Mengatasi Kemiskinan Multidimensi dari Sudut Pandang Anak
Foto: Freepik.
Kemiskinan bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan bersifat struktural dan multidimensi. Oleh karena itu, memandang kemiskinan hanya berdasarkan ketidakmampuan finansial merupakan penyederhanaan yang kurang tepat. Di seluruh dunia, upaya pemberantasan kemiskinan telah dilakukan selama bertahun-tahun, namun kemiskinan masih tetap eksis di mana-mana, termasuk di Indonesia. Sudut pandang yang acapkali terbatas pada perspektif tertentu–dalam hal ini orang dewasa–merupakan salah satu faktor kunci mengapa kemiskinan multidimensi sulit diberantas.
Kemiskinan Multidimensi
Kemiskinan bisa sangat dekat dengan kehidupan kita, bahkan mungkin tersebar di sekitar kita. Penduduk miskin, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, pada intinya sama-sama kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, bahkan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan dan tempat tidur.
Namun, kemiskinan bukan hanya tentang itu. Kemiskinan mencakup banyak hal, termasuk kesehatan yang buruk, kurangnya akses ke pendidikan, hilangnya sumber daya alam, dan lingkungan hidup yang rusak; dan itulah yang disebut sebagai kemiskinan multidimensi. Kini, kemiskinan semakin sulit untuk diatasi akibat ketimpangan yang terus merajalela serta perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan risiko bencana alam, krisis pangan, degradasi ekosistem, hingga krisis pendidikan dan layanan kesehatan. Jika kita menunjuk siapa yang paling merasakan dampaknya, mereka adalah yang tergolong ke dalam kelompok rentan, termasuk anak-anak.
Sayangnya, upaya pengentasan kemiskinan multidimensi masih kurang melibatkan sudut pandang anak-anak.
Kemiskinan Anak di Indonesia
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada tahun 2022, persentase anak miskin di Indonesia mencapai 11,8 persen. Anak-anak berusia 0-4 tahun mengisi porsi tertinggi dibanding kelompok usia anak lainnya, yakni mencapai 12,64%, diikuti oleh anak usia 5-9 tahun (12,06%), usia 10-14 tahun (11,44%), dan usia 15-17 tahun (10,15%).
Demografi dan karakteristik rumah tangga sangat berpengaruh terhadap kemiskinan anak di Indonesia. Persentase anak miskin jauh lebih tinggi pada anak yang tinggal di rumah tangga dengan jumlah anggota yang lebih banyak. Selain itu, persentase anak miskin di rumah tangga dengan kepala rumah tangga (KRT) perempuan lebih tinggi daripada rumah tangga dengan KRT laki-laki.
Tingkat pendidikan dan disabilitas juga berpengaruh terhadap kemiskinan anak. Anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan KRT yang tidak mampu baca-tulis memiliki risiko mengalami kemiskinan hampir 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak di rumah tangga dengan KRT yang mampu baca-tulis. Sementara itu, anak yang tinggal di rumah tangga dengan KRT penyandang disabilitas akan lebih sulit untuk dapat keluar dari kemiskinan. Hal tersebut tercermin dari indeks kedalaman kemiskinannya yang mencapai empat kali lipat dibanding anak yang tinggal di rumah tangga dengan KRT bukan penyandang disabilitas.
Sebagai dampak dari kemiskinan yang mereka alami, banyak anak-anak miskin yang terpaksa memilih bekerja ketimbang sekolah. Mereka bekerja—seringkali di sektor-sektor informal dengan keterampilan rendah—untuk memperoleh uang jajan atau membantu orang tua mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun mirisnya, anak-anak yang bekerja rentan terhadap berbagai risiko, mulai dari kecelakaan hingga pelecehan seksual.
Kemiskinan dari Sudut Pandang Anak-anak
Kemiskinan memengaruhi aspek material dan nonmaterial dalam kehidupan seorang anak. Laporan yang diterbitkan oleh SMERU Research Institute mengungkap bahwa cara anak-anak menggambarkan pengalaman mereka berbeda-beda di antara kelompok gender dan usia. Anak-anak di usia yang lebih muda cenderung berfokus pada aspek material, sementara anak-anak yang lebih tua memiliki lebih banyak paparan terhadap lingkungan sosial dan mulai mengenali status sosial. Penelitian tersebut menemukan bahwa anak perempuan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah karena mereka bertanggung jawab atas pekerjaan domestik, sementara anak laki-laki lebih cenderung menghabiskan waktu mereka di luar rumah untuk berkumpul dengan teman-teman atau bekerja.
Dalam penelitian tersebut, anak-anak menggunakan berbagai indikator material dan nonmaterial dalam menilai tingkat kesejahteraan. Untuk material, mereka menilai mulai dari kondisi rumah, kepemilikan benda-benda seperti kendaraan bermotor dan telepon seluler, penampilan fisik, hingga uang. Untuk indikator nonmaterial, mereka menggunakan jenis pekerjaan, hubungan dan perilaku sosial, serta kualitas hubungan dengan orang tua untuk mengidentifikasi dan mengukur kemiskinan. Di mata mereka, anak-anak miskin biasanya diidentifikasi sebagai anak-anak yang nakal, pemalas, dan enggan belajar; memiliki orang tua penganggur atau memiliki pekerjaan informal; serta memiliki hubungan yang buruk atau menyedihkan dengan orang tua mereka karena kurangnya kuantitas dan kualitas waktu bersama.
Menurut laporan tersebut, hubungan antara orang tua dan anak-anak dalam keluarga miskin dipengaruhi secara negatif tidak hanya oleh masalah keuangan, tetapi juga kurangnya kemampuan dalam menangani anak-anak. Sebagai contoh, orang tua dalam keluarga miskin tidak dapat mengalokasikan waktu yang cukup untuk memiliki keterlibatan yang bermakna dengan anak-anak mereka karena dipaksa bekerja berjam-jam di luar rumah. Tinggal di komunitas miskin juga membuat anak-anak rentan terhadap pengaruh sosial dan lingkungan yang negatif, serta lebih rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan.
Pelajaran Berharga
Menempatkan anak-anak sebagai sumber pengetahuan dapat memberikan wawasan berharga dalam berbagai persoalan, termasuk dalam upaya pengentasan kemiskinan yang bersifat multidimensi. Laporan tersebut memberikan sejumlah pelajaran berharga yang dapat menjadi masukan bagi para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak:
- Anak-anak mampu mengidentifikasi kemiskinan secara komprehensif dalam berbagai aspek. Mereka dapat dengan jelas membedakan indikator kemiskinan dari aspek material dan nonmaterial serta hal-hal yang berwujud dan tidak berwujud.
- Mengabaikan suara anak berarti mengabaikan kesejahteraan mereka. Selama ini, anak-anak merasa inferior saat ingin mengutarakan pengalaman mereka kepada orang tua. Pada saat yang sama, mereka juga sering dianggap belum memiliki kapasitas yang memadai untuk membahas suatu urusan secara serius sehingga pendapat mereka sering diabaikan atau tidak didengar.
- Prinsip inklusivitas harus menjadi kunci utama untuk mengentaskan kemiskinan. Pahami kebutuhan mereka lebih dekat, libatkan mereka sebagai bahan pertimbangan saat mengambil keputusan, dan ungkapkan alasan ketika keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara adil.
- Kemiskinan yang dihadapi keluarga merupakan akar permasalahan anak. Artinya, keluarga, khususnya orang tua, harus menjadi bagian integral dalam upaya pengentasan kemiskinan anak.
- Banyak orang tua dari keluarga miskin yang menganggap bahwa bekerja keras dapat membantu mereka dalam menghidupi anak-anak mereka. Anggapan ini perlu dipertimbangkan karena banyak anak yang menganggap perhatian orang tua sebagai indikator kesejahteraan yang paling penting.
- Pemerintah perlu mengatasi biaya tersembunyi yang terkait dengan program perlindungan sosial, di samping menyediakan fasilitas dan infrastruktur publik yang memadai.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan