6 Strategi Utama Penanganan Kanker di Indonesia
Foto: Angiola Harry di Unsplash.
Selama ini, banyak orang-orang secara umum lebih khawatir terhadap penyakit menular dan lebih panik saat menghadapinya. Padahal, penyakit tidak menular merupakan isu kesehatan yang sama seriusnya, salah satunya kanker. Di seluruh dunia kanker telah menjadi salah satu penyakit paling mematikan—setiap tahunnya, jutaan orang meninggal dunia akibat penyakit ini. Merespons hal ini, pemerintah telah meluncurkan Rencana Kanker Nasional 2024-2034 yang bertujuan untuk memperkuat upaya penanganan kanker di Indonesia.
Kanker di Indonesia
Kanker adalah kelompok penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan menyebar ke bagian tubuh atau organ lain. Kanker dapat muncul di hampir semua organ tubuh, dengan beberapa yang paling umum adalah kanker payudara, kanker leher rahim, kanker paru-paru, kanker hati, kanker usus besar (kolorektal), kanker ovarium, dan kanker kulit.
Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia, dengan perkiraan hampir mencapai 10 juta kematian pada tahun 2020. Di Indonesia, jumlah kasus kanker mencapai 348.809 pada tahun 2018 dan merenggut nyawa sebanyak 207.210 jiwa.
Strategi Penanganan Kanker 2024-2034
Rencana Kanker Nasional 2024-2034 mencakup enam strategi utama yang dirancang untuk memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pengelolaan kanker di Indonesia. Berangkat dari kesenjangan dan tantangan dalam penanganan kanker selama ini, serta pelajaran yang dipetik dari upaya yang telah dilakukan, berikut enam strategi utama yang disiapkan dalam dokumen tersebut:
1. Strategi promotif dan preventif:
- Meningkatkan kesiapan dan kapasitas pemerintah dalam program promotif dan preventif terkait faktor risiko kanker.
- Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kanker dan faktor risikonya.
- Membangun ekosistem yang mendukung perilaku hidup sehat masyarakat dalam mengurangi risiko kanker.
2. Strategi skrining dan deteksi dini:
- Meningkatkan kesiapan dan kapasitas fasilitas kesehatan dalam pelaksanaan skrining dan deteksi dini.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker melalui sosialisasi terpadu baik di layanan primer maupun rujukan.
- Meningkatkan persentase populasi yang telah melewati skrining dan deteksi dini pada kelima jenis kanker prioritas (kanker payudara, kanker paru, kanker kolorektal, kanker leher rahim, dan kanker anak).
- Mengurangi persentase jumlah pasien kanker yang terdeteksi pada stadium lanjut.
3. Strategi peningkatan akses diagnostik, tata laksana kanker, dan pelayanan paliatif:
- Kesiapan SDM yang berkualitas dengan jumlah memadai untuk memenuhi kebutuhan akses layanan dan tata laksana kanker, dari diagnosis hingga perawatan paliatif.
- Pemenuhan kebutuhan infrastruktur yang memadai untuk meningkatan akses layanan dan tata laksana kanker, dari diagnosis hingga perawatan paliatif.
- Meringankan beban kanker terhadap finansial individu melalui perluasan cakupan BPJS dan inovasi pendanaan.
- Pemerataan cakupan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) dengan akses layanan kanker lengkap, serta pemeliharaan kualitas dan kecukupan sesuai kebutuhan setiap provinsi.
- Peningkatan kapasitas dan kapabilitas layanan kesehatan siklus penuh untuk kanker lanjut.
4. Strategi penguatan registrasi kanker dan penelitian kanker:
- Kemantapan kesiapan platform dan SDM untuk implementasi integrasi data registrasi kanker.
- Memastikan kesiapan dan ketersediaan Komite Registrasi Kanker dan SDM yang memadai dan berkualitas.
- Implementasi registrasi kanker yang sistematis serta penelitian terkait kanker untuk mendukung analisa data kanker yang presisi untuk meningkatkan efektivitas pencegahan dan pengobatan kanker.
- Mempertahankan kesinambungan registrasi kanker yang sesuai dengan standar nasional dan internasional.
- Menyediakan layanan kanker yang presisi sesuai dengan faktor risiko berdasarkan data genomik.
5. Strategi kemitraan dengan pemangku kepentingan:
- Membangun fondasi ekosistem pemangku kepentingan tingkat nasional dan daerah.
- Memperkuat kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
- Memperkuat dan mencapai ekosistem kemitraan mandiri untuk pemenuhan kebutuhan layanan kanker.
6. Strategi tatakelola dan akuntabilitas pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian kanker:
- Membangun fondasi ekosistem tata kelola pencegahan dan penanggulangan kanker tingkat nasional dan daerah.
- Penguatan kapasitas SDM kesehatan dan pengelola program.
- Menjamin kebutuhan finansial nasional dan daerah yang memadai sesuai kapasitas dan berkelanjutan.
- Membangun tata kelola dan akuntabilitas yang dapat dipantau dan dievaluasi secara berkesinambungan.
- Menjamin tata kelola dan akuntabilitas yang optimal dan berkesinambungan dalam percepatan dan pengendalian kanker nasional.
Memperkuat Pencegahan
WHO menyatakan bahwa sekitar 30 hingga 50 persen kanker di dunia sejatinya dapat dicegah dengan menghindari faktor penyebabnya serta menerapkan strategi pencegahan berbasis bukti. Beban kanker juga dapat dikurangi melalui deteksi dini dan pengobatan serta perawatan kanker yang tepat bagi pasien. Bahkan, banyak jenis kanker yang memiliki peluang besar untuk disembuhkan jika didiagnosis sejak dini dan diobati dengan tepat.
Pada akhirnya, upaya penanganan masalah kesehatan masyarakat membutuhkan pendekatan komprehensif dalam aspek pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan perawatan. Memastikan akses yang merata dan inklusif terhadap layanan kesehatan yang berkualitas akan meningkatkan peluang deteksi dini. Kolaborasi multisektoral merupakan hal krusial untuk menciptakan kebijakan dan program-program yang mendukung pencegahan dan penanganan kanker.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB