UI Green City Metric 2022: Mendorong Keberlanjutan Kota dan Kabupaten
15 Desember 2022
Foto oleh Irfan Bayuaji di Unsplash.
Kesehatan dan kesejahteraan kita sangat bergantung pada ruang hidup tempat kita bermukim. Seseorang yang tinggal di daerah yang kotor, sering banjir, dan dengan kelangkaan air bersih, secara umum akan mengalami kehidupan yang sulit dibanding orang yang tinggal di daerah dengan kondisi sebaliknya.
Kabar baiknya, kesadaran akan pentingnya ruang hidup yang sehat dan berkelanjutan semakin meningkat, termasuk di Indonesia. Kota-kota dan kabupaten mulai menata diri agar lebih berkelanjutan di tengah perubahan iklim.
Tahun ini, 34 kabupaten/kota dari 16 provinsi di Indonesia mengikuti pemeringkatan UI Green City Metric 2022. Kota Semarang, Jawa Tengah, terpilih sebagai kota paling berkelanjutan di Indonesia.
UI Green City Metric
UI Green City Metric digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan hidup di kota/kabupaten di Indonesia. Tahun 2022 menjadi tahun pertama UI Green City Metric digelar. Pemeringkatan ini merupakan pengembangan dari UI Green Metric World University Rankings yang dilakukan Universitas Indonesia terhadap perguruan tinggi di dunia sejak tahun 2010.
Penilaian aspek keberlanjutan terhadap kabupaten/kota didasarkan pada tiga pilar, yakni Lingkungan Hidup, Sosial, dan Ekonomi, dengan kriteria dan bobot sebagai berikut:
- Energi dan Perubahan Iklim (19%)
- Tata Kelola Sampah dan Limbah (19%)
- Penataan Ruang dan Infrastruktur (16%)
- Akses dan Mobilitas (16%)
- Tata Kelola Air (15%)
- Tata kelola/Governance (15%)
“UI Green Metric tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kabupaten/kota terhadap keberlanjutan, namun juga mendorong seluruh masyarakat agar turut mendukung segala bentuk upaya peningkatan daerahnya menjadi lebih hijau dan berkelanjutan,” kata Profesor Riri Fitri Sari, Ketua UI GreenMetric.
Tahun ini, Kota Semarang terpilih sebagai kota paling berkelanjutan di Indonesia. Kota Kediri dan Kota Padang menyusul di urutan kedua dan ketiga. Selain itu, UI Green City Metric juga memberikan penghargaan kepada Kabupaten/Kota terbaik untuk setiap kategori penilaian.
Beberapa hal yang membawa Kota Semarang terpilih sebagai kota paling berkelanjutan adalah:
- Penataan 104 kampung pertanian perkotaan yang menghasilkan tanaman sayur dan buah untuk masyarakat dengan memanfaatkan lahan sempit.
- Penambahan rumput vetiver untuk pencegahan tanah longsor.
- Penerapan sistem Instalasi pengolahan air limbah MBBR (Moving Bed Biofilm Reactor) dan mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos.
- Perbaikan minimal lima Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan mengembangkan tanah agar lebih bermanfaat.
- Operasi Bus Rapid Transit (BRT) sebanyak 250 unit dengan Bahan Bakar Gas (BBG) dan tiga stasiun pompa bahan bakar gas (SPBG) untuk melengkapi suplai gas.
- Penerapan program bebas kendaraan pribadi setiap hari Rabu bagi ASN, di mana ASN wajib berangkat kerja menggunakan kendaraan umum.
“Sejak awal saya meyakini alam yang kita nikmati hari ini bukanlah warisan, melainkan sebuah titipan yang harus kita jaga dan rawat untuk anak, cucu, dan cicit kita. Terima kasih atas apresiasi ini. Ini bukan akhir dari rencana kita, tapi ini adalah awal dari kegiatan pembangunan ke depannya,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.
Langkah Selanjutnya
Mendapatkan predikat kota/kabupaten berkelanjutan saja tidaklah cukup tanpa tindakan keberlanjutan yang terus-menerus. Kebijakan dan praktik-praktik yang mengarah pada upaya untuk menciptakan kota yang layak huni perlu ditingkatkan di semua kota dan kabupaten. Kita semua dapat berkontribusi, dalam kapasitas dan porsi masing-masing, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja