CoE EARE Dorong Transformasi Pendidikan Vokasi dengan Pelatihan untuk Guru & Siswa
Para siswa di Pusat Keunggulan SMK Negeri 2 Depok. | Foto: Coe EARE.
Setiap orang berhak atas pekerjaan untuk menjalani hidup. Namun, pengangguran masih ada di berbagai tempat, dan hal itu berpotensi memperlebar jurang ketimpangan dan menambah angka kemiskinan. Untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan merupakan modal penting. Salah satu jenis pendidikan yang dinilai mampu menjawab tantangan di pasar kerja adalah pendidikan vokasi.
Kini di tengah krisis iklim dan kerusakan lingkungan, berbagai pihak mulai mendorong terciptanya pekerjaan hijau (green jobs) yang disebut-sebut sebagai pekerjaan masa depan. Pusat Keunggulan untuk Listrik, Automasi, dan Energi Terbarukan (Center of Excellence in Electricity, Automation, and Renewable Energy/CoE EARE) hadir untuk menjawab tantangan tersebut. CoE EARE terbentuk dalam kerangka kemitraan antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Kementerian Pendidikan Perancis, serta Schneider Electric yang terjalin sejak Agustus 2017.
Masalah Pendidikan Vokasi di Indonesia
Secara umum, pendidikan vokasi merupakan pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan khusus di suatu bidang agar siap bersaing di pasar kerja. Bagi sebagian orang, pendidikan vokasi mungkin memberikan harapan. Namun, pendidikan vokasi tidak serta menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan. Faktanya, lulusan pendidikan vokasi tetap menyumbang pengangguran, terutama lulusan SMK dan diploma.
Mendikbudristek Nadiem Makarim menyebut bahwa hal itu disebabkan karena pendidikan vokasi di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, antara lain berupa kurikulum yang tidak selaras dengan kebutuhan industri; kualitas guru dan lulusan yang masih rendah; hingga masalah sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang tidak memadai. “Termasuk juga kurang kerja sama dengan perusahaan lembaga pemerintah dan dunia industri,” kata Nadiem.
Program CoE EARE
CoE EARE memberikan pelatihan untuk para guru, teknisi, dan siswa dari berbagai sekolah vokasi dengan keterampilan dan wawasan di bidang instalasi listrik, automasi industri, dan energi terbarukan. Pusat pelatihan ini memberikan pengalaman kepada para guru, teknisi, dan siswa untuk melihat langsung sistem produksi di pabrik Schneider Electric. Sejak 2017, ada 402 tenaga pendidikan (guru dan teknisi) yang telah mendapatkan pelatihan komprehensif dari pusat pelatihan ini.
Selain itu, CoE EARE mendorong kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk menghasilkan berbagai inovasi dan memastikan lulusan sekolah vokasi siap menghadapi tantangan di sektor energi yang terus berkembang. CoE EARE juga meningkatkan fasilitas di 144 laboratorium SMK Pusat Keunggulan di bidang listrik, automasi, dan energi terbarukan di berbagai daerah di Indonesia untuk meningkatkan kompetensi siswa di bidang-bidang tersebut.
“Kami bercita-cita mengembangkan program kerja sama lebih lanjut antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis dengan melibatkan industri lain yang relevan dengan pendidikan kejuruan berstandar industri,” kata Supriyono, pelaksana program CoE EARE.
Tantangan Masa Depan
Segala sesuatu berubah dan tak ada yang tinggal tetap, kata Herakleitos. Dunia kerja pun turut mengikuti perubahan yang terjadi. Seiring perkembangan teknologi yang terus berlanjut serta berbagai krisis yang melanda dunia, membekali guru dan pelajar dengan keterampilan yang tepat merupakan langkah krusial untuk mendukung kesejahteraan mereka, baik sekarang maupun di masa depan.
“CoE EARE telah membantu transformasi pendidikan vokasi di Indonesia dengan memberikan pelatihan dan pendidikan berkualitas tinggi. Pusat pelatihan ini telah membekali siswa dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh angkatan kerja modern. Melihat ke depan, kita perlu memperkuat kemitraan melalui pertukaran pelajar dan profesional, penelitian bersama, dan magang. Kemitraan akan memastikan bahwa kita dapat mengembangkan tenaga kerja yang terampil, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Kiki Yuliati.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan