Mendorong Industri Tekstil dan Fesyen Berkelanjutan
14 Desember 2022
Foto oleh Rachel Claire di Pexels.
Pakaian adalah kebutuhan primer bagi manusia, digunakan untuk menutupi dan menghangatkan tubuh. Seiring perkembangan zaman, fungsi pakaian telah banyak mengalami pergeseran ke arah gaya hidup dan terkadang juga untuk menunjukkan status sosial.
Lalu, para produsen memproduksi pakaian secara masif dengan berbagai mode. Bagi sebagian besar orang di dunia, telah menjadi hal yang lazim bahwa seseorang memiliki puluhan koleksi pakaian. Dampak buruknya: produksi pakaian menjadi salah satu ancaman bagi lingkungan, terutama karena kandungan zat kimia berbahaya.
Untuk membuat satu celana jin saja, misalnya, dibutuhkan sekitar 7.500 liter air, atau setara dengan jumlah air yang diminum oleh rata-rata satu orang selama tujuh tahun. Industri pakaian menghasilkan 20 persen air limbah global setiap tahunnya dan menghasilkan satu truk sampah tekstil setiap detiknya.
Produksi pakaian dan alas kaki menyumbang 8% emisi gas rumah kaca (GRK) secara global. Emisi GRK dari industri pakaian diperkirakan akan meningkat hampir 50% pada tahun 2030 apabila pendekatan bisnis yang diterapkan saat ini terus dilanjutkan.
Karenanya, menciptakan industri tekstil dan pakaian yang berkelanjutan adalah hal yang mendesak demi keberlanjutan Bumi. Hal itu menjadi fokus pembahasan dalam Indonesia Sustainable Fashion Conference 2022 yang diselenggarakan oleh Rantai Tekstil Lestari (RTL), sebuah lembaga nirlaba tekstil di Indonesia.
Pentingnya Kolaborasi
Rantai Tekstil Lestari (RTL) merupakan perkumpulan para pemangku kepentingan dalam sektor industri tekstil dan fesyen yang peduli terhadap keberlanjutan (sustainability). RTL menggalang industri tekstil, para perancang busana, akademisi, dan masyarakat untuk mendukung transformasi industri tekstil dan fesyen Indonesia yang lebih berkelanjutan.
RTL memiliki empat tujuan, yakni:
- Membangun perilaku konsumen industri tekstil, produk tekstil dan fesyen Indonesia yang peduli lingkungan.
- Mempromosikan praktik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di sepanjang rantai nilai industri tekstil, produk tekstil dan fesyen.
- Menggalang kolaborasi di kalangan pelaku industri tekstil, produk tekstil dan fesyen serta pemangku kepentingan lainnya.
- Mengembangkan kapasitas dan pengetahuan dalam praktik-praktik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia menetapkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai salah satu sektor prioritas. Sektor ini menyumbang kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan PDB sebesar Rp35,17 triliun pada kuartal II tahun 2022. Industri TPT juga menyerap 3,65 juta tenaga kerja berdasarkan data Agustus 2021.
Potensi tersebut perlu dibarengi dengan upaya untuk melindungi Bumi dari kerusakan yang lebih parah. Beberapa produsen mulai menerapkan produksi pakaian yang lebih ramah lingkungan, namun dalam skala luas dan masif, fesyen berkelanjutan masih belum menjadi arus utama.
“Sustainable fashion tidak hanya sebuah tren yang muncul sesaat, kemudian lenyap. Transformasi ini nyata. Hanya dengan aksi kolaborasi, termasuk melakukan beberapa pilot project antar-stakeholders, Indonesia akan mampu mengatasi tantangan,” kata Ketua Umum RTL Basrie Kamba.
Upaya Pemerintah
Untuk mendorong industri tekstil dan produksi fesyen yang berkelanjutan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah melakukan beberapa upaya berikut:
- Memberi insentif pembelian mesin bagi industri penyempurnaan kain dan industri pencetakan kain, serta mesin/peralatan dengan teknologi 4.0.
- Menyiapkan SDM industri siap kerja melalui pendidikan vokasi yang fokus pada high-skill engineer.
- Meningkatkan konektivitas hulu ke hilir industri TPT melalui platform Indonesia Smart Textile Industry Hub (ISTIH).
- Mendirikan National Lighthouse sebagai benchmark implementasi industri 4.0 di tingkat perusahaan.
- Mengembangkan ekosistem industri special fiber, high quality yarn, dan functional clothing berbasis polyester, rayon, dan padat karya di Batang, Karawang, Riau, dan Brebes.
Mewujudkan industri tekstil dan fesyen berkelanjutan memerlukan upaya kolektif dan masif yang tidak meninggalkan siapapun. Dukungan teknologi dan infrastruktur bagi pelaku industri, serta penyebaran informasi dan edukasi yang mudah diakses bagi masyarakat, sangat penting untuk memastikan transisi menuju fesyen berkelanjutan berjalan dengan baik.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB