Potensi Investasi Berdampak untuk Atasi Tantangan Sosial dan Lingkungan
Foto: Freepik.
Praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang serius di banyak tempat. Pada saat yang sama, ketimpangan sosial-ekonomi terus memperburuk kualitas hidup banyak orang dan menghambat terciptanya kesejahteraan untuk semua. Kondisi ini menuntut langkah konkret yang tidak hanya untuk menghentikan dampak buruk, tetapi juga mendorong perubahan positif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan strategis yang mampu menciptakan keseimbangan antara keuntungan bisnis dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam hal ini, investasi berdampak (impact investing) muncul sebagai salah satu instrumen potensial untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, mengurangi ketimpangan sosial, dan menciptakan keseimbangan baru.
Krisis Lingkungan
Indonesia tengah menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang serius, mulai dari deforestasi hingga pengelolaan sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab. Data menunjukkan bahwa deforestasi di Indonesia mencapai ratusan ribu hektare setiap tahunnya setidaknya sejak 2001. Alih fungsi hutan untuk kepentingan industri ekstraktif, pertanian monokultur, dan sebagainya merupakan salah satu pendorong utama deforestasi di Indonesia, yang turut menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati. Bahkan, industri dengan klaim mendukung transisi energi, seperti kendaraan listrik, juga turut berkontribusi.
Selain itu, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa Indonesia telah kehilangan hingga 26 juta ton ikan setiap tahun akibat praktik penangkapan ilegal, yang tidak hanya mengancam keberlanjutan sumber daya ikan, tetapi juga merusak ekosistem laut secara luas. Penangkapan ikan ilegal seringkali melibatkan penggunaan alat tangkap yang destruktif, seperti pukat harimau dan bom ikan yang dapat menghancurkan terumbu karang dan dasar laut, serta mengurangi populasi spesies laut yang penting. Selain itu, masalah sampah laut juga semakin memperburuk keadaan, dengan plastik dan limbah lainnya mencemari perairan, merusak ekosistem laut dan mengancam kesehatan manusia.
Praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab juga telah menyebabkan pencemaran sungai di banyak tempat, dengan limbah industri dibuang ke dalam aliran sungai. Selain itu, sistem pertanian di banyak daerah yang melibatkan pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan serta penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya, telah menyebabkan degradasi lahan dan pencemaran air tanah dan sungai yang meluas.
Environmental Performance Index (EPI) 2024 menempatkan Indonesia di peringkat ke-162 dari 180 negara, dengan skor hanya 33,8 dari 100. Di Asia Tenggara, Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia.
Investasi Berdampak
Untuk menghadapi tantangan ini, investasi berdampak muncul sebagai solusi potensial. Investasi berdampak merujuk pada investasi yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan finansial seraya memberikan manfaat sosial dan lingkungan. Pendekatan ini dapat mendorong bisnis untuk lebih bertanggung jawab dalam operasional mereka, mengurangi dampak negatif terhadap alam, dan membuka peluang baru untuk inovasi dalam teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Di Indonesia, investasi berdampak mulai berkembang sejalan dengan arus global yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan laporan Global Impact Investing Network, 88% investor investasi berdampak melaporkan bahwa investasi mereka tidak hanya memenuhi ekspektasi keuntungan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang nyata. Dengan memprioritaskan manfaat sosial dan lingkungan jangka panjang, investasi berdampak dapat menarik para investor yang tidak hanya mengincar keuntungan finansial.
“Investasi berdampak mencakup sektor-sektor seperti energi terbarukan, pertanian, kehutanan, perikanan, dan pengelolaan limbah. Tujuannya bukan hanya investment return, tetapi juga social dan environmental return yang terukur. Berbeda dari donasi, investasi berdampak tetap menggunakan prinsip pasar dan keuangan untuk menjaga keberlanjutan usaha,” ujar Fikri Syaryadi, pegiat investasi berdampak.
Tantangan
Namun, para investor di Indonesia sejauh ini cenderung enggan melirik investasi berdampak karena masih jarang terdengar reputasi baiknya dalam hal memberikan keuntungan finansial. Hal ini juga berlaku di sektor UMKM yang memainkan peran besar dalam perekonomian Indonesia, namun seringkali menghadapi kerentanan karena kendala finansial. Pada gilirannya, kendala keuangan tidak hanya akan membuat bisnis sulit bertahan, tetapi juga dapat memicu kerusakan lingkungan yang lebih luas karena bisnis yang memiliki keterbatasan pendanaan seringkali mengurangi pengeluaran untuk praktik berkelanjutan dan teknologi ramah lingkungan.
Sebuah studi menunjukkan bahwa tanpa akses modal yang memadai, bisnis cenderung mengabaikan investasi dalam infrastruktur rendah karbon atau pengelolaan limbah yang efisien.
“Praktik bisnis berkelanjutan memerlukan modal awal yang besar, namun investor tradisional seringkali fokus pada keuntungan jangka pendek, sementara imbal balik dari investasi berdampak umumnya akan terjadi dalam jangka panjang. Hal ini menciptakan kendala keuangan yang menghambat pengembangan bisnis kecil di sektor sosial-lingkungan,” tutur Fikri.
Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
Keberhasilan investasi berdampak bergantung pada kolaborasi lintas-sektor. Beberapa langkah kunci yang dapat diambil adalah pembentukan kerangka regulasi yang jelas, pemberian insentif fiskal, serta penciptaan platform yang memungkinkan untuk berbagi pengetahuan dan membangun kapasitas. Selain itu, penting juga untuk mengembangkan kerangka pengukuran yang terstandarisasi untuk meyakinkan investor dalam menyalurkan dana ke proyek-proyek bisnis yang berfokus pada dampak sosial-lingkungan.
“Investasi berdampak adalah jembatan yang menghubungkan solusi lokal dengan tantangan global. Kolaborasi lintas sektor dapat menciptakan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Fikri.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan