Kenaikan Harga Pangan Akibat Perubahan Iklim dan Transisi Energi
Foto: Azerbaijan Stockers di Freepik.
Sekilas, perubahan iklim mungkin dipersepsikan sekadar sebagai keadaan yang menyebabkan hari-hari yang semakin panas dan cuaca yang semakin sulit diprediksi. Kenyataannya, perubahan iklim jauh lebih mengkhawatirkan daripada itu dan dampaknya telah meluas ke banyak aspek yang menentukan keberlangsungan hidup umat manusia, termasuk soal harga pangan. Sebuah laporan dari Oxford Economics, bekerja sama dengan Food Industry Asia (FIA) dan ASEAN Food and Beverage Alliance (AFBA), memprediksi kenaikan harga pangan di Indonesia yang dapat mencapai 59% sebagai akibat dari perubahan iklim dan upaya transisi energi.
Perubahan Iklim dan Produksi Pangan
Perubahan iklim telah menimbulkan dampak serius terhadap produksi pangan dalam berbagai bentuk. Di sektor pertanian, salah satu yang paling menonjol adalah bergesernya musim hujan dan musim kemarau yang memengaruhi waktu dan pola tanam. Perubahan iklim juga meningkatkan intensitas kejadian cuaca ekstrem seperti El Niño dan La Niña, yang berdampak signifikan terhadap pertanian dan perikanan. Selain itu, meningkatnya kekeringan akibat cuaca ekstrem juga menyebabkan kelangkaan dan penurunan kualitas air, serta turut berdampak terdapat kualitas dan kesuburan tanah.
Sebagai akibatnya, perubahan iklim meningkatkan risiko gagal panen dan penurunan produktivitas pertanian, yang pada akhirnya menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga pangan, bahkan menimbulkan ancaman krisis pangan. Dalam banyak kondisi, kenaikan harga pangan juga dapat disertai dengan inflasi dan ketidakstabilan ekonomi, yang dapat memicu gejolak sosial dan politik.
Penting juga untuk digarisbawahi bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terjadi pada sektor pertanian, tetapi juga sistem produksi pangan yang lebih luas seperti pada peternakan, perikanan, kehutanan, dan lainnya. Pada bidang peternakan, misalnya, kekeringan dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas hewan ternak, dan bahkan dapat meningkatan potensi penyebaran wabah yang memicu kematian massal. Pada sektor kehutanan, perubahan iklim juga menurunkan kapasitas hutan sebagai sumber penghidupan bagi jutaan orang, terutama bagi masyarakat adat dan komunitas lokal.
Kenaikan Harga Pangan
Laporan Oxford Economics bertajuk “Perubahan Iklim dan Harga Pangan di Asia Tenggara 2024” memperkirakan bahwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim dapat mendorong kenaikan harga pangan di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Risiko kenaikan harga pangan ini semakin menguat akibat adanya kebutuhan mendesak untuk membiayai transisi energi. Dalam hal ini, transisi energi akan meningkatkan biaya energi, tenaga kerja, dan komponen lainnya yang dibutuhkan pada proses produksi dan distribusi pangan.
Berdasarkan analisis yang dituangkan dalam laporan tersebut, setiap peningkatan suhu rata-rata sebesar 1% akan mendorong kenaikan harga produksi pangan sebesar 1-2% di negara-negara ASEAN. Sementara itu, dalam skenario di mana dunia mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2050, biaya produksi pangan akan meningkat sebesar 31 hingga 59 persen. Sebagai negara yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil dan rentan terhadap fluktuasi harga pangan global, Indonesia diperkirakan akan mengalami dampak paling signifikan (59%) akibat kenaikan harga pangan tersebut, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (39%), Thailand (32%), dan Filipina (31%).
“Tanpa adanya koordinasi antara pemerintah dan industri, upaya untuk mencapai target emisi nol bersih berpotensi membuat nutrisi dasar menjadi tidak terjangkau bagi masyarakat,” kata S Yogendran, Penasihat Senior AFBA.
Urgensi Kerja Sama Pemerintah dan Industri
Dengan prediksi demikian, laporan tersebut menyerukan kepada pemerintah dan industri di kawasan ASEAN dan di seluruh dunia untuk bersama-sama mengatasi isu ketahanan pangan dan mengendalikan fluktuasi harga pangan, seraya tetap berkomitmen untuk memenuhi target iklim. Pemerintah di seluruh dunia dapat bekerja sama dengan pemerintah dan industri ASEAN untuk meningkatkan investasi pada pertanian berketahanan iklim, menyediakan keahlian finansial dan teknis dalam transisi energi, serta melibatkan pemerintah dan industri ASEAN dalam dialog global.
“Ini adalah isu global mengingat produsen makanan di ASEAN merupakan bagian tak terpisahkan dari rantai pasok global. Kenaikan harga pangan di kawasan ini berpotensi memicu inflasi di seluruh dunia. Oleh karena itu, semua pemerintah perlu memberikan dukungan, baik berupa keahlian maupun investasi kepada para pengambil kebijakan di ASEAN untuk mencari solusi,” imbuh Yogendran.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB