Capaian dan Tantangan dalam Mewujudkan Indonesia Tanpa Kelaparan
Freepik.
Kelaparan telah menjadi salah satu masalah klasik yang terus berlangsung hingga hari ini. Di tengah berbagai krisis yang tengah melanda dunia, risiko bencana kelaparan menjadi semakin meningkat, termasuk di Indonesia. Berbagai pihak telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan dunia tanpa kelaparan sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2. Mendekati tenggat waktu Agenda 2030, bagaimana perkembangan yang telah dicapai dalam mewujudkan Indonesia tanpa kelaparan?
Kelaparan di Indonesia
Indonesia masih harus menempuh jalan panjang untuk menghapus kelaparan. Bencana kelaparan yang terjadi di Papua pada tahun 2023 menjadi salah satu kasus terbaru yang mempertegas hal itu. Setidaknya 23 orang meninggal dunia dalam bencana kelaparan tersebut.
Dalam Indeks Kelaparan Global 2023, Indonesia berada di peringkat ke-77 dari 121 negara di dunia. Indonesia mendapatkan skor 17,6 poin atau masuk dalam level moderat. Di Asia Tenggara, skor indeks kelaparan Indonesia merupakan yang tertinggi kedua setelah Timor Leste (29,9 poin), yang masuk dalam level berat. Skor indeks tersebut dinilai berdasarkan empat indikator, yakni Prevalensi kurang gizi (undernourishment), Prevalensi anak dengan tinggi badan di bawah rata-rata/kerdil (stunting); Prevalensi anak dengan berat badan di bawah rata-rata/kurus (wasting); dan Angka Kematian Anak.
Keadaan ini menunjukkan bahwa Indonesia belum aman dari bencana kelaparan. Hal ini merupakan sebuah ironi di sebuah negara dengan sumber daya alam yang melimpah. Pada saat yang sama, ketimpangan di antara warga semakin terlihat jelas, tidak hanya di wilayah perkotaan tetapi juga di pedesaan.
Capaian dan Tantangan
Menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, serta meningkatkan pertanian berkelanjutan adalah tujuan yang mesti dicapai untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik untuk semua. Laporan Indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2023 menunjukkan capaian dan tantangan dari upaya yang telah dilakukan, dengan beberapa indikator sebagai berikut:
- Prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan. Pada tahun 2022, angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan Indonesia adalah 10,21%, meningkat dibanding tahun 2021 (8,49%). Kondisi ini menunjukkan keadaan yang memburuk.
- Prevalensi penduduk dengan kerawanan pangan sedang atau berat. Pada tahun 2022, terdapat 4,85% penduduk dengan kerawanan pangan sedang atau berat. Angka ini naik 0,06% dibanding tahun 2021 (4,79%).
- Prevalensi stunting. Sejak 2018, prevalensi stunting pada anak balita terus mengalami penurunan. Pada tahun 2022 prevalensi stunting turun menjadi 21,6%.
- Prevalensi wasting. Setelah sempat menurun dalam beberapa tahun terakhir sejak 2018, prevalensi wasting di Indonesia kembali naik menjadi 7,7% pada tahun 2022.
- Prevalensi anemia pada ibu hamil usia 15-49 tahun. Angkanya meningkat selama tahun 2013 hingga 2018. Sayangnya, tidak ada data terbaru mengenai ini.
- Proporsi luas lahan pertanian yang menjadi kawasan pertanian pangan berkelanjutan. Pada tahun 2022, angkanya 63,99% atau menurun 24,22% dibanding tahun 2021.
- Anomali harga pangan. Pada tahun 2022, hanya ada 4 ibukota provinsi dengan indikator anomali harga pangan positif.
Kondisi tersebut belum mencakup masalah kelaparan tersembunyi (hidden hunger) atau kurang gizi mikro, yang dipandang sebagai salah satu tantangan terbesar terkait kelaparan saat ini.
Yang Mesti Dibenahi
Kelaparan berkelindan erat dengan kerawanan pangan, yang dipengaruhi oleh peningkatan skala dan intensitas cuaca ekstrem, kondisi kesehatan lingkungan, serta ketidakstabilan politik global dan regional. Terkait ketahanan pangan, laporan Global Food Security Index (GFSI) 2022 menunjukkan bahwa Indonesia masih harus berbenah dalam pilar Keberlanjutan dan Adaptasi. Beberapa area yang perlu dibenahi untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia menurut laporan tersebut adalah:
- Komitmen politik terhadap adaptasi. Indonesia dipandang tidak memiliki pertanian cerdas iklim atau langkah-langkah peringatan dini. Di samping itu, aliran pendanaan iklim juga menurun secara signifikan antara tahun 2021 dan 2022.
- Kecukupan pasokan. Meskipun skor kecukupan pasokan pangan telah meningkat sejak tahun 2012, namun terjadi penurunan dalam dua tahun terakhir.
- Diversifikasi pangan. Porsi konsumsi gula meningkat dalam beberapa tahun dan hanya ada sedikit peningkatan pada konsumsi makanan non-tepung.
Pada akhirnya, peran seluruh pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Indonesia tanpa kelaparan. Pemerintah, dunia usaha, para ilmuwan, hingga masyarakat akar rumput mesti bersinergi dan bekerja sama dalam melakukan langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan tersebut. Langkah-langkah yang dapat dilakukan di antaranya:
- Meningkatkan produktivitas pertanian dengan menerapkan berbagai metode pertanian yang berkelanjutan yang dipadukan dengan penggunaan teknologi pertanian yang selaras dengan alam. Ini termasuk mengoptimalkan produksi pangan lokal.
- Meningkatkan akses terhadap makanan sehat dan bergizi, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap kelaparan, antara lain dengan mengembangkan program bantuan makanan sehat.
- Membuat regulasi, kebijakan, dan panduan nasional untuk mencegah susut dan limbah makanan.
- Membuat kebijakan dan program terkait diversifikasi pangan, fortifikasi pangan, dan pola makan yang sehat, yang disertai dengan kebersihan dan sanitasi lingkungan untuk semua orang.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan