke layanan utama seperti pelatihan, informasi, kesehatan, dan infrastruktur yang tepat.
- Mengatasi persoalan pasar yang sering sulit dijangkau karena faktor jarak dari pegunungan, minimnya infrastruktur jalan, fenomena iklim ekstrem, dan hambatan lainnya.
- Menciptakan pertumbuhan yang inklusif, yang mendorong akses pangan, aset, dan sumber daya, terutama bagi masyarakat miskin dan perempuan agar dapat mengembangkan potensinya.
- Mendiversifikasi dan meningkatkan sistem produksi gunung melalui, misalnya, pengintegrasian pengetahuan dan tradisi asli dengan teknik modern.
- Menciptakan sistem tata kelola yang baik dengan partisipasi dan kepemilikan yang kokoh dari masyarakat pegunungan serta penguasaan lahan yang aman untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif.
Memperkuat ketahanan pangan di pegunungan adalah hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Komitmen politik yang kuat dan tindakan yang efektif dan terukur diperlukan untuk membalikkan tren kelaparan dan mengatasi akar kerawanan pangan di pegunungan. Langkah ini juga akan menghapus kesenjangan antara masyarakat dataran rendah dan dataran tinggi, serta memastikan bahwa pegunungan dapat terus menopang kehidupan di Bumi.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja