Meningkatkan Intervensi Pencegahan dan Pengendalian Diabetes di Indonesia
Foto: Freepik.
Diabetes melitus—atau yang umum dikenal sebagai diabetes—telah menjadi tantangan kesehatan dunia yang semakin meningkat. Di tengah berbagai krisis dan merebaknya gaya hidup yang tidak sehat, jumlah kasus diabetes terus mengalami peningkatan yang signifikan dalam setidaknya satu dekade terakhir, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, meningkatkan intervensi dalam pencegahan dan pengendalian diabetes merupakan suatu hal yang mendesak dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera.
Diabetes dan Jenis-jenisnya
Diabetes adalah penyakit tidak menular (PTM) kronis yang terjadi ketika pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkan secara efektif. Insulin sendiri merupakan hormon yang mengatur glukosa darah. Beberapa penyebab diabetes melitus di antaranya kegemukan, kekurangan aktivitas fisik, tekanan darah tinggi, dan pola makan yang tidak seimbang. Diabetes menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit mematikan lainnya seperti stroke, penyakit jantung, hingga kerusakan kulit yang dapat mengakibatkan amputasi, gagal ginjal, dan disfungsi seksual.
Secara umum, ada tiga tipe diabetes melitus yang dikenal luas, yakni
- Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1): ditandai dengan kurangnya produksi insulin. Diabetes tipe ini umumnya terjadi pada remaja dan anak-anak.
- Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2): ditandai dengan resistensi insulin atau produksi insulin yang tidak memadai dalam tubuh, yang mengakibatkan peningkatan kadar gula darah. DMT2 merupakan bentuk diabetes paling umum dan penderitanya paling banyak di dunia.
- Diabetes Melitus Gestasional: merupakan diabetes sementara yang terjadi pada perempuan hamil.
Selain tiga tipe di atas, ada juga diabetes melitus “Tipe 3” yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer, namun belum diakui secara resmi dalam dunia medis. Dan selain diabetes melitus, ada diabetes insipidus, kondisi di mana seseorang terus merasa haus dan menyebabkan produksi urine yang berlebih yang disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan dalam tubuh. Empat jenis diabetes insipidus yaitu sentral, nefrogenik, dipsogenik, dan gestasional.
Diabetes di Indonesia
Diabetes melitus telah menjadi salah satu penyakit kronis penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Namun ironisnya, lebih dari separuh penderita diabetes tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut.
Menurut data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 19,46 juta orang atau sekitar 10,6% dari total jumlah penduduk. Jumlah tersebut meningkat hampir tiga kali lipat sejak tahun 2011, dengan mayoritas merupakan penderita DMT2 (lebih dari 90%). Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 28,57 juta orang pada tahun 2045, terutama apabila gaya hidup tidak sehat terus berlanjut.
Tidak hanya pada orang dewasa, diabetes juga banyak menyerang anak-anak. Hingga Januari 2023, kasus diabetes pada anak di Indonesia mencapai 1.645, atau dua per 100.000 anak, yang tersebar di 13 kota besar, dengan 60% penderitanya merupakan anak perempuan. Jumlah tersebut meningkat 70 kali lipat dibandingkan tahun 2010.
Penting untuk digarisbawahi bahwa diabetes tidak selalu tentang kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat. Penyakit ini juga tidak dapat dilepaskan dari faktor kemiskinan atau pendapatan yang rendah, yang mendorong tingginya konsumsi atau pola makan yang tidak sehat. Hal ini diafirmasi oleh temuan IDF yang menyebutkan bahwa 3 dari 4 orang dewasa yang mengidap diabetes hidup di negara berpenghasilan rendah atau menengah.
Intervensi Pencegahan dan Pengendalian Diabetes

Pengurangan sepertiga kematian dini akibat PTM, termasuk diabetes, merupakan salah satu target SDGs Goal 3. Namun, jalan terjal membentang dalam upaya untuk mencapai target tersebut.
Pada level individu, risiko diabetes dapat dicegah dengan beberapa cara, antara lain dengan menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, dan mengelola stres. Namun, itu saja tidak cukup serta tidak sesederhana kedengarannya, terutama jika melihat kondisi kemampuan ekonomi masyarakat yang timpang. Menerapkan pola makan sehat bukan hanya tentang kemauan, tetapi juga memerlukan kemampuan finansial yang memadai. Untuk itu, pencegahan dan pengendalian diabetes secara nasional membutuhkan intervensi berupa kebijakan yang efektif.
Sejauh ini, pemerintah Indonesia telah meluncurkan sejumlah program terkait pencegahan dan pengendalian diabetes. Beberapa di antaranya berupa penyuluhan dan edukasi, pemeriksaan dan deteksi dini diabetes di fasilitas kesehatan primer, serta promosi dan advokasi gaya hidup sehat. Namun, semua program yang ada belum berjalan efektif dan sesuai dengan yang diharapkan. Kesulitan dan ketidakkonsistenan dalam implementasi program hingga keterbatasan akses terhadap layanan perawatan dan obat-obatan bagi penderita diabetes termasuk di antara banyak tantangan yang dihadapi.
Rekomendasi
WHO memberikan sejumlah rekomendasi strategi untuk membantu meningkatkan kebijakan terkait pencegahan dan pengendalian diabetes. Berikut di antaranya:
- Membangun mekanisme nasional untuk memastikan komitmen politik, alokasi sumber daya, kepemimpinan yang efektif, dan advokasi terkait PTM yang terintegrasi, dengan perhatian khusus pada diabetes.
- Membangun kapasitas kementerian kesehatan untuk menjalankan peran kepemimpinan strategis, melibatkan pemangku kepentingan di berbagai sektor. Hal ini termasuk menetapkan target dan indikator nasional untuk mendorong akuntabilitas.
- Memprioritaskan tindakan untuk mencegah penduduk menjadi kelebihan berat badan dan obesitas, yang dimulai sebelum kelahiran dan pada masa kanak-kanak.
- Memperkuat respons sistem kesehatan terhadap PTM, khususnya di tingkat layanan primer, antara lain dengan menerapkan pedoman dan protokol untuk meningkatkan diagnosis dan manajemen diabetes, memastikan akses yang adil terhadap teknologi penting untuk diagnosis, dan memastikan obat-obatan penting seperti insulin tersedia dan terjangkau bagi semua penduduk.
Mengatasi diabetes membutuhkan solusi yang tidak sederhana, namun intervensi komprehensif yang terkoordinasi dengan baik dapat memberikan dampak yang signifikan. Pemerintah (pusat hingga desa), penyedia layanan kesehatan, penderita diabetes, masyarakat sipil, produsen makanan, dan produsen obat-obatan dan teknologi kesehatan, semuanya merupakan pemangku kepentingan yang dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam mencegah dan mengendalikan diabetes. Dan yang terpenting, seluruh strategi yang diperlukan mesti diimplementasikan secara terintegrasi, konsisten, dan inklusif untuk mencapai dampak yang signifikan dan adil dalam pencegahan dan pengendalian diabetes.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan