Survei PPIM UIN Jakarta: Green Islam yang Masih Setengah Hati dan Elitis
30 September 2024
Foto: Humoyun Mehridinov di Wikimedia Commons.
Agama memberikan landasan spiritual dan moral dalam menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Nilai-nilai universal agama telah menjadi elemen penting dalam menjaga harmoni antara manusia dengan alam. Kini, di tengah tantangan lingkungan yang semakin meningkat dan kompleks akibat perubahan iklim, komunitas agama-agama di dunia mulai memperkenalkan gagasan-gagasan spiritualisme dan etika lingkungan dengan istilah yang “lebih kekinian”, salah satunya “Green Islam”. Lantas, sejauh apa perkembangan Green Islam di Indonesia?
Hasil survei nasional 2024 tentang Green Islam yang dirilis oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta) mencoba menjawab pertanyaan itu dengan mengeksplorasi pengetahuan, sikap, dan perilaku umat Islam di Indonesia mengenai isu lingkungan dan perubahan iklim.
Agama dan Lingkungan Hidup
Agama dan komunitas agama dapat berkontribusi dalam menumbuhkan kesadaran mengenai masalah lingkungan dan mendorong aksi Iklim di tengah masyarakat. Sebuah penelitian menunjukan adanya peningkatan aktivisme lingkungan dan aksi iklim yang lahir atas inisiatif komunitas agama. Salah satu contohnya adalah Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) yang mengajak masyarakat untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan melakukan sedekah berupa sampah plastik di masjid.
Meski demikian, dalam lingkup komunitas umat beragama yang lebih luas, kesadaran mengenai pentingnya melestarikan lingkungan, terlebih yang mewujud ke dalam aksi-aksi lingkungan serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, masih relatif minim. Kurangnya pengetahuan hingga masalah kesejahteraan, dimana banyak umat beragama yang masih berjibaku untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar, termasuk faktor utama yang menyebabkan kondisi demikian.
Potret Green Islam di Indonesia
Green Islam merujuk pada gagasan yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan kesadaran dan perilaku lingkungan. Di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata dan parah di berbagai tempat, gagasan Green Islam mulai berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Namun, konsep ini masih belum banyak diketahui dan diterapkan oleh komunitas muslim di Indonesia karena keterbatasan pengetahuan mengenai isu-isu lingkungan serta belum meratanya kesejahteraan.
Survei mengenai Green Islam oleh PPIM UIN Jakarta mengungkap bahwa isu lingkungan dan perubahan iklim belum menjadi kekhawatiran utama di kalangan muslim Indonesia. Isu lingkungan berada di urutan keempat di bawah kriminalitas, kesehatan, dan korupsi; sementara perubahan iklim berada di urutan ketujuh, dan tidak dianggap lebih mendesak dibandingkan isu radikalisme & terorisme dan pekerjaan.
Survei tersebut juga menemukan kurangnya pengetahuan umat muslim di Indonesia mengenai aksi yang diperlukan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Meski 70,43% muslim telah mengetahui atau pernah mendengar tentang perubahan iklim, namun 80% muslim belum mengetahui tentang transisi energi. Adapun dari beberapa persen muslim yang tahu, masih banyak yang belum memahami transisi energi dengan tepat.
Selain kurangnya pengetahuan, survei tersebut juga menemukan adanya dualitas sikap atau pandangan umat muslim terkait faktor-faktor yang menyebabkan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Meski 59.82% muslim Indonesia setuju bahwa kegiatan ekonomi seperti pertambangan dan perkebunan sawit turut berkontribusi terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, 63.83% muslim Indonesia juga setuju jika pesantren atau organisasi masyarakat (ormas) memiliki usaha pertambangan atau perkebunan sawit untuk mendukung/meningkatkan kondisi ekonomi organisasi.
Lebih lanjut, survei tersebut juga menemukan bahwa mayoritas muslim di Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari kalangan ormas seperti NU dan Muhammadiyah, masih belum banyak tahu tentang isu-isu dalam Green Islam, seperti ekopesantren, Fatwa MUI tentang lingkungan, dan fiqih penanggulangan sampah plastik. Mayoritas muslim Indonesia juga tidak setuju dengan beberapa isu terkait gerakan Green Islam, seperti efisiensi pemakaian air wudhu di masjid, pengharaman membuang sampah plastik sembarangan, penggunaan dana zakat untuk membiayai aksi iklim, dan pengharaman penambangan dan penebangan pohon di hutan.
Selain itu, mayoritas muslim juga masih kurang mempraktikkan aksi lingkungan yang memerlukan biaya seperti berdonasi atau yang memerlukan komitmen lebih seperti berpartisipasi dalam kampanye lingkungan, mendaur ulang sampah, dan menandatangani petisi.
Masih Elitis dan Kurang Sosialisasi
Secara garis besar, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa perilaku dan gerakan Green Islam di Indonesia masih “setengah hati” dan terkonsentrasi di kelompok “elite” atau kalangan kelas ekonomi menengah ke atas, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding muslim dengan ekonomi kelas menengah bawah atau tergolong kelompok miskin dan rentan miskin.
Selain faktor kesejahteraan yang belum merata, minimnya perilaku dan gerakan Green Islam di Indonesia juga berkaitan dengan kurangnya sosialisasi yang efektif di kalangan umat Islam, termasuk di mimbar-mimbar keagamaan. Dalam hal ini, isu-isu lingkungan dan perubahan iklim serta masalah sosial mendesak lainnya masih relatif sangat jarang disampaikan di dalam ceramah keagamaan. Adapun organisasi lingkungan belum mampu berperan signifikan dalam pembentukan perilaku ramah lingkungan selain di kalangan muslim Gen Z dan Milenial.
Memperkuat Green Islam di Indonesia
Sebagai penduduk mayoritas, umat beragama di Indonesia dapat memainkan peran penting dalam pembangunan berkelanjutan, yang tidak terbatas pada aksi-aksi iklim dan pelestarian lingkungan. Dalam hal ini, gagasan Green Islam dapat menjadi salah satu petunjuk yang penting.
Survei tersebut memberikan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat perilaku dan gerakan Green Islam di Indonesia, di antaranya:
- Kerjasama lintas sektor yang melibatkan tokoh dan pemuka agama, institusi, dan organisasi keagamaan dalam merespons isu lingkungan dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.
- Menginisiasi kebijakan yang mendorong perilaku ramah lingkungan dengan mempertimbangkan insentif ekonomi. Hal ini penting mengingat perilaku ramah lingkungan masih terkonsentrasi di kalangan kelas sosial ekonomi menengah ke atas.
- Meningkatkan ruang-ruang perjumpaan dan kerjasama lintas agama dalam merespons isu lingkungan untuk memperkuat toleransi sekaligus meningkatkan kepedulian lingkungan di antara kalangan komunitas agama yang beragam.
- Melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan agen sosialisasi dalam mendorong kesadaran ramah lingkungan.
- Melibatkan agen sosialisasi popular seperti influencer dan media dalam mengarusutamakan isu lingkungan dan keadilan iklim.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
-
Abul Muamar
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut