Bagaimana Tabanan Menjaga Ketahanan Pangan
Foto: Shayan Ghiasvand di Unsplash.
Setiap hari, kita membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuh kita. Untuk menjamin makanan selalu tersedia bagi masyarakat, keamanan dan ketahanan pangan merupakan fondasinya. Di tengah perubahan iklim dan berbagai krisis lain yang tengah melanda, menjaga ketahanan pangan merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Di Indonesia, ada sejumlah daerah yang mampu menjaga ketahanan pangan, salah satunya adalah Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali.
Potret Ketahanan Pangan Indonesia
Lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan pokok, ketahanan pangan penting untuk memastikan kesehatan masyarakat dan menjaga kestabilan sosial, ekonomi, dan politik. Sayangnya, menjaga ketahanan pangan bukanlah hal sederhana. Selain faktor alam, ketahanan pangan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah, infrastruktur dan teknologi, akses terhadap sumber daya, hingga perubahan iklim. Hari ini, kerawanan pangan sedang mengintai di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di banyak daerah di Indonesia.
Menurut Global Food Security Index (GFSI) 2022, Indonesia berada di urutan ke-63 dari 113 negara, dengan skor 60,2. Indeks ketahanan pangan diukur berdasarkan empat indikator, yakni keterjangkauan pangan, ketersediaan pasokan, kualitas nutrisi dan keamanan makanan, serta keberlanjutan dan adaptasi. Meski mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, skor ketahanan pangan Indonesia masih di bawah rata-rata global (62,2).
Di Indonesia, setidaknya ada 74 daerah yang masuk kategori rentan mengalami kerawanan pangan. Lima di antaranya yang paling rentan adalah Kabupaten Nduga, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Puncak, dan Kabupaten Lanny Jaya, yang seluruhnya berada di Provinsi Papua.
Ketahanan Pangan Kabupaten Tabanan
Dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Tabanan menjadi daerah dengan nilai Indeks Ketahanan Pangan (IKP) terbaik se-Indonesia. Pada tahun 2022, Tabanan meraih skor IKP 92,20, diikuti Kota Denpasar (91,82), Kabupaten Badung (91,29) dan Kabupaten Gianyar (91,07). Ketahanan pangan Tabanan terutama ditopang oleh sektor pertanian, dengan beras sebagai komoditas utamanya.
Karena produksi berasnya yang tinggi, Tabanan dikenal sebagai lumbung berasnya Bali. Pada tahun 2022, misalnya, produksi beras Tabanan mencapai 95,4 ribu ton. Selain lingkungan tanah yang sehat, sistem irigasi yang efisien, serta pendampingan dan pemberdayaan petani lokal, tingginya produksi pertanian Tabanan tidak terlepas dari komitmen pemerintah daerahnya yang menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas.
Untuk menjaga ketahanan pangan, Pemkab Tabanan mengusung tiga strategi utama, yakni:
- Diversifikasi tanaman pangan. Tabanan mulai merambah produksi padi organik sejak tahun 2022, bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, dengan panen perdana sebanyak 9 ton pada Oktober 2023. Selain beras, Tabanan juga memproduksi pangan lain seperti jagung, kedelai, ubi kayu, dan ubi jalar, kacang-kacangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan.
- Program “Bangga menjadi Petani”, salah satunya dengan mengajak tenaga kerja yang terkena imbas penurunan aktivitas ekonomi di sektor pariwisata untuk menjadi petani dan ikut mengolah lahan sawah yang potensial.
- Larangan alih fungsi lahan pertanian untuk menjamin keberlanjutan hasil produksi pertanian, dan menerapkan denda bagi pelanggarnya.
Komitmen dan Tantangan
Apa yang dilakukan Tabanan mungkin tidak dapat diwujudkan di setiap daerah lain di Indonesia, terutama bila menyangkut faktor dan kondisi lingkungan. Namun, bagaimana komitmen Tabanan dalam menjaga ketahanan pangan patut untuk diadopsi. Sebab, ketahanan pangan juga bukan hanya tentang ketersediaan pangan secara fisik (baik itu dari pertanian, perikanan, peternakan, dsb.), melainkan juga menyangkut aksesibilitas, distribusi, stabilitas pasokan dan harga, pemanfaatan, serta kebijakan pangan.
Pada akhirnya, penting untuk diingat bahwa tantangan dalam menjaga ketahanan pangan akan semakin sulit di tengah perubahan iklim yang semakin intensif dan berbagai krisis lainnya. Untuk itu, upaya untuk mengantisipasi kerawanan dan kelangkaan pangan mesti diperkuat dengan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Meningkatkan investasi dalam pertanian berkelanjutan, diversifikasi sumber daya pangan, pengembangan infrastruktur yang tahan terhadap perubahan iklim, promosi kebijakan adaptasi dan mitigasi, serta penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan terhadap krisis pangan merupakan beberapa langkah yang dibutuhkan. Kolaborasi antar-sektor dan pemangku kepentingan juga sangat penting untuk menghadapi tantangan terkait pangan yang kompleks dan terus berkembang.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan