Yang Luput dan Perlu Diantisipasi dari Program Skrining Kesehatan Gratis
Foto: Julia Taubitz di Unsplash.
Akses terhadap layanan kesehatan yang belum merata masih menjadi salah satu masalah utama di Indonesia hingga hari ini. Di berbagai daerah, masih banyak penduduk yang kesulitan memperoleh layanan kesehatan, termasuk layanan-layanan yang paling dasar seperti pemeriksaan kesehatan. Sebagai upaya untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan program skrining kesehatan gratis yang dapat diakses oleh seluruh warga pada hari ulang tahun yang akan berlaku mulai 2025. Namun, ada beberapa hal yang perlu diantisipasi dan luput dari rancangan program ini.
Skrining Kesehatan Gratis sebagai Kado Ulang Tahun
Skrining kesehatan gratis pada program ini berbeda dengan program skrining kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan. Pada program JKN, skrining kesehatan berfokus pada 14 jenis penyakit, yakni diabetes melitus, hipertensi, stroke, jantung, kanker serviks, kanker payudara, tuberkulosis (TBC), anemia, kanker paru, kanker usus, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), talasemia, hipotiroid kongenital, dan hepatitis.
Sementara itu, program skrining kesehatan gratis di hari ulang tahun lebih menekankan pada deteksi dini berbagai jenis penyakit sesuai golongan usia, yang bertujuan untuk meminimalkan risiko kematian dan kecacatan. Skrining kesehatan gratis ini dikelompokkan berdasarkan golongan usia, yakni skrining balita, skrining remaja (di bawah 18 tahun), skrining dewasa, dan skrining lansia.
Skrining balita berfokus pada deteksi dini penyakit bawaan lahir seperti hipotiroid kongenital yang dapat diobati jika teridentifikasi sejak dini. Pada skrining remaja, dilakukan pemeriksaan masalah kesehatan yang sering muncul seperti obesitas, diabetes, dan kesehatan gigi. Untuk skrining dewasa, cakupannya adalah deteksi dini kanker, termasuk kanker payudara dan serviks, yang merupakan penyebab utama kematian pada perempuan di Indonesia, serta kanker prostat pada laki-laki. Sedangkan skrining lansia meliputi pemeriksaan alzheimer, osteoporosis, dan masalah kesehatan umum yang berkaitan dengan penuaan.
Skrining kesehatan ulang tahun ini akan dilaksanakan di puskesmas dan sekolah-sekolah sesuai dengan kategori usia yang relevan. Untuk mendukung pendataan, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Warga yang berulang tahun dapat mengakses layanan ini di puskesmas terdekat dengan membawa kartu identitas.
“Skrining ini adalah hadiah ulang tahun dari negara kepada masyarakat, dilakukan setiap hari ulang tahun untuk memastikan kesehatan bisa terpantau secara dini,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Kesadaran yang Masih Rendah
Program skrining kesehatan gratis merupakan kabar baik dalam dunia kesehatan Indonesia yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Namun, memastikan program ini berjalan secara efektif sangatlah penting, terlebih mengingat kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan yang masih rendah. Data Statistik Kesehatan 2022 menunjukkan bahwa hanya 17,44% masyarakat Indonesia yang melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Selain itu, masalah lainnya yang patut menjadi perhatian adalah kualitas layanan kesehatan serta fasilitas dan alat-alat kesehatan yang seringkali tidak memadai, terutama di fasilitas-fasilitas kesehatan tingkat awal seperti puskesmas dan posyandu. Pada saat yang sama, distribusi tenaga kesehatan terutama dokter dan dokter spesialis yang belum merata juga merupakan masalah serius yang masih berlangsung hingga saat ini.
Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin, yang disertai dengan upaya peningkatan kualitas dan pemerataan layanan kesehatan dan tenaga kesehatan, merupakan langkah awal yang penting untuk mendukung efektivitas program ini.
Yang Perlu Diantisipasi
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengingatkan adanya potensi permasalahan yang dapat muncul dari program skrining kesehatan gratis ini, salah satunya terkait kurangnya standar yang seragam untuk informasi hasil pemeriksaan kesehatan. Hal ini merujuk pada studi kasus di Jepang yang telah menerapkan program serupa. Hal lainnya yang perlu diantisipasi berdasarkan pengalaman Jepang adalah memastikan ketersediaan platform yang terintegrasi untuk menyimpan dan berbagi informasi, mengelola data dan informasi mengenai bayi dan siswa secara terpadu, dan mengelola informasi dan pendidikan kesehatan dari bayi hingga usia pekerja dan lansia.
Untuk itu, IDI merekomendasikan beberapa hal berikut agar program skrining kesehatan gratis ini dapat berjalan efektif dan optimal:
- Menjamin ketersediaan tenaga medis yang kompeten dan peralatan yang memadai di setiap fasilitas kesehatan.
- Mengadakan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga medis untuk meningkatkan keahlian dalam deteksi dini penyakit.
- Memastikan ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan.
- Memperluas cakupan program ke daerah-daerah terpencil dan masyarakat marginal.
- Menambahkan jenis pemeriksaan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
- Meningkatkan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program.
- Melakukan evaluasi secara berkala untuk mengukur efektivitas program dan melakukan perbaikan jika diperlukan.
- Mengumpulkan data dan informasi yang relevan untuk mendukung pengambilan keputusan.
- Memaksimalkan fungsi dan manfaat aplikasi SATU Sehat dari Kementerian Kesehatan RI sebagai platform yang mengelola data pemeriksaan kesehatan seumur hidup terpadu untuk memantau pemeliharaan dan sarana promosi kesehatan.
- Sosialisasi pada masyarakat untuk memanfaatkan personal health record (rekam medis individu) yang berisi informasi kesehatan.
Kesehatan Mental: Hal Penting Yang Luput
Menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera memerlukan pendekatan yang komprehensif, koheren, serta inklusif. Program skrining kesehatan gratis ini perlu dibarengi dengan berbagai intervensi lainnya, mulai dari soal pola makan hingga dukungan berbagai kebijakan yang seluruhnya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, termasuk namun tidak terbatas pada mendorong peningkatan aktivitas fisik, pendidikan kesehatan, serta akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan berkualitas. Pemeriksaan kesehatan dalam program ini juga mesti mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik dari kelompok rentan, terutama orang-orang dengan disabilitas yang beragam, agar benar-benar berjalan secara adil dan inklusif.
Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang fisik, melainkan juga menyangkut kondisi kejiwaan atau mental. Dalam banyak kasus, kesehatan mental sangat mempengaruhi dan bahkan menentukan kondisi kesehatan fisik seseorang. Sayangnya, meski telah terbukti dapat menyerang siapa saja dari semua golongan, tidak terkecuali anak-anak dan lansia, isu gangguan kesehatan mental masih luput dalam rancangan program skrining kesehatan gratis khusus ulang tahun ini. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyadari hal ini dan memasukkan aspek kesehatan mental ke dalam agenda program yang akan berjalan mulai tahun 2025 tersebut.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja