Bali Message: Mendorong Hak Pendidikan bagi Anak Perempuan Afghanistan
12 Desember 2022
Foto oleh Wanman uthmaniyyah di Unsplash.
Sebagai salah satu negara termiskin di dunia dan diliputi konflik berkepanjangan, Afghanistan mengemban berbagai masalah sosial yang menyulitkan kehidupan warganya. Kekeringan, krisis pangan dan air bersih, hingga akses pendidikan yang sulit dijangkau, merupakan segelintir persoalan yang paling dirasakan oleh penduduk Afghanistan.
Dalam hal akses pendidikan, perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak. Hampir 80% anak perempuan Afghanistan tidak memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan. Banyak anak perempuan di negara tersebut yang mengungkapkan rasa frustrasi mereka karena tidak dapat bersekolah.
“Saya merasa sangat sedih karena kami kehilangan hak dasar untuk mendapatkan pendidikan hanya karena kami perempuan. Mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan sekarang terasa sia-sia,” kata Rohila, seorang siswi di Afghanistan.
“Apakah saya harus tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang perempuan?” kata siswi lainnya.
Dalam Konferensi Internasional tentang Pendidikan Perempuan Afghanistan (ICAWE), perwakilan dari 38 negara menyatakan komitmen untuk bekerja sama dan merumuskan langkah untuk mendorong pemenuhan hak pendidikan bagi perempuan dan anak-anak perempuan di Afghanistan.
Dampak Politik
Kondisi yang dialami oleh perempuan dan anak-anak perempuan di Afghanistan tidak terlepas dari situasi politik di negara tersebut. Pada Maret 2022, pemerintah Afghanistan yang dipimpin Taliban membatalkan izin bagi anak perempuan untuk masuk sekolah menengah. Anak perempuan hanya dibolehkan untuk mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Di tingkat perguruan tinggi, perempuan dipisahkan dengan mahasiswa laki-laki.
Selain itu, perempuan di Afghanistan juga dilarang terlibat dalam kegiatan olahraga dan dilarang bekerja di luar rumah kecuali untuk beberapa sektor dan peran tertentu.
“Apa yang terjadi di Afghanistan adalah seruan keras kepada semua orang bahwa perjuangan hak-hak perempuan di Afghanistan adalah perjuangan global,” ujar Alison Davidian, Perwakilan UN Women di Afghanistan.
Bali Message
Konferensi Internasional tentang Pendidikan Perempuan Afghanistan digelar untuk pertama kalinya di Bali pada 8 Desember 2022. Dipimpin bersama oleh Indonesia dan Qatar, forum ini diikuti oleh perwakilan dari 38 negara, empat organisasi internasional, sembilan NGO dan bisnis, serta sembilan figur dan akademisi perempuan terkemuka.
Konferensi tersebut menghasilkan deklarasi bersama yang disebut Bali Message, di antaranya sebagai berikut:
- Dukungan kuat untuk setiap inisiatif dan upaya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi realisasi dialog menuju perdamaian yang berkelanjutan.
- Perempuan dan anak perempuan adalah kunci pembangunan, perdamaian, dan kemakmuran Afghanistan.
- Dukungan yang kuat untuk menghormati hak-hak perempuan dan anak perempuan di Afghanistan, termasuk hak atas pendidikan.
- Upaya serius dan tindakan nyata untuk memperluas peluang dan akses bagi perempuan dan anak perempuan Afghanistan untuk mendapatkan manfaat yang sama dari pendidikan formal pada semua tingkatan dan berbagai metode pembelajaran, termasuk metode tatap muka, virtual, dan jarak jauh.
- Menggalang dukungan internasional dan mewujudkan sistem pendidikan dan pelatihan yang inklusif di Afghanistan, khususnya bagi perempuan dan anak perempuan.
“Ini hanyalah awal dari perjalanan panjang kita. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa semua komitmen yang disampaikan dalam konferensi ini benar-benar dilaksanakan,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB