Obesitas di Indonesia Terus Melonjak
Foto: Joachim Schnürle di Unsplash.
Kesehatan kita sangat ditentukan oleh makanan yang kita konsumsi dan lingkungan pangan yang mendukungnya. Tubuh yang sehat membutuhkan pola makan dan lingkungan pangan yang sehat agar terhindar dari berbagai risiko penyakit kronis, termasuk obesitas. Sayangnya, fondasi kesehatan masyarakat tersebut tampaknya belum benar-benar terwujud, yang ditunjukkan oleh melonjaknya angka obesitas di Indonesia dari tahun ke tahun.
Obesitas yang Terus Meningkat
Perihal berat badan berlebih, dalam dunia kesehatan dikenal dua istilah yang saling berkaitan, yakni overweight (kelebihan berat badan) dan obesitas. Perbedaannya pada ukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan IMT di atas 25 dikategorikan sebagai overweight, dan IMT di atas 30 dikategorikan sebagai obesitas. Singkatnya, obesitas adalah kondisi yang lebih parah dari overweight.
WHO mengklasifikan obesitas sebagai penyakit kronis yang diakibatkan oleh kombinasi kompleks antara genetika, neurobiologi, perilaku makan, akses terhadap pola makan sehat, kekuatan pasar, dan faktor lingkungan yang lebih luas. Dalam beberapa dekade terakhir, obesitas telah meluas secara global seiring perubahan pola makan, aktivitas fisik, serta perilaku masyarakat dan individu yang didorong oleh globalisasi dan sistem pangan industrial. Faktor-faktor ini telah menciptakan lingkungan yang semakin obesogenik, yang menyebabkan krisis kesehatan masyarakat dunia saat ini dengan lebih dari 1 miliar orang hidup dengan obesitas dan prevalensinya terus meningkat di hampir setiap negara.
Di Indonesia sendiri, angka obesitas juga terus melonjak. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan prevalensi obesitas dewasa naik dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Berdasarkan gender, angka obesitas pada perempuan lebih tinggi (44,4%) dibandingkan laki-laki (26,6%).
Angka yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada kasus obesitas anak. Pada 2018, sebanyak 20% (sekitar 7,6 juta) anak usia sekolah dan 14,8% (3,3 juta) remaja hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Angka ini terus melonjak dari tahun ke tahun. World Obesity Atlas 2026 mencatat sebanyak 7.111 juta anak usia 5-9 tahun dan 11.419 anak usia 10-19 tahun hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas pada 2025.
Beberapa Faktor Utama
Laporan UNICEF mengungkap beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan ini. Salah satu yang paling menonjol adalah tingginya paparan terhadap makanan dan minuman tinggi gula, garam, lemak (GGL), terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Makanan dan lingkungan pangan di Indonesia yang semakin obesogenik, yang ditandai dengan maraknya penyebaran makanan cepat saji dengan gerai ritel modern yang tumbuh secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir, membuat makanan dan minuman tinggi GGL tersedia luas dan semakin terjangkau di seluruh Indonesia. Pada saat yang sama, makanan alami dan sehat semakin sulit dijangkau karena kenaikan harga yang konsisten.
Faktor lainnya adalah tingkat aktivitas fisik yang rendah, dengan 57% anak-anak dan remaja serta 27,7% orang dewasa tidak memenuhi rekomendasi WHO tentang kebutuhan aktivitas fisik. Kurangnya ketersediaan dan kualitas infrastruktur pendukung, ditambah dengan masalah kerusakan lingkungan dan polusi udara, turut membatasi kemungkinan untuk melakukan aktivitas fisik di luar ruangan dengan aman. Selain itu, waktu layar (screen time) serta penggunaan internet dan media sosial yang tinggi, turut berkontribusi dalam penurunan aktivitas fisik serta meningkatkan paparan pemasaran makanan berbahaya.
Kurangnya Kebijakan
Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengungkap bahwa lingkungan kebijakan yang mendukung untuk pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia juga masih tertinggal. Meski terdapat beberapa inisiatif, kesenjangan dalam kebijakan dan program yang bertujuan untuk menciptakan tindakan transformatif jangka panjang masih cukup besar.
Misalnya, belum ada instrumen fiskal di Indonesia yang mengenakan cukai atas makanan dan minuman tinggi GGL. Secara khusus, tidak ada cukai yang diberlakukan untuk minuman berpemanis gula, padahal langkah ini memiliki efek kesehatan masyarakat yang sudah terbukti di negara-negara lain di kawasan yang telah mengadopsinya, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan banyak negara kepulauan Pasifik. Selain itu, tidak ada insentif untuk mendorong konsumsi makanan sehat, misalnya, subsidi tanaman pangan bergizi atau kebijakan pengadaan pangan publik di sekolah atau lingkungan kerja yang terkait dengan pedoman pola makan berbasis makanan nasional. Pada saat yang sama, meski sudah ada beberapa peraturan tentang pemasaran makanan dan minuman tinggi GGL, penegakannya masih terbatas, yang terlihat dari banyaknya industri makanan dan minuman yang tidak patuh.
Lebih lanjut, laporan tersebut menyoroti kurangnya harmonisasi peraturan untuk mempromosikan lingkungan pangan yang sehat di sekolah, untuk memastikan bahwa makanan kantin sekolah mematuhi standar gizi yang baik dan bahwa penjualan makanan ultra proses yang tidak sehat di dalam dan sekitar sekolah harus dibatasi. Selain itu, kebijakan untuk mendukung gaya hidup aktif, misalnya, untuk mendorong bersepeda atau berjalan kaki, yang disertai dengan ketersediaan infrastruktur mobilitas aktif, juga masih sangat kurang.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa peningkatan prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas juga menyasar kelompok yang biasanya tidak dianggap berisiko, termasuk rumah tangga berpenghasilan rendah dan penduduk pedesaan, serta di daerah-daerah yang masih dipengaruhi oleh tingkat stunting dan wasting yang tinggi.
Kondisi ini semakin diperparah oleh rendahnya kesadaran tentang pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas, serta kesenjangan yang lebar dalam kajian ilmiah tentang kelebihan berat badan dan masalah terkait, misalnya bagaimana kondisi ini memunculkan intimidasi, stigma, dan kesehatan mental.
Memprioritaskan Pencegahan dan Rekomendasi Lainnya
Dengan berbagai temuan tersebut, laporan UNICEF menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas. Untuk memperkuat pencegahan, ada beberapa tindakan menyeluruh yang perlu dilakukan, antara lain memperkuat komitmen dan memobilisasi dana; membangun mekanisme lintas sektoral dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mempromosikan kesadaran, berbagi pengetahuan, dan koordinasi; memastikan kajian ilmiah yang berkualitas untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan; meningkatkan kesadaran untuk mendukung pemahaman yang kuat tentang kelebihan berat badan dan obesitas dan masalah terkait, serta strategi pencegahan yang efektif.
Laporan tersebut juga memberikan rekomendasi gizi spesifik di seluruh domain sistem kesehatan dan pangan, di antaranya:
- Menerapkan cukai minuman berpemanis gula untuk mengurangi konsumsi dan mendorong reformulasi produk.
- Memperkuat pemantauan dan penegakan peraturan penjualan dan pemasaran makanan dan minuman tinggi GGL yang ada, termasuk di dalam sekolah dan pengecer makanan, dan bekerja sama dengan perusahaan di sektor internet dan media sosial untuk membatasi pemasaran melalui saluran mereka.
- Meningkatkan skema pelabelan gizi sederhana di bagian depan kemasan (FOPNL) dengan memperluas cakupannya, menjadikannya wajib dan menerapkan insentif untuk mendorong adopsi dan menetapkan skema dengan manfaat kesehatan masyarakat yang ditunjukkan, terutama logo dan label peringatan.
- Memperkuat kapasitas tenaga kesehatan untuk memberikan layanan konseling untuk meningkatkan pencegahan kelebihan berat badan.
- Memperkuat sistem data untuk memfasilitasi skrining dan rujukan anak-anak dengan risiko kelebihan berat badan, serta pemantauan dan evaluasi program.
Pada akhirnya, untuk dapat mencapai tujuan tersebut, laporan tersebut menekankan urgensi kebijakan dan program yang ambisius untuk memastikan terciptanya perubahan jangka panjang dan skala besar. Dalam hal ini, perbaikan lingkungan pangan, termasuk dengan mengarusutamakan makanan alami (real food) dan menyediakan dukungan fiskal agar semua orang dapat mengaksesnya, adalah salah satu langkah utama yang paling dibutuhkan.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Memudarnya Warna Kupu-Kupu Akibat Deforestasi dan Perubahan Iklim, Apa Dampaknya?
Mendorong Transformasi Industri Peternakan dengan Pendekatan berbasis Sains
Hak untuk Tetap Dingin dan Maknanya bagi Masyarakat Adat Inuit
Menakar Peran Hunian Vertikal berbasis TOD di Tengah Krisis Perumahan
Derita di Balik “Kedermawanan” Industri Tembakau bagi Perempuan
Mengutamakan Pencegahan Sampah Makanan dalam Pengelolaan Limbah MBG